Literasi Untuk Kualitas Keluarga yang Lebih Baik

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Membaca adalah bekal manusia untuk menjalani hidup di bumi milik Tuhan. Termasuk dalam mengelola keluarga yang merupakan miniatur dari negara. Keluarga me

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ingin mendorong budaya literasi pada orang tua. Hal tersebut bertujuan untuk melawan hoax yang marak beredar di media sosial. Menurut Kepala Biro Komunikasi  dan Layanan Masyarakat Kemdikbud, Ari Santosa, orang tua berkewajiban mendidik anaknya, pendidikan tak hanya untuk orang tua. Masyarakat juga ada tanggung jawab program kampanye literasi. Kemdikbud tidak hanya bertugas untuk mendukung pendidikan, tetapi juga budaya literasi di masyarakat (www.republika.co.id, 10 Maret 2017)

            Lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu Sang Pencipta Langit dan Bumi sudah membekali manusia untuk selalu berbudaya literasi (melek informasi) dengan perintah membaca. “Bacalah atas nama Tuhanmu!” adalah wahyu Allah  pertama yang diturunkan kepada penduduk bumi. Membaca ialah proses untuk menelaah informasi yang ada pada media baca baik berupa buku, media massa dan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terbentang di langit dan bumi.

            Membaca adalah bekal manusia untuk menjalani hidup di bumi milik Tuhan. Termasuk dalam mengelola keluarga yang merupakan miniatur dari negara. Keluarga melek informasi maka negara pun akan melek informasi. Keluarga kuat negara pun menjadi kuat. Membangun keluarga melek informasi artinya kita membangun negara untuk memanfaatkan informasi sebagai kekuatan untuk menyejahterakan rakyat.

            Manusia pilihan Tuhan seperti Lukmanul Hakim adalah seorang kepala keluarga yang sangat menyadari betapa penting arti melek informasi bagi keluarganya. Beliau selalu menyajikan informasi yang berharga untuk anaknya. Sehingga meskipun beliau bukan nabi tetapi nama tukang kayu ini diabadikan dalam Al Quran.

Pertama, Lukman menasehati anaknya untuk tidak mempersekutukan Tuhan dengan tuhan-tuhan palsu selainNya.  Orang tua yang melek informasi menginginkan anaknya untuk selalu menjadi hamba Tuhan yang baik. Bukan budak hawa nafsu, budak jabatan, dan budak harta benda. Lukman yang dulu hidup pada zaman teknologi kuno sudah menjalankan misi keluarga melek informasi. Orang tua di masa kini dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat tentu tak boleh kalah dengan Lukman.

Orang tua yang berliterasi adalah orang tua yang selalu sempat untuk memberikan nasehat harian kepada generasi penerus bangsa ini. Bukan hanya ketika ada masalah saja tetapi sebelum masalah terjadi bekal spiritualitas sudah diberikan kepada anak tercinta. Pembekalan naluri beragama tentu tak cukup dengan menitipkan anak di pondok pesantren saja ( baca termasuk sekolah keagamaan lainnya). Naluri beragama selaku hamba Tuhan perlu bimbingan dan teladan orang tua secara langsung. Pendidikan di luar rumah adalah sekedar menu tambahan saja untuk menguatkan jiwa tauhid pada sang anak. Pendidikan di dalam rumah itulah menu pokoknya.

Kedua, sekecil apa pun perbuatan walaupun sebesar biji sawi akan diberi balasan oleh Tuhan. Amal shaleh maupun amal salah sekecil apa pun akan dibalas oleh Tuhan. Lukman ingin membiasakan anaknya untuk  melakukan kebaikan dari hal-hal yang sepele. Demikian pula dengan keburukan, Lukman ingin anaknya menjauhi keburukan sekecil apa pun agar kelak tidak terbiasa melakukan keburukan yang lebih besar lagi. Kebaikan dan keburukan adalah proses pembiasaan yang perlu diajarkan di rumah oleh orang tua. Orang tua adalah cermin hidup bagi anak-anaknya. Orang tua yang shaleh sangat berpeluang besar untuk melahirkan anak-anak yang shaleh. Jika orang tua menginginkan anak shaleh maka perlu didahului dengan usaha menjadi orang tua yang shaleh dulu.

Ketiga, mendirikan shalat, menyuruh kepada jalan kebaikan, menjauhi jalan keburukan,  bersabar dalam menghadapi ujian hidup dan meninggalkan kesombongan dalam menjalani hidup. Mutiara nasehat seorang Ayah yang bernama Lukman ini memang luar biasa. Shalat yang baik akan menguatkan perilakau membela kebenaran dan perilaku meninggalkan jalan keburukan. Sabar dalam meniti jalan kebaikan dengan tetap rendah hati tanpa angkuh. Inilah fungsi literasi sesungguhnya semakin mendorong kuat untuk melahirkan kebaikan di mana saja dan kapan saja.

Peran sekolah

            Gerakan untuk membangun keluarga literasi tentu tak terbatas pada ritual kampanye  saja seperti seminar, pasang spanduk di berbagai tempat dan tagar di media sosial. Lebih penting lagi adalah ada aksi nyata dengan melibatkan sekolah di tanah air. Sekolah selain merupakan tempat peserta didik  menimba ilmu sejatinya perlu difungsikan  untuk mendidik orang tua murid  agar bisa menjadi orang tua yang melek informasi. Terutama  paham informasi untuk mendidik anak di rumah. Sinergi antara sekolah dan orang tua diharapkan akan menghasilkan anak  didik yang melek informasi.

            Anak yang melek informasi tentu tak mudah terjebak pada pergaulan bebas, zina dini, narkoba dan pornografi.  Orang tua yang berjiwa literasi akan berusaha membangkitkan nuansa “rumahku surgaku”. Jika rumah nyaman untuk berteduh, komunikasi penghuni dalam rumah begitu hangat, dekat di mata sekaligus dekat di hati, nilai religius dan spiritual memancar di dalamnya tentu anak akan merasa betah di rumah.  Rumah akan selalu menjadi surga yang selalu dan sangat dirindukan baik oleh ayah, ibu maupun anak. Rumah yang menyatukan hati sang penghuni dengan aktivitas bersama lahir dan batin.

Hari ini banyak rumah dengan para penghuni yang tinggal bersama namun secara batin  mereka terpisah jauh. Lebih ironis lagi jika sang anak tidak menjumpai sang ayah karena ayah sibuk nongkrong di warung tetangga. Padahal kehadiran ayah di rumah sangat dibutuhkan anak untuk belajar tentang ketegasan dan keberanian dalam menghadapi hidup. Untuk memperkuat jiwa sabar dan lembut yang sudah didapat dari ibu.

Juga tambah ironis ketika komunikasi orang tua dan anak tersandera oleh telepon pintar. Sebuah survei yang disponsori Common Sense Media sebagaimana dikutip detik.com (2016)  menyebut, orang tua rata-rata menghabiskan waktu dengan gadgetnya selama 9 jam perhari. Namun ini bukan untuk kepentingan pekerjaan. 80 persen responden dilaporkan bermain video games, media sosial, membuka-buka situs internet hingga menonton televisi di ponsel atau tablet mereka.

Tahun lalu, survei yang sama juga dilakukan pada responden berusia 8-18 tahun. Hasilnya sama, remaja rata-rata menghabiskan waktu selama 9 jam dengan gadget mereka dalam sehari, sedangkan anak-anak (rentang usia 8-12 tahun) menghabiskan waktu enam jam dalam sehari bermain gadget. Menariknya, 78 persen dari 1.800-an orang tua dari anak umur 8-18 tahun yang ambil bagian dalam survei ini merasa mereka adalah role model atau contoh yang baik bagi anak-anaknya, utamanya dalam hal teknologi.

            Kemdikbud yang meluncurkan program literasi untuk orang tua diharapkan melibatkan peran sekolah secara nyata dalam melakukan pendampingan kepada para orang tua murid. Sehingga tak ada kesan bahwa sinergi orang tua dan sekolah hanya pada saat tahun ajaran baru saja untuk menentukan besar uang seragam dan uang gedung saja.

Sumber gambar : http://centersoal.blogspot.co.id/2014/01/12-foto-keluarga-dengan-pose-yang-keren.html

Bagikan Artikel Ini
img-content
Romi Febriyanto Saputro

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Annual Meetings dan Kedaulatan Rupiah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua