x

Iklan

Chaterine Tika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Memahami Meme sebagai Kritik Sosial

Fenomena meme menandai the power of millennials dalam menyuarakan kritik sosial dan merangsang kepekaan terhadap isu-isu terkini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), meme bermakna cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan-tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur. Meme muncul di berbagai media sosial, muncul di hampir di setiap isu  yang muncul di tengah masyarakat dan membuatnya menjadi satir yang menggelitik.

Dibuat oleh penulis Inggris, Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene, sebuah meme dianggap setara dengan budaya sebagai gen bagi manusia. Mereka dinilai mampu mendorong evolusi budaya, seperti Darwinisme budaya pop. Pada tahun 1993, Wired mendefinisikan meme sebagai sebuah gagasan yang menular, sama seperti virus yang melompat dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Bukti pemikiran dari ahli yang disebutkan di atas menunjukkan meme bukanlah istiah baru, namun baru sedikit yang menelusuri untuk memahami apa makna meme sebenarnya. Bahkan beberapa menuduh pembuat meme merupakan tindakan kejahatan dan merugikan yang perlu dilaporkan kepada pihak berwajib.

Fenomena meme menandai pergeseran konsep komunikasi masa tradisional. Terfasilitasi teknologi canggih seperti internet, meme bebas mengangkasa menyebarkan konten kritik dan ekspresi tanpa melalui surat kabar resmi. Meme juga memperkuat perubahan lingkungan komunikasi masa yang berubah dengan sangat radikal.

Saya rasa kehadiran meme tidak akan pernah berakhir di negara demokrasi seperti Indonesia, akan tetapi harapan beberapa pihak konten meme diharapkan dapat dipertanggungjawabkan baik bagi si pembuat maupun penyebar. Subtitusi meme hanyalah sebuah ekspresi pribadi seseorang terhadap situasi melalui sindiran visual, ibarat status yang dibuat individu dalam sosial media mereka. Apabila meme cenderung bermuatan kritik dan negatif, tetapi sisi positif meme juga patut diperbincangkan. Meme dapat menjadi stimulan generasi muda agar tergoda dengan isu-isu politik dan lingkungan yang sedang terjadi disekitarnya.

Berpotensi Propaganda 

Dalam buku berjudul Komunikasi Antarbudaya: Di Era Budaya Siber, Rulli Nasrullah menuliskan manifestasi dari budaya siber meliputi berbagai interaksi manusia yang dimediasi oleh jaringan komputer. Hal-hal tersebut mencakup segala aktivitas komunikasi termasuk budaya kritik dimana internet dan konvergensi media mampu mendukung keterbukaan politik melalui internet.

Sejalan dengan budaya kritik, Stanley J Baran dalam bukunya Mass Communication Theory mengungkapkan teori kritik secara terbuka mendukung nilai-nilai tertentu dan menggunakan nilai-nilai ini untuk mengevaluasi dan mengkritik status quo, memberikan cara alternatif untuk menafsirkan peran sosial media massa. 

Penjelasan di atas menunjukkan gelombang kritik serta gerakan politik dunia maya dapat bergerak tanpa lembaga. Kekuatan kritik kini berada di ujung jari warganet dengan hanya membagikan ulang tautan, seorang pengguna media sosial sudah ikut dalam membesarkan gelombang opini publik. Akan tetapi potensi penyimpangan jelas bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti halnya kritik berpotensi besar sebagai materi mempropaganda massa. Kesederhanaan format visual serta penggunaan verbal yang mudah dicerna, membuat meme mudah memunculkan citra tersendiri terkait tokoh-tokoh politik yang dijadikan target.

Fenomena meme ini makin masif ketika tanah air sedang memasuki masa kampanye gubernur DKI yang belum lama terjadi. Saat itu, iklim perpolitikan Indonesia memanas dan hadirnya meme-meme menumpahkan rona merah untuk memobilisasi massa dalam menghadapi persaingan. Layaknya yang dilakukan propagandis. Didukung oleh video yang menyebar, meme menjadi statement yang digunakan propagandis untuk menembakkan peluru ajaib sebagai gagasan yang menarik untuk dicerna. Cara ini juga salah satu yang disebutkan teori Behaviorsm, Stanley J Baran mengungkapkan teori ini salah satu yang mendukung aksi propaganda di mana kebanyakan perilaku manusia adalah hasil pengkondisian oleh lingkungan eksternal. Individu dikondisikan untuk bertindak dengan cara tertentu melalui rangsangan positif dan negatif.

Agaknya teori propaganda terlihat sangat sederhana untuk diterima, akan tetapi lahirnya sosial media mencetuskan kreatifitas sang propagandis yang efektif  merangsang warganet yang rentan terhadap propaganda virtual. Sebagai catatan, selama propaganda seperti meme masih gemar berkonten isu SARA dan media pembunuhan karakter, menunjukkan warganet dipandang sebagai individu yang tidak mampu mengendalikan diri secara rasional.

Kritikan Sosial dan Kampanye

Menelisik studi kasus pelaporan pihak Setya Novanto atas pembuat meme dan penyebarnya, kata seorang Pengamat Media Sosial Nukman Luthfie saat dikonfirmasi Harian Nasional menyebutkan "Saya rasa meme tersebut merupakan kritik sosial. Setya Novanto mengabarkan via medsos sedang sakit dan tak bisa memenuhi panggilan KPK, lalu menuai respons lewat twitter, status, dan meme. Jadi saya kira tidak mengandung unsur penghinaan dan pelecehan,". Sampai sekarang pun sebenarnya belum ada larangan pembuatan meme, namun pemerintah berharap warganet bijak dalam bermedia sosial.

Ada pula karya yang sebenarnya mirip dengan meme, yakni mural. Hanya saja media mural adalah dinding, dan kritikannya cenderung bersifat lebih universal dan artristik. Sedangkan meme yang bersifat lebih eksplisit dan muatannya satire. Saya pun menemukan banyak meme mengandung pesan sosial dan politik yang kritis dan inspiratif. Memang tidak semua orang mampu membuat yang seperti ini, memadukan sense of humor dalam isu sosial politik, memiliki kecerdasan memilih diksi, dan lihai memadukan visual.

Mengambil kisah dari Jawa Pos dalam artikelnya yang mengusung nama-nama orang kreatif pembuat meme viral, saya tertarik dengan salah satu kreator meme. Adalah seorang anak muda bernama Andre Prodjo, yang tak lain adalah Managing director Meme Comic Indonesia (MCI). Atas keprihatinannya menyaksikan persaingan politik di Indonesia yang tak sedikit pendukung terbawa emosi hingga memantik umpatan dan kata kasar, mendorong dirinya untuk bersuara lewat meme. Berkembang dari komunitas, MCI telah menjadi sumber mata pencaharian bagi para kreator meme. Layaknya sebuah lembaga surat kabar, ternyata MCI juga cukup berhati-hati dalam membuat meme. Andre menuturkan “Meski sederhana, membuat meme memang tidak boleh sembarangan. Keliru sedikit saja bisa jadi panjang urusannya. Apalagi, netizen tanah air sangat kritis. Mereka tidak segan melancarkan teror dengan nada-nada kasar ketika tidak sepakat dengan meme yang dibuat”.

Komitmen MCI agar tidak sembarangan menyebarluaskan meme dengan membatasi akses member sesuai dengan umurnya. Sehingga yang sudah cukup umur dapat mengakses meme konten dewasa. MCI juga berupaya mengedukasi membernya dengan menyuguhkan materi edukasi bahaya seks bebas.

Dengan ruang terbatas pada meme, tidak jarang pesan yang disampaikan lebih mudah diserap. Sehingga cepat dimengerti para member. Karena itu, kemampuan menyederhanakan masalah penting bagi kreator meme. Melalui meme, MCI juga turut mempromosikan destinasi wisata dalam negeri. Mereka bekerja sama dengan Kementerian Pari­wisata. Dengan tagline "Gak Pake Paspor", mereka mempromosikan berbagai objek wisata di tanah air.

Gerakan #SaveMeme

Atas dipolisikannya sejumlah akun yang membuat meme saat Setya Novanto membuat netizen di media sosial geram. Mereka beramai-ramai menggunakan hashtag #SaveMeme di Twitter dan menjadi trending topic di Indonesia. Bahkan dilaporkan oleh Kompas.com ­ pengguna internet ramai-ramai menandatangani petisi meminta Polri menghentikan penyidikan tersebut. Petisi kurang lebih telah mencapai angka puluhan ribu tandatangan. Mereka menilai adanya kriminalisasi terhadap warganet yang tak terlepas dari peliknya pasal defamasi atau pencemaran nama baik yang ada di UU ITE dan KUHP yang merupakan pasal kolonial yang dipertahankan untuk melindungi orang-orang berkuasa.

Subtitusi meme adalah untuk mengkritik isu-isu sosial dan politik, dalam wacana demokrasi hal ini harus diperjuangkan. Semakin terang, bahwa tanah air ini membutuhkan gerakan masa yang nyata untuk mencegah ketidakadilan dan ketidakberesan kaum elit. Fenomena meme dan media sosial adalah wujud dimana teori interpretasi mikroskopis bekerja. Garnham menyebutkan teori interpretasi mikroskopis memusatkan perhatian pada bagaimana individu dan kelompok sosial menggunakan media untuk menciptakan dan mendorong bentuk budaya yang membentuk kehidupan sehari-hari. Publik lah yang menghalau dirinya sendiri dari budaya intepretasi makroskopis agar masyarakat tidak menjadi korban ekonomi kapitalis kaum elit yang telah mengeksploitasi institusi media.

Ikuti tulisan menarik Chaterine Tika lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB