Belajar dari Sastra India Tentang Ketegangan Sosial dan Budaya - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kumpulan Cerpan Saloni Narang

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 2 Juli 2019 13:12 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Belajar dari Sastra India Tentang Ketegangan Sosial dan Budaya

    Dibaca : 295 kali

    Judul: Gelang Warna-Warni

    Judul Asli: The Coloured Bangles, and Other Stories

    Penulis: Saloni Narang

    Penterjemah: Marianne Katoppo

    Tahun Terbit: 1990

    Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

    Tebal: xx + 115

    ISBN: 979-461-064-X

     

    Membaca karya sastra India bagi kira orang Indonesia adalah sangat penting. Sebab sastra India menggambarkan dinamika masyarakat India yang berbhineka, seperti halnya Indonesia. Seperti halnya Indonesia, keragaman suku, budaya, agama yang membentuk Bangsa India juga beraneka ragam. Perjumpaan antaretnik, antarbudaya, antaragama di India juga sangat dinamis. Kadang perjumpaan terjadi bagaikan pesta. Tapi tak jarang perjumpaan terjadi dengan penuh bara dan darah. Namun harus diakui bahwa India adalah sebuah teladan sebagai sebuah bangsa yang bisa terus bertahan di rentang kala.

    Melalui sepuluh cerpen yang termuat dalam buku ini, Saloni Narang hendak mendokumentasikan dinamika sosial yang terjadi di India. Memang ia hanya mengambil setting India Utara. Namun wilayah utara ini sudah cukup mewakili dinamika sosial India secara keseluruhan. Konflik pandangan antara tradisional-modern, kepercayaan-logika dan kebiasaan lama dengan kebiasaan baru.

    Dalam cerpen “Pulang,” Saloni Narang mengurai pembalikan pendapat bahwa seorang suami yang selingkuh dengan mudah bisa diampuni dan tidak demikian dengan perempuan. Namun dalam novel ini, Saloni Narang justru menunjukkan bahwa sang suami begitu gembira ketika istrinya yang lari dari rumah dengan seorang pemuda akhirnya pulang.

    Cerpen “Uma” mengisahkan seorang istri berwajah buruk dan dibenci oleh mertuanya. Atas dorongan suaminya akhirnya menjadi seorang pekerja sosial yang sukses. Kesibukannya kemudian membuat hubungannya dengan anak lelaki satu-satunya kurang dekat. Suaminya memaksanya supaya ia mengambil kesempatan untuk menjadi anggota parlemen. Saat pencalonan, ia sempat berbincang dengan anaknya. Ternyata anaknya justru menuduhnya bahwa ia lebih peduli kepada kariernya daripada kepada keluarganya. Begitukah halangan seorang perempuan saat akan berperan bagi publik?

    “Sang Perayu” mengisahkan kehidupan modern muda-mudi India. Pergaulan yang cukup bebas. Rupanya muda-mudi India telah mempunyai kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri. Pandangan bahwa cinta tak harus diikat dengan percintaan telah mewarnai muda-mudi India. Dalam cerpen dengan tokok Vivek dan Meera ini Saloni Narang menutupnya bahwa pernikahan tetap utama untuk mengikat sebuah cinta.

    Dalam cerpen keempat “Masterji,” Saloni Narang berkisah tentang seorang guru yang begitu baik, tetapi harga dirinya begitu tinggi. Sang guru itu akhirnya memilih untuk bunuh diri.

    Dalam cerpen “Kebangkitan” dikisahkan seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya saat mengikuti sebuah upacara keagamaan. Suatu hari ia mendapat khabar bahwa anaknya ternyata tidak mati. Anak itu telah menjadi pelacur dan penari. Si anak ingin sekali menjumpai ibunya. Namun akhirnya ibunya memilih untuk tidak menemuinya dan menganggap sang anak telah mati. Sang ibu lebih memilih untuk melindungi keluarganya dan anak-anaknya dari hukuman sosial jika ia menerima anaknya yang telah menjadi pelacur. Di cerpen ini terlihat sekali bahwa nilai-nilai tradisional masih kokoh berdiri. Kamla - sang ibu, terpaksa memilih untuk “mentaati” nilai-nilai sosial tradisional daripada kasih kepada anak perempuannya yang hilang.

    Perseteruan politik hampir selalu terjadi di India. Cerpen “Daun Teh” mendokumentasikan bagaimana kejamnya perseteruan politik tersebut bagi keluarga-keluarga yang awam politik. Di cerpen kesembilan yang diberi judul “Sang Patriot” digambarkan bagaimana sang anak memilih untuk memperjuangkan keyakinan ideologisnya, meski harus menghadapi hukuman mati. Dialog antara sang anak dan sang ibu dipakai oleh Narang untuk menggambarkan cara berpikir sang ibu yang fokus kepada kebahagiaan keluarga dan sang anak yang memperjuangkan bangsa.

    Pendidikan dan budaya barat begitu kuat mewarnai India. Hidup sebagai individu yang merdeka penuh adalah salah satu pandangan yang menarik bagi sebagian orang India. Dalam cerpen berjudul “Jerkorak” Narang menuangkan pengalaman pasangan cendekiawan yang aneh. Nyonya Batra hidup dengan selingkuhannya bersama suaminya di rumah suaminya. Ketika anak lelakinya menggugat kelakuan ibunya yang dianggapnya tidak patut tersebut, sang Ibu malah mengatakan: “Anakku kau tak dapat menjalankan hidupku, sama seperti aku pun tak akan dapat menjalankan hidupmu. Kau tak dapat memaksaku tunduk pada prinsipmu…”

    Tubrukan ilmu pengetahuan baru dengan praktik tradisional digambarkan dalam hubungan bapak-anak yang mengelola ladang pertanian. Sang anak yang disekolahkan tinggi dan akhirnya tamat sebagai sarjana pertanian, justru bentrok dengan ayahnya. Sang anak merasa bahwa lahan pertanian harus dikelola secara modern, sementara sang ayah merasa bahwa dialah yang paling ahli dalam mengelola lahan.

    Cerpen terakhir judulnya dipakai untuk judul buku. Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana pergeseran nilai-nilai sosial tradisional. Seorang janda selama ini dianggap menjadi aib dan menjadi penyebab kesengsaraan. Itulah sebabnya seorang janda harus dihukum dengan tidak boleh berdandan dan hanya boleh mengenakan pakaian putih. Namun Asha yang adalah seorang janda berpendidikan tinggi memilih untuk mengenakan gelang warna-warni.

    Perjumpaan antara nilai-nilai, moralitas, tradisi, kebiasaan, modernitas dan ilmu pengetahuan tak bisa dihindarkan bagi bangsa India. Perjumpaan itu membuat orang India mempertanyakan kembali tradisinya. Meski dalam perjumpaan tersebut sering juga tertumpah darah, namun ada sesuatu energi besar yang dimiliki India untuk tetap mampu berdiri sebagai bangsa. Bahkan menjadi bangsa yang berdiri sama tinggi dengan negara-negara besar lainnya.

    Sama dengan India, Indonesia juga sering mengalami perjumpaan antarbudaya, antaragama dan antartradisi yang tidak mudah. Namun seperti India, Indonesia juga punya energi besar untuk mempertahankan keutuhan bangsa. Jadi janganlah pesimis memandang Indonesia. Jika India bisa, maka Indonesia pun bisa. Apalagi kita punya Pancasila.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.