Sustainablity Intellectual’s Culture - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sustainablity Intellectual’s Culture

    Dimulai dulun dari judulnya yang inggris, semoga isinya lekas bisa nyusul pakek inggris

    Dibaca : 6.136 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejenak menerka apa yang sebenarnya kurang didalam diri penulis, setelah itu menemukan satu yang hilang. Iya, sesuatu itu adalah semangat untuk membaca, membaca tulisan-tulisan yang terdapat ditumpukan buku. Semangat itulah yang kian hari kian hilang. Tulisan yang termuat dalam novel, referensi perkuliahan atau sekedar artikel. Lebih lama berfikir, kenyataan lainnya adalah tidak saja terjadi pada diri penulis, kawan sejawatpun juga sudah jarang sekali terlihat menenteng buku untuk selanjutnya dibaca.

    Menurut penulis hal tersebut terjadi karena beberapa faktor yaitu Pertama adalah fasilitas elektronik yang kian hari kian canggih dikalangan pembaca yang menawarkan banyak hal yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan buku yang hanya menyajikan tulisan. Ditambah dengan beragam fitur yang membuat usernya semakin kerasan dan merasa nyaman, membauatnya enggan untuk sejenak menanggalkan, kemudian beralih ke buku untuk dibaca. Kalaupun barang elektronik tersebut tertanggalkan sudah ada kegiatan lain yang harus dikerjakan tentunya bukan membaca. Kedua adalah lingkungan tinggal yang memang kurang mendukung untuk membuat penulis kembali menjadi rajin menenteng buku dan membacanya. Situasi lingkungan yang cenderung hedon dan apatis membuat kutu buku terbawa hedon pula, menanggalkan bukunya dan turut menonton acara TV atau sekedar ngopi tonpo isi, bahkan rasan-rasan. Ketiga, Focus penulis yang menurun akibat banyaknyaknya hal yang semestinya kurang begitu penting difikirkan menjadi pemenuh kuota dipikiran.

    Perasaan rindu menjadi gelisa, untuk dapat kembali berjam-jam menghabiskan waktu untuk menerawang lembar demi lembar buku, membaca dengan seksama tulisan-tulisan author, namun memang perasaan tersebut masih kalah kuat dibandingkan dengan factor-faktor diatas yang artinya meskiupun keinginan dan rasa rindu itu tumbuh disela factor-faktor penghambat diatas akan tercekam oleh tiga factor yang penulis sebutkan diatas.. Tidak bisa memang menyalahkan zaman yang telah mempersembahkan fasilitas yang kian hari kian bertambah mantap ini. Namun, sebagai seorang manusia yang berkeinginan menjadi kaum intelektual atau inntelegensi harus mampu mengoptimalkan fitrah berfikirnya untuk kemudian diputuskan kembali menenteng buku. Karena intelektualitas tersebut dibentuk dari pengetahuan yang diperoleh daripada hasil membaca, memang bukan sepenuhnya, namun menurut penulis membaca  menjadi factor yang paling dominan. memfikirkan bagaiamana agar kindisi ini tidak berlarut. Atau satu factor ini mampu kalahkan 3 faktor penghambat tersebut.

    Kemauan datang dari diri sendiri, entah itu kemauan untuk berbuat jahat maupun baik. Bisa saja mau tersebut terjadi karena paksaan tetapi itu tidak bisa  digolongkan kedalam satu kemauan, karena bisa jadi hanya raganya saja yang bergerak namun jiwanya menolak. Sejatinya yang dikatana kemauan adalah mau dalam arti jiwanya menamini, raganya menjalankan. Nah, dan kemauan yang datang tersebut dapat dipengaruhi factor-faktor dari luar diri sendiri, misalkan motivasi dari video, atau tuntutan kekasih untuk wajib baca kita menjadi mau dan melakukan.

    Dari situ tetaplah kemauan tersebut yang paling dominan adalah ditentukan oleh diri sendiri. Termasuk kemauan untuk kembali membaca, melestarikan budaya intelektual dimulai dari diri sendiri. Kalimat berikut patut kita cerna, pahami kemudian kerjakan “Sendiri membaca, berdua berdiskusi, bertida melakukan aksi”. Cukup sederhana dan keren memang diucapkan kemudian diperdengarkan. Tetapi dalam praktiknya berat, saya berani mengatakan itu karena sudah melaksanakan dengan berat. Slogan indah yang ditunjukkan kepada mahasiswa khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

    Penulis mengajak kepada seluruh pembaca untuk mengkongkritkan slogan tersebut dengan memulai, memulai memabaca walaupun itu hanya selembar dari puluhan lembar. One day one page, is that difficult? I don’t think so. Selanjutnya kebisaaan memang membuat kita terbisaa, pasca baca seringkali isi dari bacaan tersebut kurang mampu dirawat, dalam artian tidak tahan lama diingatan. Maka salah satu cara untuk bisa menjadikan itu awet adalah sampaikan kepada orang lain apa yang barusaja didapatkan dari selembar buku terbaca tadi,cobalah meminta pendapat dan lain sebagainya atau kalau sungkan sampaikan lewat tulisan. Menulislah !. berawal dari perenungkan tentang hasil bacaan, pematangan melalui diskusi, kritik dan masukan yang terjadi disana lanjutkan dengan aksi, misalkan dengan praktik sholat setelah tahu cara sholat dan seterusnya. Dimulai dari diri setiap orang yang membaca tulisan ini, saya yakin orang lain akan terlibat setelahnya, entah itu pembaca yang melibatkan atau menyengaja mereka melibatkan diri. Tutup sejelak gadgetmu, sapa kembali teman disampingmu, buka buku yang sudah lama tertumpuk diatas meja belajarmu. Mari membaca ! karena membaca itu penting ! merawat ingatan melestarikan tradisi intelektual (PB 28/12).

    Sumber gambar : www.sesawi.net/wp-content/uploads/2012/02/baby.jpg

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.