Tentang Mimpi Besar Bangsa dan Perpustakaan Kosong

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

anak-anak bangsa ini tidak pernah dididik menjadi besar lewat membaca untuk membuka jendela-jendela dunia

Para pemimpin bangsa ini selalu berceloteh tentang betapa besarnya negeri ini. Negeri Indonesia yang memiliki berbagai kekayaan alam. Lokasi yang strategis dalam peta perdagangan dunia. Sejarah kejayaan di masa lalu. Bangunan-banguna kuno yang menggambarkan tingginya kemampuan rekayasa serta penjelajahan-penjelajahan anak-anak bangsa dahulu kala.

Semua pemimpin bangsa ini sejak dari Soekarno hingga Jokowi selalu bercita-cita untuk memajukan bangsa ini. Menjadi bangsa besar yang mampu mengalahkan bangsa lain dengan segala modalitas bangsa yang ada. Sudah berganti pemimpin, sudah 70 tahun merdeka, bangsa ini masih seperti ini. Bangsa yang masih mampu menjadi pengguna dan operator dari berbagai penemuan bangsa-bangsa lain. Bangsa yang sudah puas dengan pencapiannya yang seadanya.

Dahulu sekali, Vietnam belajar dari bangsa ini tentang bercocok tanam. Setelah sekian puluh tahun, sang guru pun harus membeli beras dari muridnya. Bangsa ini dulu mengajari Malaysia tentang mengolah minyak bumi. Kini, Petronas memiliki skala jauh lebih besar dari perusahaan minyak negeri ini. Negeri yang memiliki cadangan minyak dan gas tetapi malah mengimpor minyak.

Bangsa ini dulu mendidik dosen-dosen di Malaysia, tetapi sekarang bangsa ini masih sibuk mengurusi kurikulum dan tidak pernah tuntas. Bangsa yang masih sibuk mengurusi tentang budi pekerti, padahal bangsa ini terkenal dengan adat ketimurannya yang katanya luhur. Bangsa ini masih sibuk mengurusi keyakinan orang lain, sementara bangsa Cina sudah menerbangkan pesawat berbadan lebarnya pada awal Mei 2017, C919 yang bersaing dengan Boeing 737. Sementara Nurtanio sudah ada sejak 41 tahun yang lalu. Mainannya masih pesawat penumpang kecil. Bangsa masih bergunjing soal perlunya kolom agama di KTP-el atau tidak.

Padahal bangsa ini punya cita-cita besar. Cari sendiri saja visi dan misi negeri ini. Gampang, kok. Lihatlah juga visi universitas-universitas itu, world class university. Memasang visi seperti itu karena membaca visi universitas asing. World Class Airline, meskipun masih ditolak masuk di banyak negara Eropa dan Amerika. Mimpi menjadi bangsa yang mampu menyaingi bangsa-bangsa lain, sementara para pemimpinnya masih sibuk soal bagi-bagi hasil dari proyek KTP-el, sistem monitoring perairan bahkan komisi jualan kapal.

Bangsa ini terlalu banyak berwacana kosong. Memandang dirinya tinggi sekali, tetapi tidak mampu bersaing. Karena memang mereka tidak pernah belajar. Karena masih sibuk dengan diri sendiri. Bukan mengurusi perihal menjadi bangsa yang besar. Bukan soal menjadi pemimpin di berbagai bidang. Telah lama pemimpin bangsa ini selalu berwacana tentang bangsa besar. Iya, kita memang bangsa besar, karena jumlah penduduknya dan juga luas wilayahnya. Tetapi ini bukan soal jumlah penduduk dan luas wilayah. Ini soal bangsa yang jauh lebih maju dalam berbagai lini sehingga bangsa ini tidak menjadi ‘jajahan’ bangsa lain.

Menelantarkan Membaca

Bagaimana bangsa ini hendak maju, sementara anak bangsanya tidak dididik dengan baik. Lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak didik bangsa ini. Dengan sistem yang seperti apa pun yang dibangun, tidak pernah bisa beradu dengan anak-anak bangsa lain. Kita tidak usah bicara soal satu dua orang yang menjadi juara olimpiade. Itu tidak mendorong besarnya bangsa ini, karena itu bukanlah sistemik. Cenderung sporadik. Setidaknya menunjukkan bangsa ini memiliki modal.

Semuanya berawal dari program pendidikan kita. Kita tidak pernah diajarkan untuk membaca buku. Buku telah lama diakui sebagai jendela dunia. Buku membukakan mata. Buku mengandung pengetahuan. Buku menjanjikan penjelajahan pengetahuan. Buku memberikan pemahaman. Buku menyajikan eksplorasi untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan hidup.

Beberapa waktu lalu kita merayakan hari pendidikan. Presiden mengundang para pejuang literasi. Begitu mereka menyebutnya. Seperti biasa, terma harus diubah supaya kekinian, literasi. Banyak yang diundang ke istana. Para pejuang literasi ini berjuang dengan modal sendiri untuk mengejar anak-anak bangsa ini untuk mau membaca. Dengan modal sendiri, dengan gerobak yang dipasangkan di motor, mereka bergerilya menjemput anak-anak dan orang dewasa untuk membaca.

Diromantisasi oleh media sosial, jadilah bangsa ini seperti bangsa dengan literasi tinggi. Penghargaan sudah diberikan, tepuk tangan sudah usai dan undangan sudah pulang, makanan sudah habis. Mereka berjuang lagi, menjemput lagi anak-anak. Tetapi itu sporadis.

Tidak juga tergerak para penanggung-jawab negeri ini untuk mencerdaskan anak-anak bangsanya. Mulai dari Soekarno hingga sekarang ini. Tidak ada program membaca di sekolah-sekolah sejak ana-anak. Tidak ada program menulis sejak pendidikan dasar. Pendidikan ini hanya menghapal. Maknanya dan juga esensinya tidak ada. Terpaksa orang tua yang sadar bekerja keras memberikan makna kepada hafalan anak-anaknya.

Buku-buku juga tidak pernah dibagikan dengan giat. Membaca tidak pernah dijadikan budaya. Buku-buku malah hanya menjadi pembungkus ikan asin di pasar-pasar. Buku tidak pernah dijadikan sebagai barang mahal yang memiliki nilai tinggi. Apakah pemimpin bangsa ini takut kalau anak bangsanya cerdas-cerdas? Mereka takut anak bangsanya tidak bisa dicocok hidungnya. Karena mereka sadar, mereka perlu anak bangsa yang tidak akan mempertanyakan. Apa yang mau ditanyakan, membaca saja tidak pernah.

Bisa jadi program tidak membaca ini adalah bagian strategi nasional untuk menciptakan anak bangsa yang tidak pintar. Yang penting nasi ada di piring. Soal proses, tidak usah bertanya. Kebiasaan serba instan disorongkan sebagai menu utama sarapan jiwa anak-anak bangsa. Parahnya, proses cepat ini pun termasuk menjadi kaya raya. “Yah, untuk kaya raya curilah uang rakyat. Kalau engkau membagi sebagian, engkau aman dalam pelukan lindunganku” ujar pemimpin lalim itu sembari mengipas-ngipaskan rupiah ke badannya yang tidak keringat. Sebabnya, dia ada di raung berpendingin. Tidak penting proses, yang penting instan. Hancur!

Mereka membuang buku-buku dari meja-meja belajar anak bangsa, supaya mudah dimanipulasi dan diarahkan sesuai dengan nafsu berkuasa dengan politik pecah belah. Lalu, mereka akan pidato lagi supaya terjadi rekonsiliasi. Dan anak bangsanya tidak pernah mempertanyakan kelakuan dan ucapan yang bertolak belakang. Karena buku sudah lama dibuang dari meja-meja belajar anak-anak bangsanya. Bagaimana mau mempertanyakan, membaca saja tidak minat.

 

Perpustakaan Kosong

Akhirnya, pengadaan buku hanya akan menjadi sumber pendapatan. Membangun perpustakaan hanya fisiknya. Lalu perpustakaan itu akan menjadi kosong dan melompong. Seperti sebuah perpustakaan yang tidak dirawat di sudut-sudut Kabupaten Pidie Jaya, dan masih di banyak tempat lain lagi di Indonesia.  Karena pemerintah punya program membangun perpustakaan. “Membacanya sudah belum, Pak?”

Perpustakaan kosong dan terlantar karena tidak ada buku dan tidak ada yang datang membaca. Karena tidak ada ketertarikan untuk membaca. Tidak ada keinginan yang dibangun untuk memajukan bangsa ini lewat buku-buku yang dihadirkan di perpustakaan. Perpustakaan yang seharusnya dibangun untuk menjadi tempat mengembangkan kebiasaan membaca hanya menjadi ruang kosong tidak berjiwa. Buku-buku tergeletak begitu saja tanpa ada yang memperhatikan, Buku-buku itu tentunya ada harganya, tetapi tidak ada nilainya.

Sebabnya, mencari ilmu dan menelusuri pengetahuan lewat buku-buku tidak pernah dilestarikan. Buku-buku hanya akan menjadi benda yang tidak berjiwa. Padahal, buku menjanjikan dunia. Sebab sampai berbusa duta baca Indonesia itu mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Bisa jadi, karena tidak ada gunanya, jendelanya itu pun sudah dirusak.

Tidak kurang para tokoh seperti Andi Noya mengatakan membentuk generasi lebih baik dengan pilihan buku yang tepat. Bagaimana mau memilih buku, membaca pun tidak minat. Bagaimana hendak terbentuk generasi pembaca, buku yang perlu pun tidak ada, karena tidak minat. Susan Bahtiar pun tidak bosannya menyerukan untuk mendorong kebiasaan membaca sejak dini. Tetapi malah akhir-akhir ini yang banyak terjadi adalah pernikahan dini. Mereka mungkin salah membaca buku.

Perpustakaan kosong dan buku-buku yang tergeletak tanpa nilai itu adalah gambaran bangsa ini atas tidak pedulinya dengan masa depan anak-anak bangsa. Para pendidik sibuk dengan mengumpulkan kemampuan untuk bisa mengajar di kota. Semuanya tentang kota. Karena semua dulu sangat tersentralisasi termasuk otak dan jalan pikirannya. Sehingga semua harus berada di kota, di Jawa, di Jakarta.

Bagaimana bangsa ini sanggup bercita-cita menjadi bangsa yang besar, jika perpustakaan-perpustakaan itu kosong melompong, lalu runtuh karena tidak dirawat, terlebih dibangun seadanya. Perpustakaan itu tempat membuka mata dan menatap lewat jendela dunia hanya merana tanpa dukungan. Mari kita tutup mimpi menjadi bangsa besar ketika perpustakaan itu masih kosong. Ketika mencari ilmu untuk penjelajahan lewat membaca buku tidak pernah dilakukan. Mau bicara menulis? Jauhkanlah pikiran-pikiran soal menulis. Bagaimana mau menulis jika membaca juga tidak pernah.

Simpan dulu cita-cita menjadi bangsa besar. Negara ini masih sibuk ngurusin pihak-pihak intoleran dan radikal, karena mereka selalu bicara tentang dirinya dan bukan tentang bangsa ini. Mungkin buku berguna untuk menimpuki mereka.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rinsan Tobing

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua