Komperta Pelopori Gerakan Mahasiswa Mengajar - Analisa - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Komperta Pelopori Gerakan Mahasiswa Mengajar

    Sarana Bakti untuk Mahasiswa Sekitar Kampus UNEJ

    Dibaca : 1.293 kali

    Jember - Gerimis malam itu tidak menyurutkan semangat siswa SD dari beberapa sekolah untuk datang ke rumah belajar yang berlokasi diseberang tembok teritori Universitas Jember. Lebih tepatnya di JL. Jawa 07 Lingkungan Tegal Boto Lor RT/RT 02/024 Sumbersari Jember. Lokasi tersebut dipadati dengan bangunan yang difungsikan sebagai kos-kosan mahasiswa, namun disana juga masih kokoh berdiri perkampungan padat penduduk aseli setempat. Malam tersebut nampak disalah satu bangunan dipadati oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam GKM (Gerakan Komperta Mengaja,red), meraka sedang melakukan aktivitas bakti social berupa kegiatan belajar mengajar bersama dengan siswa-siswi yang tinggal di sekitar lingkungan Tegal Boto Lor. Para siswa dengan semangat menunggu kehadiran mahasiswa untuk mendapatkan sharing tentang berbagai hal.

    Agenda mingguan ini diinisiasi oleh para anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember Komisariat Pertanian (HMI Komperta,red) . Dilatar belakangi semangat berbagi kepada masyarakat. Beberapa kader melakukan riset kecil-kecilan disekitar Sekretariat/kantor HMI Komperta yang kebetulan berada dilingkungan tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan karena hampir rata-rata pemuda yang tinggal disekitar kurang dari 1 km dari kampus UNEJ ini jarang sekali yang melanjutkan studi lanjut ke perguruan tinggi. Fakta lain menunjukkan belum banyak siswa/siswi yang bercita-cita melajutkan pendidikan ke tingkat lanjut bahkan ketika kami tanya tentang cita-cita, para siswa ini masih kebingungan untuk menentukan.

    Berangkat dari permasalahan tersebut, para kader HMI Komperta membuat suatu kajian mengenai kondisi yang ditemukan dilapangan. Dari hasil kajian diperoleh perumusan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya minat masyarakat lingkungan Tegal Boto Lor khususya di sekitar kantor HMI Komperta untuk melanjutkan studi lanjut ke Perguruan Tinggi. Ya, Faktor tersebut tidak bisa diklaim 100% benar karena memang hanya asumsi para peserta kajian. Faktor-faktor tersebut yang pertama, mengutip pidato Sri Mulyani (Menkeu RI) dalam pidatonya pernah disampaikan bahwa factor ketimpangan antara tingkat pendidikan dikampung/desa lebih rendah daripada dikota adalah karena “layanan kesehatan”.

    Data menunjukkan sekitar 37% balita Indonesia mengalami stunting, atau tidak menerima nutrisi yang cukup, mulai dari kandungan hingga usia 2 tahun. Stunting mengakibatkan otak seorang anak kurang berkembang. Ini berarti 1 dari 3 anak Indonesia akan kehilangan peluang lebih baik dalam hal pendidikan dan pekerjaan dalam sisa hidup mereka.

    Sri Mulyani menambahkan “Ini adalah musibah bagi Indonesia. Tingkat stunting di Indonesia sangat tinggi dibanding negara tetangga. Misalnya, tingkat stunting di Thailand adalah 16%, dan di Vietnam 23%”. Penulis mengasumsikan bisa jadi faktor tersebut membuat para siswa di Lingkungan Tegal Boto Lor menjadi penyebab untuk mereka berkeinginan meneruskan pendidikan. Ketidakmampuan otak untuk menangkap suatu materi, atau pelajaran terkadang membuat siswa menjadi malas dan malu terhadap teman sebaya atau sekelas. Hal terebut juga diperparah dengan metode mengajar yang disamaratakan di sekolahan, baik untuk siswa yang secara kemampuan otak cerdas, dengan yang kurang cerdas akibat stunting tadi.

    Faktor kedua adalah belum meratanya kualitas pendidikan di Indonesia. Sekolah di desa berpeluang lebih kecil untuk memiliki guru terlatih dan fasilitas yang baik. Ketidakhadiran guru pun menjadi masalah.

    Akibatnya, capaian pendidikan sangat bervariasi antara kabupaten dengan kota, dan antar provinsi. Sebagai contoh, anak kelas 3 SD di Jawa bisa membaca 26 huruf lebih cepat per menit dibanding anak di Nusa Tenggara, Papua, atau Maluku. Data tersebut memang tidak dapat langsung kita komparasikan dengan kondisi di Lingkungan Tegal Boto Lor, Jember. Tetapi data diatas cukup dapat menjadi sumber bagaimana ketimpangan yang terjadi antara siswa di kota dengan di desa atau dikampung pinggir kota. Kondisi tersebut terang akan berdampak kepada peluang untuk bisa memasuki kampus-kampus favorit.

    Ditambah lagi dengan kondisi perekonomian masyarakat lokal yang dapat dikategorikan menengah kebawah. Data yang pernah disampaikan oleh Sri Mulyani ini dapat kita jadikan refeleksi bahwa pada tingkat SMA, angka partisipasi sekolah turun drastis bagi penduduk miskin. Hanya 33% anak-anak dari kelompok 20% termiskin tetap sekolah pada tingkat SMA, dibandingkan dengan 76% untuk kelompok 20% terkaya. Dapat kita ambil contoh dari kawan dan rekan kita dimana mereka dengan kondisi mampu akan dapat mendapatkan kesempatan mengakses fasilitas pendidikan baik formal disekolah favorit maupun informal les, privat yang lebih baik dibandingkan dengan teman kita yang kurang mampu, dimana jarang sekali mendapat tambahan fasilitas dan kesempatan untuk belajar diluar sekolah. Patut kita syukuri, di Jember biaya pendidikan formal sudah di gratiskan.

    Faktor yang terahir adalah tidak adanya figure dari anggota kelurga dengan riwayat pendidikan tinggi. Bagaiamanapun keluarga merupakan kiblat pertama yang akan dilihat oleh anak-anak untuk berani menggantungkan cita setingginya. Tetapi kalau tidak ada figure panutan yang mendorong, memberi motivasi untuk melanjutkan studi ke pendidikan tinggi, maka seorang anak tersebutpun juga ragu-ragu mankalah hendak menggantung lebih tinggi citana dari anggota keluarga yang lain.

    Kader HMI yang notabene mahasiswa turut bertanggung jawab untuk terlibat didalam upaya pendampingan terhadap masyarakat agar bisa terwujud masyarakat madani. Hal tersebut sesuai dengan fungsi dan peran mahasiswa sebagai agen of change. Untuk merubah dari kondisi kurang baik menjadi lebih baik harus diihtiarkan. upaya yang paling dilakukan oleh kader HMI Komperta dalam kapasitas sebagai mahasiswa yang pertama adalah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Prof H. Mahmud Hunus, pernah menuturkan bahwa "pendidikan adalah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dna akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dna cita-cita. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya”.

    Memulai dengan menggalang massa yang terdiri dari anggota HMI Komperta gerakan ini akan memberikan kelas-kelas inspirasi kepada siswa-siswi sekitar lingkungan Tegal Boto Lor. Mahasiswa dengan bekal pengetahuan dan keterampilan masing-masing akan membagikan apapun yang dapat mereka bagikan, baik itu berupa moril maupun materil kepada siswa-siswi binaan GKM. GKM yakin bahwa hal ini kecil akan berdampak besar. Odie (Kordinator GKM), menjelaskan bahwa “dengan Gerakan ini siswa yang sebelumnya tidak mempunyai fasilitas les tambahan diluar sekolah akan kami akomodir, yang belum punya figure bisa melihat teman2 yang ganteng dan keren, serta yang sebelumnya belum ada yang mendorong untuk kuliah akan kami motivasi terus”. Selain itu gerakan ini juga akan menjadi sarana bakti untuk para mahasiswa agar kembali menumbukan semangat filantropi-nya terhadap masyarakat. Berbagai sharing mulai dari pelatihan Bahasa inggris, teknik hidroponik, fun game, tilawah akan di bagikan kepada siswa binaan. Odie menambahkan “Sinergitas antara mahasiswa dengan mahasiswa sudah biasa. Yang harus diperbarui adalah mahasiswa dengan masyarakat, saat ini sudah harus dalam bentuk tindakan, paper, LKTI saja tidak cukup untuk dapat mewujudkan generasi cerdas dimasa depan menuju masyarakat adil, makmur yang diridlai Tuhan YME”. Kegiatan positif ini akan dilakukan secara berkesinambungan, semoga gerakan ini juga akan diikuti oleh seuruh mahasiswa dikosan/kontrakannya masing-masing. Dengan open house untuk keperluan belajar para siswa sekitar kosan. Kalau semuanya bergerak satu kosan satu wadah bimbel gratis. Dengan banyaknya jumlah kosan maka akan terbentuk ribuan lembaga bimbel gratis namun bermutu baru di Jember (11/12).



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.