x

Iklan

firdaus cahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pembangunan Infrastruktur, Jangan Korbankan Petani

Siapa pihak yang dikorbankan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi? Jawabnya singkat. Petani.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pembangunan infrastruktur telah menjadi program unggulan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dimana-mana jalan tol dibangun. Bendungan dan juga pembangkit tenaga listrik juga dibangun hampir di seluruh penjuru nusantara.

Uang yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur pun tidak tanggung-tanggung. Pemerintah dalam dalam APBN 2017, berencana menggelontorkan dana Rp 378,3 triliun untuk pembiayaan infrastruktur atau sekitar 18,6 persen dari PDB. Sebuah jumlah yang tidak sedikit.

Digelontorkannya uang trilyunan rupiah untuk membangun infrastruktur itu dilandasi kepercayaan bahwa dengan pembangunan infrastruktur akan memicu pertumbuhan ekonomi. Dan dengan pertumbuhan ekonomi pula ini nantinya, ratusan juta rakyat Indonesia akan disejahterakan. Benarkah demikian?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebaiknya kita bertanya terlebih dahulu, siapa pihak yang dikorbankan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur itu?

Jawabnya singkat. Petani. Ya, petani adalah kelompok masyarakat yang justru menjadi pihak yang dikorbankan dalam pembangunan infrastruktur. Masih ingat bagaimana perlawanan petani Kendeng melawan pabrik semen? Ya, tentu saja. Tapi apa kaitanya dengan petani Kendeng?

Gencarnya pembangunan infrastruktur membutuhkan dua bahan dasar. Pertama, semen dan kedua, baja. Nah, kebutuhan semen untuk bahan dasar pembangunan infrastruktur ini yang menjadi salah satu dasar argumentasi bahwa pabrik semen di Kendeng harus dibangun.

Perlawanan petani Kendeng, Jawa Tengah terhadap rencana pembangunan pabrik semen bukan suatu hal yang berlebihan. Pembangunan pabrik semen dinilai petani akan menghancurkan sumber air di kawasan itu. Penghancuran sumber air sama saja dengan menyingkirkan petani dari sumber-sumber kehidupannya. Petani tidak akan bisa bertani tanpa ada air.

Hanya petani Kendeng? Tidak. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan November 2016, petani di Majalengka ditangkap aparat. Pasalnya, para petani menolak pembangunan bandara internasional yang akan menyingkirkan mereka dari ruang-ruang kehidupannya sebagai petani.

Tidak hanya di Majalangka. Di Kulunprogo, Yogyakarta, petani juga tersingkir dari sumber-sumber kehidupannya akibat proyek pembangunan bandara internasional. Setelah bandara internasional dibangun, mungkin sawah adalah pemandangan yang langka di Kulonprogo. Di kawasan itu, setelah bandara internasional dibangun, mungkin sawah-sawah akan berubah menjadi pemukiman, hotel, apartemen dan mall. Ekonomi dibangkitkan, tapi bukan ekonomi petani yang dibangkitkan.

Di Madiun, Jawa Timur, perlawanan petani terhadap proyek infrastruktur juga terjadi. Pada akhir Maret lalu, petani Madiun memblokir akses masuk kendaraan proyek ke lokasi  pembangunan jalan tol Solo – Kertosono ruas Mantingan – Kertosono. Sebanyak 38 petani pemilik 23 hektare lahan sawah menuding pihak rekanan jalan tol menghambat aktivitas petani.

Perlawanan petani hanya terjadi di Jawa? Tidak. Beberapa waktu yang lalu, 2 orang Petani Seko,Luwu Utara, Sulawesi Selatan juga ditahan di Polres Masamba karena penolakan PLTA Seko.

Apa yang terjadi di Kendeng, Kulonprogo, Madiun dan Seko adalah pertanda bahwa pembangunan infrastruktur yang diklaim akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi justru mengorbankan petani. Padahal petani inilah, yang menurut Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai soko guru masyarakat Indonesia. Bahkan Bung Karno, mendapatkan ide meramu ideologi sosialisme Indonesia (Marhean) dari seorang petani.

Boleh saja membangun infrastruktur. Tapi, jika kemudian pembangunan itu justru mengorbankan rakyat yang paling rentan, sama juga bohong. Untuk itulah, belum terlambat bagi Presiden Jokowi untuk meninjau ulang proyek infrastrukturnya. Model pembangunan infrastruktur harus dirubah total, sehingga tidak mengorbankan petani. Bahkan jika tidak mungkin merubah model pembangunannya, proyek infrastruktur akan lebih baik dibatalkan. Keselamatan warga adalah yang utama. Karena warga bukan sekedar angka.

#InfrastrukturKitaSemua

sumber foto: http://news.liputan6.com/read/2365355/sultan-hb-x-pengukuran-lahan-bandara-dimulai-senin-depan

Ikuti tulisan menarik firdaus cahyadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

8 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB