Sekolah Katolik VS Biaya Mahal dan Realita Pendidikan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah tinjauan reflektif atas kecenderungan berkurangnya peserta pendidikan di sekolah katolik (OLEH : IGNATIUS SRI BUDI YUWONO, S.Si)

TANTANGAN  SEKOLAH  KATOLIK  DENGAN  BIAYA  PENDIDIKAN  MAHAL,  DI TENGAH  REALITA  PENDIDIKAN  GRATIS  PEMERINTAH

 

(Sebuah tinjauan reflektif atas kecenderungan berkurangnya peserta pendidikan di sekolah katolik)

I. PENDAHULUAN

MENJELANG pergantian tahun ajaran sekolah, tak jarang timbul keresahan orangtua murid, terutama orangtua peserta didik yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Katolik. Keresahan muncul karena beberapa hal diantaranya adalah dua kondisi yang saat ini sering mengiringi Sekolah katolik, yaitu  kesan sekolah katolik yang mahal dan kualitas  yang menurun. Untuk bisa masuk sekolah katolik, para orangtua murid harus menyiapkan uang masuk belasan juta rupiah, atau bahkan ada sekolah yang harus membayar uang masuk puluhan juta rupiah. Uang belasan atau puluhan juta rupiah ini belum termasuk uang sekolah bulanan yang mencapai jutaan rupiah juga tiap bulannya. Kenyataan ini memberikan kesulitan besar kepada orangtua murid sekaligus masalah bagi sekolah katolik sendiri yang semakin kekurangan jumlah murid dan kualitas cenderung menurun. Kesulitan yang didapat orangtua murid adalah semakin tak terjangkaunya biaya sekolah katolik dan dengan sangat terpaksa banyak anak-anak katolik yang belajar di sekolah negeri dan swasta non katolik. Dipihak lain, banyak sekolah katolik yang semakin kekurangan murid dan beberapa di antaranya terancam tutup karena kekurangan murid. Kenyataan ini perlu dikaji secara serius baik oleh gereja melalui Majelis Pendidikan Katolik (MPK), maupun orangtua siswa katolik yang banyak terbantu dengan kemudahan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

II.      MANAJEMEN KEUANGAN  SEKOLAH  KATOLIK

Seringkali kebanyakan murid yang bersekolah di sekolah Katolik justru dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Mereka tidak bisa bersaing masuk sekolah negeri karena nilai tidak mencukupi. Sementara anak dari keluarga berkecukupan memiliki akses memadai tak hanya di sekolah formal, tapi juga ke pelbagai lembaga pendidikan tambahan (les dan kursus). Tak heran nilai akademis mereka bagus.

Sebagai lembaga mandiri, menjalankan suatu lembaga pendidikan tak bisa dikatakan murah. Terlebih kalau sasaran dari pendidikan itu adalah masyarakat yang kemampuan ekonominya menengah ke bawah. Sekilas dilihat sekolah Katolik itu mahal. Sebagai gambaran, sebuah SMP Katolik dengan murid 300 orang serta guru dan personalia sebanyak 30 orang, setidaknya membutuhkan biaya operasional sekitar Rp 180 juta per bulan.

Besar minimal pengeluaran itu dengan mempertimbangkan rata-rata Upah Minimum Regional (UMR) di Jabodetabek sekitar Rp 2,9 juta. Sehingga, kalau dirata-rata, siswa seharusnya dituntut uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sekitar Rp 600 ribu/bulan, jumlah yang cukup berat bagi keluarga menengah ke bawah.

Biaya operasional yang besar mendorong banyak sekolah menarik uang pangkal/uang gedung, dan menjual beberapa perlengkapan sekolah, antara lain: buku, seragam, dan kaos kaki. Semua usaha dilakukan untuk menutup biaya operasional dan menekan besaran SPP. Dengan bermacam usaha ini pun kadang orangtua masih mengeluh tentang besaran SPP yang harus mereka bayar di sekolah Katolik.

Lalu, bagaimana agar tidak lagi muncul kesan “mahal” di sekolah Katolik? Satu hal yang bisa dilakukan adalah keterbukaan dalam manajemen keuangan sekolah Katolik: menjelaskan kepada orangtua –dengan argumentasi yang masuk akal dan jujur– tentang anggaran operasional sekolah. Tentu hal ini bukan bermaksud membuka rahasia sekolah, tapi dalam rangka tanggung jawab pihak sekolah menyampaikan pemanfaatan pemasukan dana dari siswa sehingga orangtua punya gambaran lebih obyektif.

Apabila memungkinkan, penjelasan ini termasuk keuntungan di mana dengan penuh tanggung jawab dapat disimpan pihak sekolah. Dengan cara ini orangtua akan merasa memiliki sekolah, di mana anak mereka belajar dan diharapkan mampu meredam kesan negatif.

Orangtua diharap memaklumi kalau ada keuntungan yang disimpan pihak sekolah. Bagi sekolah yang dikelola para imam dan biarawan-biarawti tentu keuntungan ini akan sangat berarti karena bidang kerasulan mereka sangat beragam yang juga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sedapat mungkin keuntungan yang diproyeksikan tidak terlampau besar sehingga memunculkan kesan sekolah Katolik seakan hanya mencari untung.

Forum paguyuban orangtua murid dapat menjadi wadah untuk saling memberi masukan antara orangtua dan sekolah. Beberapa ahli manajemen pendidikan dapat menjadi narasumber dalam upaya ini agar mampu memberi gambaran jelas dan jujur mengenai operasional sekolah. Keterbukaan akan menjadikan semua pihak merasa lega dan tak ada yang merasa dirugikan. Sekolah wajib memberikan pertanggungjawaban atas setiap sen uang siswa yang dibayarkan orangtua kepada sekolah. Orangtua murid sedapat mungkin dapat memaklumi kebutuhan opersional sekolah yang akan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tanpa keuntungan yang bisa disimpan, sekolah Katolik juga tak akan bisa bertahan ditengah serbuan sekolah swasta lain yang belakangan banyak bermunculan. Sekolah-sekolah dengan label internasional dan nasional sekilas memang menjadi lawan yang tangguh. Untuk itu, sebagai umat Katolik, hirarki beserta para biarawan-biarawati diharapkan dapat bergandengan tangan mempromosikan keunggulan sekolah Katolik. Dari lembaga inilah kita mau memulai menciptakan kader-kader Gereja.

 III. SEKOLAH KATOLIK TETAP BERKUALITAS

Dimulai sejak jaman perjuangan saat hanya segelintir sekolah didirikan di negeri ini, beberapa misionaris baik imam, bruder juga suster mulai mendirikan dan merintis apa yang saat ini kita kenal sebagai Sekolah Katolik. Seiring berjalan lembaga ini menjadi penyokong berkembangnya pendidikan di nusantara dan membawa pengaruh yang cukup signifikan pada masanya. Kiranya masa tahun 1940-an sampai pada tahun 1990-an menjadi masa keemasan sekolah-sekolah Katolik. Pada masa keemasan itu sekolah Katolik menjadi "pemain" utama dalam upaya mengentaskan kebodohan di nusantara. Di setiap daerah sekolah Katolik mendapat tempat di hati masyarakat. Banyak tokoh dihasilkan dari sekolah-sekolah ini. Nama Sekolah Katolik menjadi sangat harum dan orang berlomba-lomba mendaftarkan anaknya ke Sekolah Katolik.

Namun mengapa saat ini justru muncul rasa pesimis dengan Sekolah Katolik. Beberapa berpendapat Sekolah Katolik telah lewat masanya, tak ada lagi Sekolah Katolik yang unggul. Beberapa di antaranya sudah ditutup karena tidak mendapat murid. Lebih parah karena orang Katolik sendiri rasa-rasanya semakin enggan menyekolahkan anaknya di Sekolah Katolik. Lalu mau di apakan Sekolah-sekolah Katolik itu?

Penulis sendiri cenderung memiliki pendapat yang berbeda. Penulis masih percaya Sekolah Katolik masih memiliki semangat dan spiritual yang sama seperti saat masa-masa awal dia didirikan. Banyak orang cenderung menilai Sekolah Katolik hanya dari amatan luar yang kurang mendalam. Kebanyakan hanya melihat profil Sekolah Katolik sebatas dari segi fasilitas Sekolah yang bisa diamati sambil lewat di depan Sekolah itu. Besar SPP dan beberapa iuran menjadi penambah poin penilaian berikutnya untuk kemudian dibandingkan dengan Sekolah negeri.

Menilai Sekolah Katolik hanya dari besaran SPP yang harus dibayarkan nampaknya tidak begitu pas. Hal itu hanya akan mengerdilkan kekayaan Sekolah Katolik itu sendiri. Penulis masih percaya bahwa di tengah keterbatasan, Sekolah Katolik masih memiliki keunggulan dibanding Sekolah negeri atau Sekolah-sekolah swasta nasional dan internasional itu. Sekolah Katolik mampu untuk memberikan air sejuk pendidikan yang tidak saja memberikan materi pelajaran namun memasukkan di setiap siswanya nilai-nilai kasih dan kemanusiaan khas Katolik yang tidak akan di temukan di Sekolah selain Sekolah Katolik.

Pengalaman Penulis, dua keponakan Penulis yang satu lulusan Sekolah Katolik dan yang lain dari Sekolah bukan katolik. Nilai mereka tidak jauh berbeda saat lulus. Namun dari perjumpaan dengan keduanya Penulis bisa melihat bahwa keponakan Penulis yang berasal dari Sekolah Katolik ternyata memiliki daya juang yang lebih baik. Lebih memiliki kepedulian terhadap sesama dan tentu saja aktif ke dalam kegiatan menggereja.

Rasanya nilai-nilai Kekatolikan masih menjadi nilai yang tetap dipertahankan di semua Sekolah Katolik. Nilai itu tidak bisa diukur dari sekedar membandingkan fasilitas Sekolah, besaran SPP atau nilai akademis lulusan yang dihasilkan. Nilai ini juga tidak begitu saja bisa dilihat dari besaran nilai akademis lulusan yang dihasilkan. Sekolah Katolik pada masa beberapa puluh tahun lalu memang identik dengan lulusan yang juga memiliki prestasi akademik yang mumpuni. Hal ini disebabkan juga karena masih minimnya Sekolah barkualitas pada masa itu, sehingga banyak orang tua yang akhirnya menyekolahkan anaknya di Sekolah Katolik.

Penulis tetap tidak mau membayangkan di Indonesia tanpa Sekolah Katolik. Penulis percaya masih banyak kekayaan yang dapat ditimba oleh jutaan murid di Indonesia ini yang saat ini sedang belajar dan mungkin jutaan yang lain yang akan dilahirkan di masa depan. Penulis tidak mau bersikap pesimis dan apatis kepada Sekolah Katolik. Untuk itu orang Katolik Indonesia seharusnya memiliki sikap bangga terhadap Sekolah Katolik yang saat ini masih eksis di Indonesia.

Kritik dan masukan tentu saja boleh namun hendaknya didasari sikap dan rasa cinta terhadap bidang kerasulan Gereja Katolik ini. Selama ini banyak kritik terkesan hanya sekedar ungkapan emosi yang bukanya membangun namun perlahan malah ikut andil dalam upaya mematikan Sekolah Katolik itu sendiri. Sehingga apabila kita merenung mungkin saja Sekolah Katolik yang beberapa sudah gulung tikar itu sebenarnya orang Katolik sendirilah yang menjadi pelaku “pembunuhannya”. Banyak yang mengatakan bangga menjadi Katolik namun hanya sebatas kata-kata.

Sekarang saatnya sebagai umat bersama memiliki kepedulian bagi perkembangan Sekolah Katolik yang kita miliki. Bersama imam, bruder, dan suster bergandengan untuk mempromosikan keunggulan Sekolah Katolik, menjaga dan merawat nilai-nilai yang ada di dalamnya. Kalau sebagai umat merasa penting menanamkan nilai kekristenan di dalam diri anak-anak kita, maka hendaknya setiap umat juga peduli untuk merawat Sekolah Katolik.

Orang yang terlibat langsung dalam manajerial Sekolah Katolik harus pandai menampilkan keunggulan Sekolah Katolik dan mampu mengejar ketertinggalan dalam segi fasilitas-fasilitas Sekolah. Rasanya perlu membuat studi tentang fasilitas apa saja  dan standar pelayanan yang seperti apa yang harus dipenuhi setiap Sekolah di jaman sekarang. Dengan memenuhi tuntutan itu mungkin Sekolah Katolik akan mampu bertahan di tengah dunia pendidikan modern saat ini.

IV.   BAGAIMANA SEKOLAH KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN

Menyikapi realitas bahwa pelayanan pemerintah di dunia pendidikan semakin bagus dan tertata dengan baik ditunjangi oleh semakin meningkatkan kualitas sekolah-sekolah negeri, maka ada beberapa hal urgen yang perlu dikaji secara serius  baik oleh Majelis Pendidikan Katolik (MPK) maupun yayasan-yayasan sekolah katolik berserta para  pelaku bisnis   dan orangtua peserta didik katolik.

  1. MPK harus melakukan pembaharuan dan memberikan sikap resmi terkait batasan biaya minimal dan maksimal biaya pendidikan sekolah katolik, dengan mempertimbangkan kecenderungan semakin menurunnya jumlah peserta didik di sekolah-sekolah katolik.
  2. Pengurus-pengurus Yayasan Katolik harus secara serius menelaah berbagai alasan menurunnya jumlah peserta didik di sekolah katolik, sekaligus mengevaluasi kebiajakan penetapan biaya pendidikan yang cenderung naik setiap tahunnya tanpa ditunjangi kenaikan kualitas pelayanan dan mutu pendidikan.
  3. Sekolah-sekolah katolik harus bisa meningkatkan kualitas sekolah dengan menawarkan sejumlah kemudahan-kemudahan akses terkait kegiatan pembelajaran, menawarkan model pendidikan yang berkualitas, kurikulum yang memikat, pola yang kreatif dan inovatif, fasilitas yang memadai serta peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan yang berdampak langsung pada peningkatan pelayanan.
  4. Bagi orangtua peserta didik perlu secara cermat memilih sekolah-sekolah yang memberikan jaminan dan keyakinan terhadap pendampingan yang baik terhadap anak-anak kita terutama pendampingan dan pelayanan terkait kualitas moral dan akademik.

V. PENUTUP

Demikianlah tinjauan reflektif ini diajukan oleh penulis. Penulis menyadari bahwa tinjauan sederhana ini hanyalah sebuah refleksi yang digerakan oleh keprihatinan yang mendalam mengenai keberadaan sekolah-sekolah katolik. Semoga refleksi sederhana ini bermanfaat bagi para pembaca terutama yang menjadi penggiat-penggiat sekolah katolik untuk serius menyikapi berbagai situasi terkait dengan keberadaan sekolah-sekolah katolik.

Bagikan Artikel Ini
img-content
S Budi Yuwono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua