Media Sosial dan Branding Diri

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sekarang media sosial adalah baris terdepan untuk menaikkan rating sebuah acara. Juga branding murah bagi yang ingin eksis menulis.

Mungkin jika ada lembaga pemeringkatan tentang aktifitas menulis, sayalah paling rendah nilainya. Sebuah opini, sharing, pendapat yang sering diupload di media tentu akan tercatat dalam buku data google. Apapun tulisannya jika selalu dipublikasikan tentu akan mendapat  perhatian dari pusat data google. Untuk menjadi konsisten menulis dan mempublikasikannya butuh energi serta  kuota internet dan yang lebih penting adalah menulis.

Saya cenderung naik turun, meskipun menulis tidak pernah absen tapi mempublishnya di blog atau di media massa sering bolong-bolong. Iya, inilah salah satu kritikan untuk saya. Kalau mau menjadi penulis handal dan dikenal ya harus rutin mengenalkan karyanya ke khalayak. Kalau bekerja setengah-setengah tentu nama yang di brand itu akan timbul tenggelam. Seperti Denny Siregar, idenya selalu segar mengalir di media sosial, bahasannya ringan namun sampai ke relung nurani, dan apa yang ditulisnya selalu menjadi bahan perenungan. Ada yang pro dan ada yang kontra, tapi itu bagian dari resiko penulis.

Sekarang media sosial adalah baris terdepan untuk menaikkan rating sebuah acara. Juga branding murah bagi yang ingin eksis menulis. Tulislah repertoar ringan di facebook, buatlah rutin, berseri, beranak pinak dan buat menjadi sekumpulan tulisan yang saling sambung, saling bertautan dan menimbulkan rasa penasaran terhadap kelanjutan ceritanya.

Jika tulisan terasa bernas, renyah dan nikmat dibaca sambil minum the atau ngopi barangkali anda penulis tengah dalam sebuah jalan benar untuk tenar dan mempunyai  branding untuk menjadi penulis. Denny Siregar sudah membuktikannya.

Akan selalu ada resiko terhadap karya yang sering menohok nurani. Denny mungkin dan sering diliputi ketakutan jika akhirnya tulisannya akan berbalik ke dirinya. Gara-gara tulisan-tulisan yang tajam dan sering membuat orang marah, emosi, tersinggung tentu membawa konsekwensi resiko paling buruk yang bisa diterima. Pasti ada orang yang tidak suka, tidak paham, tidak nyaman dengan tulisan penulis di media sosial. Kadang  tulisan menohok bisa menjadi viral dan disebar dari status satu ke status lainnya, dari hingga akhirnya pembacanya mencapai ribuan bahkan jutaan.

Vlog Kaesang menjadi  pemicu polemik dengan munculnya kata ndesa (dibaca ndeso). Vlog di Youtube yang berisi kritikan pedas  kepada anak- anak dan provokatornya untuk menyuarakan kebencian bahkan ungkapan kasar”bunuh” saat moment kental keagamaan menimbulkan  kegaduhan. Sebetulnya tidak ada yang aneh dalam ucapan kaesang, hanya dari sekian juta pasang mata orang ada yang mempunyai pemahaman berbeda tentang sindiran Kaesang. Malah ada nilai edukasi yang hendak disampaikan ke generasi muda untuk berpikir rasional, tidak menyuarakan dan menyebarkan ujaran kebencian. Lebih baik kerja keras membangun bangsa dengan bekerja sesuai bidangnya. Tapi ternyata pola pemikiran  orang, daya tangkapnya dan  persepsi seseorang berbeda. Di sinilah letak keluasan pikir seorang berpengaruh. Ada  seseorang yang sudah terdoktrin fanatik dan terlanjur tidak suka pada seseorang karena peristiwa politik menganggap apapun perkataan tokoh tersebut entah baik entah salah akan selalu jelek di matanya. Makanya mereka berusah mencari titik lemah sekecil-kecilnya untuk membidik kekurangan tokoh tersebut untuk menjadi senjata untuk menjatuhkan kredibilitasnya.

Media sosial sangat efektif untuk secara viral menyebarkan ujaran kebencian.Makian, dengan berbagai juruspun dilakukan. Lebih nyinyir lagi dengan mencuplik ayat-ayat suci dalam kitab suci agama untuk memperburuk citra seseorang yang mereka benci. Hadeuw.

Jika tidak waspada banyak sisi negatif media sosial, jika pengetahuan untuk membendung pengaruh negatif media sosial minim, barangkali banyak manusia terprovokasi untuk melakukan tindakan kriminal, radikal dan akhirnya masuk dalam jebakan  aliran sesat yang menggiring seseorang menjadi asosial, egois, bahkan ekstrem. Paham radikal yang masuk ke relung pemikiran anak muda akhir-akhir ini salah satunya adalah karena keterbukaan media serta derasnya arus informasi yang masuk ke dalam otak  tidak dicerna dengan baik. Banyak  penggila media sosial larut dalam kebencian yang di provokasi oleh kata-kata. Dan kata-kata serta video yang menyerbu ruang berpikir manusia itulah yang membuat seseorang terpacu untuk melakukan percobaan, mempraktekkan apa yang dikatakan dan apa yang dilihat. Peristiwa Bom poanci yang ditemukan di sebuah kos-kosan di Bandung menjadi bukti internet dan media sosial berpengaruh atas munculnya bibit-bibit ekstremisme, hadirnya penerus terorisme ISIS yang meresahkan dunia.

Lalu bagaimana peran  sekolah?

Peran sekolah tentu tidaklah besar. Sebab kadang  pengetahuan dan ilmu yang didapat dibangku sekolah hanya sebagian kecil dari luasnya ilmu-ilmu yang ditemukan di dunia maya. Sekolah mempunyai peran untuk menjadi pendamping siswa memfilter pengetahuan yang masuk, memeprkuat karakter siswa sehingga tidak mudah larut dalam derasnya kata-kata yang datang membandang di dunia maya.Gambar-kata-kata, bahasa,  yang memberondong hidup manusia itu adalah godaan, godaan yang harus diantisipasi, caranya adalah dengan memperkuat karakter diri sendiri. Manusia bisa memanfaatkan hal-hal positif internet, dan media sosial tapi harus bisa menyisihkan pengaruh buruknya dan tidak perlu ditiru.Pintar – pintarlah menarik kesimpulan dari pengetahuan yang datang dari media sosial.

Media sosial adalah sebuah jalan menuju ketenaran bila bisa memanfaatkannya, tapi bagaimanapun harus dengan sebuah proses yang benar, bukan hanya mencari sensasi tapi mengorbankan harga diri, mengorbankan akal sehat, mengorbankan kebenaran. Ketenaran atau pengakuan khalayak atas karya penulis akan lebih langgeng jika tidak melakukan pelacuran profesi, melakukan tindakan tidak terpuji dengan menjiplak, melakukan copy paste karya orang lain. Jika itu dilakukan  cepat lambat ketenaran itu akan meredup.

Saya berusaha alami ketika melakukan proses pembelajaran. Menjadi penulis itu perlu, stamina, perlu vitamin, perlu banyak membaca, membuka mata, merenung, kontemplasi dan berpikir luas. Jika kata-kata yang diumbar penulis hanya dari cuplikan kata-kata dan tulisan orang lain nantinya karya itu akan mongering. Tapi jika tulisan dan karya penulis itu buah permenungan, buah spiritual, buah pengalaman hidup akan terasa lebih dalam intisarinya sebab sebuah pengalaman individual seseorang akan banyak miripnya dengan yang dirasakan manusia pembacanya. Ini akan memberi kesan mendalam pembaca membaca karya penulis yang berangkat dari pemikiran dan kontemplasi buah –buah kehidupan. 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Pakde Djoko

Seni Budaya, ruang baca, Essay, buku

0 Pengikut

img-content

Sidang MK Panggung Para Ahli Hukum

Senin, 24 Juni 2019 12:37 WIB
img-content

Kritik dan Menghina Dua Hal Berbeda

Minggu, 16 Juni 2019 05:55 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua