x

Iklan

fintecher

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mendedah Daya Tarik Investasi Saham

Di era digital yang makin canggih ini transaksi saham bisa dilakukan melalui smartphone.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Investasi saham memang masih asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Kalangan terdidik pun hanya sedikit yang tahu dan paham tentang investasi saham. Wajar, universitas yang memiliki fakultas pasar modal sangat-sangat sedikit. Di lingkup fakultas ekonomi pun, pengenalan pasar modal tergolong minim dengan jumlah SKS yang sedikit.

 

Tak mengherankan, jika melongok dan membandingkan data dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura, terkuak persentase investor pasar modal Indonesia hanya 0,39% dari jumlah penduduk yang sebanyak 258 juta jiwa. Negara lain bisa mencapai 20% atau 30%.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Penyebab masih rendahnya jumlah investor di Indonesia adalah kurangnya literasi atau pengetahuan masyarakat tentang pasar modal. Sebagai perbandingan pada 2013 terdapat 3,8 % masyarakat yang sudah mengenal pasar modal. Sayangnya, hanya 0,1% yang memanfaatkannya.

 

Investasi saham makin menggiurkan dari waktu ke waktu karena daya tarik return (imbal hasil) yang jauh lebih besar dari jenis investasi lainnya (deposito, logam mulia, properti, bisnis, barang koleksi dan obligasi) dan dividen yang biasa diberikan setiap tahunnya. Selain daya tarik keuntungan yang besar, investasi saham juga menarik karena modal awal yang ditanamkan relatif kecil dibandingkan investasi lain seperti properti.

 

Modal awal untuk investasi properti biasanya mencapai jutaan rupiah, sedangkan untuk investasi saham modal awal yang dibutuhkan untuk membuka rekening awal dan setoran awal saja cuma ratusan ribu rupiah. Di sisi lain, modal awal investasi saham juga relatif kecil jika dibandingkan dengan investasi emas. Investasi emas jelas membutuhkan modal yang besar untuk membelinya.

 

Uniknya, kalau merasa belum memiliki banyak modal, kita tak perlu khawatir karena investasi saham bisa dilakukan dengan modal yang kecil terlebih dahulu. Selanjutnya, kalau sudah ada suntikan modal, kita bisa menambahkannya untuk membeli saham kapan saja.

 

Image bahwa bermain saham mensyaratkan modal awal yang besar sering menjadi “momok” sebagian besar dari kita untuk mulai investasi saham. Mitos bahwa investasi saham hanya dilakukan oleh dan untuk orang-orang kaya dengan sendirinya terpatahkan.

 

Fakta membuktikan investasi pasar saham bisa mulai dengan dana Rp. 100.000. Dengan modal yang kecil ini partisipasi masyarakat Indonesia dalam investasi saham seharusnya tinggi. Sayangnya, hingga kini kesadaran masyarakat untuk terjun ke pasar saham masih rendah. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih mengandalkan deposito.

 

Nah, di tengah kesibukan dan mobilitas hidup yang tinggi, investasi saham tentunya sangat cocok karena bisa dilakukan dimana saja. Mulai dari membuka rekening hingga membeli dan menjual saham bisa dilakukan di rumah atau pun di kafe. Apalagi, di era digital yang makin canggih ini transaksi saham online bisa dilakukan melalui smartphone.

 

Investasi saham kini juga makin menyenangkan karena tidak adanya biaya perawatan atau administrasi serta beban pajak yang relatif murah. Investasi properti jelas membutuhkan biaya perawatan setiap tahunnya, sementara investasi saham tidak dikenai biaya apapun. Properti, misalkan saat jual, akan dikenakan pajak sebesar 5%, bisnis UKM dikenakan pajak 1% dari omset, sementara saat penjualan saham pajaknya relatif kecil hanya 0,1%.

 

Investasi saham juga minim risiko hilang, rusak dan dicuri. Saham yang sudah kita beli disimpan di lembaga pemerintah dan dijamin aman. Sementara itu, potensi hilang, rusak dan dicuri justru riskan untuk investasi properti atau pun emas. Investasi saham yang kita miliki benar-benar aman karena investasi ini memang legal. Pemerintah menjamin keamanan dana nasabah dan saham kita.

 

Daya tarik lain dari investasi saham tentu saja aktivitas transaksi yang bisa dilakukan hingga sepanjang hayat selama kita masih sehat. Di masa pensiun pun aktivitas ini masih bisa dilakukan karena longgarnya waktu sehingga bisa intensif memantau pergerakan pasar saham.

 

Sayangnya, awareness masyarakat Indonesia untuk terjun ke investasi saham ini masih memprihatinkan. Masyarakat masih gampang dibayang-bayangi ketakutan akan kerugian dan melupakan potensi keuntungannya. Benar bahwa investasi saham berisiko. Namun, mana ada investasi yang tidak berisiko. Karena itulah investasi saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi pula.

 

Semua bisa dipelajari. Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan ketelitian. Percayalah bahwa cerdas itu lahir karena proses ketekunan dalam belajar. Tak ada yang salah untuk menjadi pembelajar investasi saham sejak dini.

Ikuti tulisan menarik fintecher lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler