Merancang Skenario Masa Depan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Merancang skenario masa depan adalah cara untuk memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk masa depan, arah pergerakannya, dan mengapa perubahan itu terjadi

 

Kita tidak pernah tahu, akan seperti apa masa depan kita, masyarakat kita, bangsa kita. Meskipun begitu, kita punya kemampuan untuk memahami kemungkinan-kemungkinannya. Tidak selalu tepat, memang, namun setidaknya kita memiliki bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi kenyataan masa depan yang mungkin saja sama sekali berbeda dengan yang kita bayangkan.

Merencanakan skenario memungkinkan kita untuk ‘meretas’ masa depan. Merancang skenario tidak ubahnya berjalan di medan tempur sebelum pertempuran berlangsung, sehingga kita mampu mempersiapkan diri dengan lebih baik. Di sisi lain, ini tidak persis seperti prediksi masa depan ala Alvin Toffler atau Megatrend-nya John Naisbitt. Namun, nilainya terletak pada membantu kita untuk memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk masa depan.

Kesadaran untuk merencanakan skenario sebenarnya sudah ada cukup lama. Bila kita menengok ke belakang, hingga tahun 1960an, kita mendapati bagaimana Pierre Wack, kepala perencanaan kelompok pada Royal Dutch/Shell, meminta para eksekutif perusahaan untuk membayangkan hari esok: apa yang akan terjadi, siapa yang berperan membuat hal itu terjadi, dan seterusnya.

Wack ingin tahu, apa saja faktor-faktor dalam pasokan minyak yang memengaruhi ketersediaan minyak di masa depan? Ia membuat daftar pemangku kepentingan (stakeholders) dan menanyakan posisi pemerintah di negara-negara penghasil minyak: apakah mereka akan terus memperbesar produksi tahun demi tahun? Berbekal informasi mengenai keputusan-keputusan yang dibuat saat ini, Wack berusaha memahami perubahan yang mungkin terjadi. Wack juga memahami kekuatan-kekuatan apa saja yang memengaruhi kejadian masa depan, dalam hal ini ketersediaan minyak.

Banyak negara penghasil minyak tidak memerlukan peningkatan pendapatan. Mereka sudah kaya, memiliki banyak cadangan minyak, dan karena itu mengurangi pasokan minyak ke pasar akan meningkatkan harga. Ketika Perang Arab-Israel pada 1973 membatasi pasokan minyak, harga minyak melambung hingga lima kali lipat.

Menghadapi situasi tidak terduga ini, dengan berbekal skenario Wack, Shell mempersiapkan diri lebih baik dibandingkan kompetitornya dalam beradaptasi. Perusahaan ini berhasil menghemat milyaran dolar dan mendongkrak profitabilitas. Shell tahu pemerintah mana yang harus dilobil, bagaimana cara terbaik mendekati mereka, apa saja diversifikasi yang perlu ditempuh, dan tindakan apa yang harus diambil dalam hubungan dengan OPEC.

Merencanakan skenario memungkinkan pemimpin mengelola ketidakpastian dan risiko. Skenario membantu perusahaan dalam memahami dinamika lingkungan bisnis, mengenali peluang-peluang baru, dan membuat keputusan jangka panjang. Mengetahui secara persis seperti apa masa depan itu bukanlah tujuan pokok perencanaan skenario. Skenario lebih digunakan untuk memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk masa depan, memahami arah pergerakannya, dan mengapa hal itu terjadi. Setidaknya, Anda dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik menghadapi kenyataan yang mungkin berbeda dari skenario Anda. (sumber ilustrasi: eco-business.com) **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler