x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Wooww, Mencuit 280 Karakter?

Akankah penambahan batas karakter cuitan Twitter mengubah pola ekspresi netizen?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Seperti dikutip sebuah media online, seorang netizen mengirim cuitan seperti ini: “Kebayang ga sih orang jepang korea cina kalo 280 karakter bisa nulis apa aja mereka 140 aja udah panjang banget kaya nulis pidato kenegaraan coba bayangin gimana kalau mereka pake 280 karakter mungkin orang jepang korea cina udah bisa nulis disertasi doktor lewat twitter kali ya.”

Pengelola akun resmi klub sepakbola Inggris Tottenham Hotspur mengirim cuitan seperti gambar di atas. Memang rupa-rupa tanggapan pengguna Twitter atas penambahan batas karakter yang bisa dikirim dalam sekali tweet, dari semula 140 karakter jadi 280 karakter. Tanggapan netizen umumnya lucu-lucu dan sepertinya netizen sedang berfoya-foya menikmati limpahan karakter, sehingga ada netizen yang mencuit: “Ikut berbahagia.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pro dan kontra soal perubahan batas karakter tentu saja terjadi, dan ini wajar saja. Sebagian netizen bilang, 140 karakter sudah bagus dan jadi ciri khas Twitter. Pengguna mencuit langsung to the point. Ada benarnya juga, tidak bertele-tele. Walaupun sebenarnya juga hanya menambah 140 karakter, namun di zaman serba cepat ini, penambahan batas karakter jadi dua kali lipat itu dianggap pemborosan yang menyita waktu.

Ada yang menarik, bahwa Twitter sebagai teknologi telah berhasil membentuk pola ekspresi pengguna media sosial. Dengan batasan 140 karakter, netizen dipaksa meringkas kata—walau jumlah karakter pada kata ini sudah sedikit (dengan jadi dg). Para pemakai twitter dibiasakan berpikir cepat dalam berkomentar, meringkas kata dan kalimat, menggunakan emoji, yang semuanya ini menandai perubahan cara berpikir dan berekspresi. Meskipun, ada risiko blunder bila keliru ngetik.

Dengan meningkatkan batas karakter yang bisa dipakai hingga dua kali lipat, Twitter melonggarkan aturan main. Respon pertama yang muncul saat ini adalah bentuk coba-coba, untuk kemudian pengguna berusaha menyesuaikan diri dengan 280 karakter yang tersedia (Ada netizen yang mencuit kelakar: “Saya gak mau memakai 280 karakter, cukup 279 karakter saja...).

Akan menarik untuk mengamati perubahan yang terjadi pada pola ekspresi netizen dalam mencuit. Apakah akan tetap ekspresif atau malah jadi kedodoran? Soalnya, keseruan Twitter antara lain terletak pada ekspresi yang ringkas dan cepat--ciri mikroblog. Ini mengajak netizen untuk berkomunikasi efektif. Secara teknis, kelonggaran batas maksimum karakter ini di sisi lain akan membuat netizen lebih sering men-scroll layar jika banyak cuitan yang panjang.

Betapapun, Twitter baru saja berubah, dan gelombang perubahan teknologi ini (walau hanya dalam hal batas maksimum karakter cuitan) akan memengaruhi pola ekspresi para penggunanya. Apakah maksud pengelola Twitter untuk memberi kemudahan kepada pengguna agar dapat menulis lebih cepat dan leluasa memang memberi pengalaman yang menyenangkan? Apakah batas karakter 280 akan dianfaatkan penuh, ataukah pengguna lebih suka yang lebih ringkas? Hingga beberapa waktu ke depan, perubahan pola ekspresi ini akan menarik untuk diamati. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler