Perayaan Imlek dan Refleksi Mempererat Persatuan Bangsa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Sisca Mutiara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Perayaan Imlek dan Refleksi Mempererat Persatuan Bangsa

    Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa dan sudah sepatutnya dijadikan refleksi untuk mempererat persatuan bangsa Indonesia.

    Dibaca : 3.008 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa dan sudah sepatutnya dijadikan refleksi untuk mempererat persatuan bangsa Indonesia.

    Perayaan ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh etnis di Indonesia termasuk Tionghoa untuk bekerjasama dengan terus menjalin kebersamaan, kerukunan dan kekompakan demi membangun negeri. Jangan sampai setiap perbedaan yang ada selalu dijadikan pertentangan dan konflik.

    Kunci penting untuk mencegah dan meluasnya konflik terkait suku, agama, ras dan antargolongan yaitu membangun kesadaran dan kedewasaan masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari seperti mengedepankan toleransi akan adanya perbedaan, baik dari segi agama, etnis maupun budayanya. Setiap kebudayaan atau tradisi dari berbagai etnis dan agama dimanapun berada sudah selayaknya dihormati dan dihargai oleh masyarakat yang lain.

    Melalui berbagai acara keagamaan dan tradisi kebudayaan, terutama perayaan Imlek  tahun ini diharapkan dapat menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran dan kedewasaan antar masyarakat yang saat ini terlihat renggang. Nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan Imlek seperti menjalin kasih, saling mengayomi dan memulai lembaran baru harus dipahami oleh masyarakat Tionghoa yang merayakan. Begitu juga dengan saudara-saudara yang lainnya harus bisa menghormati, menghargai, ikut menjaga dan merasakan momen kebahagiaan saudara etnis Tionghoa.

    Ritual Imlek diibaratkan sebuah rumah atau bangunan besar yang dihuni oleh beragam orang yang berbeda-beda. Semua penghuni memiliki kebebasan dengan saling menghargai satu sama lain. Hal itu menjadi cerminan bahwa mayoritas etnis Tionghoa juga memiliki Spirit Multikulturalisme. Dalam konteks keindonesiaan yang multietnis dan agama, kita dituntuk untuk lebih dari sekadar merayakan perbedaan dalam suasana tenggang rasa, masyarakat multikultural justru meniscayakan adanya sinergitas berbagai elemen dalam menciptakan tatanan hidup yang adil, damai, toleran, harmonis dan sejahtera.

    Kerukunan antar etnis dan antar agama harus dijaga sampai kapanpun mengingat Indonesia memiliki sejarah panjang (berabad-abad) mampu hidup berdampingan secara harmonis meskipun terdiri dari banyak suku, ras, agama dan budaya mulai dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak bisa menutup mata dengan masih adanya kerusuhan antar agama, suku maupun antar daerah. Namun seiring berjalannya waktu, semakin disadari pula bahwa kerukunan perlu dibina dan dirawat terus menerus, bukan hanya keutuhan sebagai sebuah daerah atau agama, namun juga sebagai bangsa Indonesia. Harapan dan tujuan kita semua yaitu menjadikan tanah air kita menjadi bangsa yang lebih maju, berdaya saing, religius dan bersatu dalam Kebhinnekaan Tunggal Ika.

    Ikuti tulisan menarik Sisca Mutiara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.