Pilkada DKI Final: Belajar dari Efek 'Baloney' Pilpres AS

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengantisipasi efek 'baloney' ala Pilres AS 2016 dalam persaingan ketat Pilkada Gubernur DKI 2017.

Pilkada DKI putaran akhir ibarat balapan motor yang tengah seru-serunya menjelang lintasan 'finish'. Berbagai faktor di putaran terakhir bisa mendorong atau menjungkalkan masing-masing kandidat. Sejumlah lembaga survei, baik yang mapan maupun abal-abal, telah merilis hasil survei persepsi pemilih pada 1-2 minggu terakhir sebelum hari pencoblosan.

Hasil survei pun dipahami secara berbeda. Sebagian memilih melihat mayoritas hasil akhir survei bahwa Paslon 3 unggul antara 1 hingga 10 poin di atas Paslon 2. Selisih yang tidak cukup meyakinkan untuk menyimpulkan siapa yang akan unggul karena selisih tersebut bahkan masih dalam rentang 'margin of error'. Sebagian yang lain bersandar pada rentang waktu yang tersisa untuk mempengaruhi kesimpulan survei hingga hari pencoblosan selesai yang segera diikuti oleh 'quick count'. Yang terakhir ini, juga merujuk kepada tren elektabilitas yang menyertai hasil survei seminggu terakhir. Intinya, selama Waktu balapan masih berlangsung, dua pasangan pembalap masih akan bersaing di lapangan.

Setidaknya ada tiga hasil survei terbaru sepanjang minggu lalu dari lembaga-lembaga survei yang relatif mapan dan digawangi oleh tokoh survei politik yang dikenal luas, yang tidak hanya menunjukkan hasil akhir, tetapi tren pergerakan dukungan terhadap masing-masing paslon. Namun, mengingat persepsi terhadap dua lembaga survei yang mungkin terlalu identik dengan salah satu paslon, hasil survei 12-14 April 2017 yang dirilis oleh Indikator di bawah Burhanuddin Muhtadi secara fair cukup menggambarkan peta dukungan riil. Paslon 3 terlihat masih unggul tipis dibandingkan Paslon 2, namun tren pergerakan berpihak signifikan kepada Paslon 2 dengan kecenderungan naik hingga 4 poin dan sebaliknya Paslon 3 turun 4 poin.

Chart

Apa yang menyebabkan dinamika pergerakan suara ini akan terus berlanjut hingga menit-menit terakhir? Dan, bagaimana "kemungkinan" penjelasan berubahnya hasil akhir pencoblosan terhadap hasil akhir survei yang dirilis terakhir dengan jarak waktu 1-2 minggu dari hari pencoblosan? Kata "kemungkinan" disebutkan dalam tanda kutip karena kepastian hasil hanya diketahui setelah pemungutan suara selesai. Mungkin, mempersandingkan Pilkada DKI Putaran Final ini dengan dinamika serupa yang alot dan menegangkan dari Pilpres AS 2016 lalu, bisa membantu menjelaskan kemungkinan skenario tentang pergerakan suara pada menit-menit terakhir.

Salah satu penjelasan adalah apa yang disebut efek 'Baloney'. Baloney sendiri secara umum berarti sesuatu yang 'nonsense' atau tidak masuk akal. Efek ini menjelaskan tentang bagaimana Capres Hillary Clinton yang dalam seminggu terakhir sebelum pemungutan suara masih mengungguli Capres Donald Trump dalam nyaris semua survei, dan keunggulannya justru sempat menguat setelah rekaman "Access Hollywood" yang memuat pernyataan misoginis verbal Trump yang terkenal itu ("Grab 'em by the pussy!") dibocorkan. Sayangnya, hasil akhir pencoblosan tidak berpihak kepada Hillary yang meskipun memenangi suara populer, tetapi tidak cukup menguasai suara elektoral.

Efek 'Baloney' mencoba menjelaskan bahwa pergerakan suara tersebut yang tampaknya mengejutkan, sesungguhnya tidak demikian. Yang jelas, ada alasan yang lebih baik, selain hanya bersandar dan membesarkan teori-teori konspirasi akibat kecurangan atau peretasan oleh Rusia. Penjelasannya adalah banyak yang telah memutuskan memilih Trump, tetapi memilih menyimpannya setelah munculnya rekaman "Access Hollywood" yang kontroversial tersebut. Namun, kesukaan terhadap calon, tidaklah lantas akan lenyap begitu saja, meskipun sebagian merasa malu atau alasan pribadi lainnya untuk mengungkapkan pilihannya yang dianggap kontroversial. Dan, tidak lama kemudian, Hillary juga dirudung kembali dengan skandal yang lebih buruk dengan dibocorkannya korespondensi investigasi oleh Wikileaks serta penampilan Trump yang baik pada debat terakhir. Fenomena pada minggu-minggu terakhir inilah yang pada akhirnya membalikkan hasil-hasil survei. Para responden yang sebelumnya menjadi malu untuk menyatakan mendukung Trump dengan tidak menjawab atau memberikan jawaban lain kepada para lembaga survei, merasa percaya diri pada menit-menit terakhir bahwa Capres nya tidak seburuk yang dibayangkan, terlebih dibandingkan Capres yang lain. Dan, ini dibuktikan dengan hasil pencoblosan yang memenangkan Trump.

Efek 'Baloney' bisa saja terulang dalam Pilkada Jakarta. Dan, salah satu kontribusi terbesar adalah kemunduran akibat tekanan yang berlebih melalui agenda keagamaan terhadap Paslon 2. Dari yang ringan berupa jargon pemimpin seiman hingga meningkat menjadi penista agama dan larangan mensalatkan mereka yang munafik, dalam hal ini tentu saja para pendukung Paslon 2. Bandingkan pemojokan yang sifatnya tidak lagi komunal, tetapi individual ini terhadap pribadi-pribadi para pendukung Paslon 2 dengan tidak mensalatkan ini, dengan skandal "Access Hollwood" yang menimpa Trump pada minggu terakhir Piplres AS. Jelas, efek negatif terhadap responden survei yang mungkin saja berpihak pada Paslon 2 lebih dalam ketimbang pendukung Trump di AS. Respon responden-responden lokal ini bisa jadi dipengaruhi efek "Baloney" dengan tidak mau atau tidak berani mengungkapkan pilihan sebenarnya karena khawatir dianggap mendukung penista agama sehingga tidak akan disalatkan jika wafat. Bedanya dengan para responden pendukung Trump yang merahasiakan pilihannya karena malu, para responden pendukung Paslon 2 mungkin tidak mengungkapkannya karena alasan takut atau khawatir.

Namun demikian, efek ini bisa menjelaskan mengapa tren dukungan terhadap Paslon 2 justru meningkat dalam 1 bulan terakhir. Jawabannya terletak pada perubahan kondisi yang justru menjadi lebih kondusif bagi Paslon 2. Dan, perkembangan 2 minggu terakhir yang ditandai dengan dukungan resmi 2 partai besar Islam, PKB dan PPP, bisa jadi mengembalikan kepercayaan diri para responden yang kesempatan berikutnya untuk menunjukkan sikapnya adalah pada hari pencoblosan, bukan survei.

Oleh karena itu, dinamika ini menjelaskan mengapa tidaklah bijak untuk menyatakan kompetisi sudah selesai, sebelum kompetisi tersebut benar-benar selesai. Pastinya, tentu kita lihat quick count bersama besok!

Jakarta, 18 April 2017

Dondy Sentya

Bagikan Artikel Ini
img-content
Dondy Sentya

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler