Hobi yang Diedukasi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Seorang guru mengajarkan pelajaran bahasa Cina di sekolah di Namtit, kawasan pemberontak Wa di Myanmar, 30 November 2016. Kelompok Wa merupakan pemberontak yang paling kuat di Myanmar. REUTERS/Soe Zeya Tun

Edi Warsidi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hobi yang Diedukasi

    Persepsi orang Indonesia untuk memasuki sekolah vokasi (SMK Seni) lebih sebagai bekal mencari kerja.

    Dibaca : 1.746 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh EDI WARSIDI

    BANYAK alasan ketika anak ingin memilih sekolah vokasi  (kejuruan) impiannya, di antaranya karena dia ingin memperkaya hobinya dengan ilmu yang sejalan dan dapat mengarahkan minat menjadi lebih profesional. Akan tetapi, tidak sedikit pula orang tua yang kurang memahami keinginan anaknya  tersebut. Apalagi tatkala kemudian hobi atau minat si anak itu ada pada bidang seni. Alasannya, antara lain khawatir kurangnya jaminan pekerjaan atau bidang garapan sehingga seni dianggap bukan lahan keilmuan yang serius.

    demand  driven)  guna  mendukung  pembangunan  ekonomi  kreatif.  Ketersambungan  (link)  di antara  pengguna lulusan pendidikan dan penyelenggara pendidikan dan kecocokan (match)  antara  employee  dan employer  menjadi  dasar  penyelenggaraan  pendidikan vokasi.  Keberhasilan  penyelenggaraan  pendidikan  vokasi  dapat  dilihat  dari  tingkat  mutu  dan  relevansi,  yaitu  jumlah  penyerapan  lulusan  dan  kesesuaian  bidang (Depdiknas, Renstra 2010–2014, 83-85).

    Bahkan, Bambang Sugestiyadi (dalam ”Pendidikan Vokasional sebagai Investasi”, UNY, 2011) menegaskan bahwa pendidikan vokasional merupakan pendidikan untuk penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang bernilai ekonomis, sesuai dengan kebutuhan pasar dengan education labor coefficient tinggi). Karakter kreatif dan terampil ini sangat diperlukan dalam jagat pekerjaan sehingga karakter tersebut dapat meningkatkan daya lenting/ketangguhan lulusan SMK Seni.      

    SMK Seni merupakan pusat pembelajaran berbagai seni/budaya yang merujuk pada benang merah tradisi dan momen kreatif yang hidup dan menghidupi lingkungannya. Selain itu, SMK Seni juga merupakan sekolah menengah  atas yang konsentrasinya menjurus pada sesuatu yang ditekuni. Konsentrasinya jelas dan setelah lulus dari SMK bisa langsung bekerja sesuai dengan apa yang ditekuninnya, tetapi bisa juga melanjutkan ke perguruan tinggi. Sekolah menengah kejuruan ada yang konsentrasi seni, ada pula yang sekolah menengah kejuruan umum. SMK Seni yang dipelajari adalah seluk beluk seni. Konsentrasinya meliputi Jurusan Seni Rupa dan Kriya, Seni Pertunjukan, serta cabang seni lainnya.

    Kemampuan dan Kepekaan

    Selain itu, tujuan SMK Seni dalam pengembangannya pada seni adalah untuk menghasilkan pembelajar seni yang memiliki kemampuan dan kepekaan akademik dengan membaca kebutuhan zaman, menghasilkan sistem jaringan informasi, dan dokumentasi seni untuk pengembangan dan pengawetan (konservasi) wacana seni di kalangan lembaga SMK Seni/akademisi dan masyarakat.

    Banyak kalangan menilai bahwa untuk memasuki sekolah kejuruan seni haruslah memiliki bakat; tidak hanya mengandalkan kemampuan dan keinginan, tetapi juga prospek ke depannya masih tanda tanya, mau kerja di mana setelah lulus SMK Seni? Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada perusahaan besar yang bergerak di bidang seni. Anggapan seperti ini kerap menyeruak dari masyarakat awam. Mereka hanya tahu jika masuk SMK Seni berarti prospek kerja ke depannya akan cerah.

    Kemauan dan keinginan tersebut lebih penting dibandingkan dengan sekadar bakat. Niat dan mau berlatih lebih penting daripada bakat itu sendiri. Paling tidak, peserta didik SMK Seni menekuni salah satu karakter bernama kreativitas. Kreativitas pun tidak hanya diperoleh melalui sistem akademik (SMK Seni), tetapi selebihnya dapat ditekuni melalui sistem aprentiship (pewarisan) khusus, sistem sanggar, dan sistem autodidak (Soehardjo, A.J., 2005: 7—19).

    Perlu ditegaskan bahwa lembaga vokasi formal tidak begitu saja menyediakan pekerjaan. Pekerjaan memang merupakan hak masing-masing orang dan harus ditentukan sendiri sebab masa depan sangat bergantung pada individu tersebut, bukan oleh lembaga vokasinya.

    Penerapan Seni Terapan

    Dalam prosesnya, program pembelajaran di sekolah vokasi seni tidak hanya menuntut peserta didik untuk menguasai seni. Misalnya, mereka juga belajar eksakta untuk mendalami bagaimana gerak jatuhnya cahaya dan pelajaran lainnya yang bersifat ilmiah. Dalam seni teater, misalnya, peserta didik mempelajari berbagai seni dan manajemennya sebab teater memiliki aliran seni pendukung, seperti tari, lukis, sastra, dan musik.

    Jika sekarang pendidikan sudah bergeser pada kompetensi keahlian (skill) dan kemampuan melakukan secara langsung pada karya, tidak hanya pada tataran wacana, hal itu juga sudah dilakukan orang dari dunia seni sejak dahulu. Seniman tidak hanya bergerak pada tataran wacana dan teori, tetapi juga bagaimana penerapan dari teori itu terhadap seni terapan. Untuk menjadi seniman itu tidak cukup bermodalkan teori, tetapi juga harus terus berkarya.

    Sekarang tinggal bagaimana cara masyarakat menilai kesenian? Bukan dalam segi bakat, melainkan prospek masa depan/pekerjaan. Patut diakui bahwa seni di negara ini hanya hidup di kalangan seniman sehingga masyarakat menjadi awam dalam menilai seni. Untuk itu, hadirnya SMK Seni dapat menjadi semacam ”humas” untuk sosialisasi seni. Keluaran SMK Seni harus mampu membuktikan bahwa mereka mampu mengawetkan (konservasi) seni dan memiliki daya lenting menciptakan lapangan kerja bidang seni ini. Pada titik ini, pendidikan vokasi (yang salah satunya SMK Seni) perlu direvitalisasi.

    EDI WARSIDI Penulis, editor dan peminat masalah pendidikan

    Ikuti tulisan menarik Edi Warsidi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.