Novel Baswedan, Polisi Indonesia dan Polisi China - Analisa - www.indonesiana.id
x

jubir darsun

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Novel Baswedan, Polisi Indonesia dan Polisi China

    Dibaca : 2.311 kali

    Bagi sebagaian publik, yang menimpa novel Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi masih menyisakan tanda tanya besar tentang pelaku dan motif penyiraman air keras tersebut. Penyiraman air keras terhadap novel konon berkaitan dengan kasus korupsi yang dia tangani. Pihak kepolisian pun seakan menyerah untuk menemukan kembali ‘mata novel bagian kanan’ yang rusak akibat penyiraman tersebut dan kini masih dilakukan perawatan intensif.

    Terkait kinerja kepolisian Republik Indonesia yang lamban dan tak bertaji ini, sangat kontras bila dibandingkan kinerja kepolisian negara China dalam mencari barang bawaan seorang peserta, rombongan dari partai penguasa yang mengikuti sekolah kepartaian atas undangan resmi pemerintah China pada November 2017 lalu.

    Awalnya, mas Tio demikian ia dipanggil sangat pesimis barang bawaannya akan ditemukan. Sikap frustasi yang ditujukan oleh mas Tio dilatarbelakangi kinerja kepolisian di negaranya yang lamban, acuh dan butuh pelicin untuk bergerak menyelesaikan masalah masyarakat di Indonesia.

    Kejadian persisnya begini, setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Pudong, Shanghai,  Pukul 22.30 waktu China, Rombongan sekolah Partai dari Indonesia diantar menuju ke hotel yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan. Rombongan dan barang bawaan ditempatkan terpisah dalam mobil yang berbeda.

    Ditemani oleh pemandu bernama tuan Lee, kami menyusuri kota Shanghai menuju hotel Jin Yang. Dalam perjalanan, pemandu kami menyampaikan beberapa hal penting terkait agenda sekolah kepartaian dan kemana saja kami esok hari memulai rutinitas sekolah.

    Setelah sampai di hotel, sambil menunggu barang bawaan, kami ngobrol dan berdiskusi tentang tugas yang yang harus dikerjakan demi kelancaran aktivitas esok hari. Pada saat kami sedang berdiskusi, di sebelah kami seorang pria paruh baya tengah pulas tertidur dengan Ipad tergeletak di meja. Melihat pemandangan tersebut, kawan saya langsung berkata, kalau di Indonesia, Ipad yang tergeletak ini langsung raib. Sontak kami pun tertawa.

    Setelah menunggu beberapa lama, barang bawaan kami pun tiba. Dengan rasa kantuk yang tertahan, kami pun menuju kamar sambil menenteng barang kami masing-masing. Mas Tio dan teman yang lain rombongan dari partai penguasa, karena rasa kantuk yang sangat, tak menghiraukan lagi barang bawaannya.

    Esok paginya saat kami sarapan, seorang perempuan muda mendatangi kami dan menginformasikan sekaligus bertanya tentang barang bawaan seorang peserta yang hilang tadi malam. Barang bawaan yang hilang tersebut kepunyaan mas Tio.

    Dengan bahasa asing semampunya, kami pun memastikan tidak membawa barang bawaan mas tio ke kamar kami. Berulang-kali perempuan muda yang saya ketahui setelahnya adalah pemandu kami juga bertanya apakah tidak membawa barang bawaan lain selain barang bawaan kami. Lama-kelamaan kami pun risih dan dengan yakin menjawab tidak membawanya.

    Setelah berkoordinasi dengan pihak hotel, diputuskan untuk melihat rekaman CCTV. Alangkah kagetnya kami, barang bawaan mas Tio dibawa keluar oleh laki-laki yang kami lihat semalam tengah tertidur pulas. Pemandu kami pun berdiskusi dengan mas Tio dan menyarankan untuk melapor kepada pihak kepolisian.

    Dengan enggan, mas Tio menolak. Mas Tio beralasan, biarlah barang bawaan saya yang hilang tersebut menjadi kenangan untuk saya ceritakan kepada kawan-kawan di Indonesia. Pemandu kami pun melapor kepada pimpinan partai tentang kejadian kehilangan ini dan pimpinan partai memutuskan agar kejadian ini tetap dilaporkan. Setelah berdiskusi kembali dengan mas Tio, esok harinya ditemani oleh pemandu sekolah partai, mas Tio melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.

    Sebagai saksi pelapor, mas Tio diperiksa selama tujuh jam lamanya. Tepat jam 16.00 waktu China pemeriksaan berakhir dan mas Tio kembali ke Hotel. Selama dua hari lamanya, mas Tio tidak bisa mengikuti berbagai agenda sekolah partai akibat kehilangan tersebut.

    Sontak kami dikagetkan oleh informasi bahwa laki-laki yang mencuri barang mas Tio telah ditangkap hanya berselang satu jam lamanya dari berakhirnya pemeriksaan mas Tio. Pemeriksaan berakhir jam 16.00 waktu China dan pencuri ditemukan jam 17.00 waktu China. Kami seakan tak percaya, kerja kepolisian China begitu sigap menanggapi pelaporan kehilangan tersebut. Bila di Indonesia, jangan ditemukan, di cari pun tidak. Persis yang dialami oleh Novel dan nasib berbagai aktivis anti Korupsi yang pelaporannya mungkin sudah tak dihiraukan lagi. Semoga tidak!

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.