Kemajuan Teknologi dan Masa Depan Umat Manusia - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Jalal

Keberlanjutan; Ekonomi Hijau; CSR; Bisnis Sosial; Pengembangan Masyarakat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Kemajuan Teknologi dan Masa Depan Umat Manusia

    Dibaca : 3.342 kali

    Saya menjadi anggota lebih dari 20 whatsapp group (WAG), dan sejak 2/2 2018, 8 di antaranya—selain  seorang sahabat lewat japri—mengirimkan tulisan Ahmad Faiz Zainuddin bertajuk “Move-on dari Era Disruption, Menyongsong Era Abundance.”  Sebagaimana judulnya, tulisan menarik tersebut menyatakan bahwa sesungguhnya disrupsi adalah seperti bola, sementara kelimpahan adalah tujuan bola tersebut.  Zainuddin menyatakan bahwa kita seharusnya lebih memerhatikan trajektori bola tersebut, bukan terpaku pada bolanya.  Mengingat banyaknya WAG yang menampilkannya, tampaknya tulisan itu sudah atau segera menjadi sangat popular. 

    Zainuddin, dinyatakan di situ mahasiswa MBA Universitas Warwick dan alumni Singularity University, dan dia bertutur soal apa yang diajarkan di organisasi yang disebut terakhir itu.  Bukan universitas betulan, tetapi sebuah think tank teknologi terkemuka sekaligus inkubator bisnis di Silicon Valley, California, AS.  Singularity University didirikan oleh dua orang, Ray Kurzweil dan Peter Diamandis di tahun 2008.  

    Kurzweil menulis The Age of Spiritual Machines di tahun 1999, yang di dalamnya terkandung ide The Law of Acccelerating Returns dan penjelasan soal Moore’s Law, sebagaimana yang ditulis Zainuddin.  Tetapi, sebetulnya ide Kurzweil yang dituliskan di dalam buku setebal 400 halaman itu jauh lebih banyak lagi.  Filsafat tentang benak, ramalan tentang intelegensia buatan, otak dan tubuh buatan, seperti beberapa ide yang tampaknya seperti keluar dari layar film fiksi ilmiah dibahas dengan sangat mendalam.  Dalam pengamatan saya, Kurzweil sudah tampak seperti ‘nabi’ intelegensia buatan, yang membuat namanya nongol setiap kali saya menyaksikan film macam The Ghost Shell dan Blade Runner 2049.

    Tulisan Zainuddin sendiri lebih banyak membahas apa yang diajukan oleh sang pendiri kedua, Diamandis.  Diamandis terkenal salah satunya lantaran apa yang disebutnya sebagai “The 6 Ds of Exponential Growth”—yang menyebutkan masa depan ditandai dengan digitalisasi, desepsi, disrupsi, dematerialisasi, demonetisasi, dan demokratisasi.  Sebetulnya pemikiran itu bukan milik Diamandis seorang, melainkan hasil kolaborasinya dengan jurnalis teknologi terkemuka, Steven Kotler, yang mereka tuangkan di dalam buku Abundance: The Future is Better Than You Think (2012) serta Bold: How to Go Big, Create Wealth, and Impact the World (2015).

    Membaca tulisan Zainuddin tersebut, dan ketiga buku yang kebetulan saya sudah baca seluruhnya, saya langsung terkenang pada bagaimana sejak lama para pemikir hendak meramalkan masa depan dengan penjelas tunggal. Beberapa penulis besar sudah melongok masa depan sebagai konsekuensi dari kekuatan ekonomi, seperti misalnya Karl Marx yang sangat yakin dengan cerita masa depan yang dia susun dalam The Communist Manifesto (1848) dan Das Kapital (tiga jilid, mulai 1867 hingga 1894).  Di karya-karyanya Marx menyatakan bahwa Kapitalisme pasti tergusur dan masa depan pastilah berideologi Komunisme. Francis Fukuyama punya keyakinan yang berbeda dengan Marx, sebagaimana yang dituangkan dalam The End of History and the Last Man (1992).  Masa depan itu universal dan homogen: demokrasi liberal nan kapitalistik. 

    Buat Kurzweil, juga Diamandis dan Kotler, penentu masa depan itu bukan ekonomi, bukan politik, bukan biologi, dan yang lain. Penentunya adalah teknologi.  Dan buat mereka perkembangan teknologi yang sudah terjadi, dan akan terjadi sebagaimana yang mereka yakini, akan berkonsekuensi pada kebaikan buat seluruh umat manusia.  Teknologi akan memunculkan free economy dan sharing economy, menurut mereka, yang ditekankan kembali oleh Zainuddin.  Lihatlah buktinya: kita bisa berkirim surat gratis lantaran teknologi email, menelepon gratis lewat beragam aplikasi, belajar dan kuliah gratis lewat Khan Academy dan massive open online course (MOOC), juga mendapatkan hiburan gratis sebagaimana yang bisa diakses lewat Youtube atau Spotify.  Masih banyak contohnya, dan akan makin banyak di masa mendatang.

    Contoh-contoh seperti itulah yang membuat Zainuddin berkesimpulan bahwa di masa depan tak akan ada lagi orang yang miskin, kelaparan, dan kekurangan sandang pangan.  Masa depan itu tidak berat, bukan lantaran sudah ditanggung oleh Dilan seorang, melainkan karena “...umat manusia selalu berhasil mengatasi tantangan zamannya masing-masing.”  Begitu pesan Zainuddin, sehingga kita “...tidak perlu khawatir berlebihan.”  Nyaman bukan?

    Mungkin begitu.  Mungkin pula tak seperti itu.  Kurzweil memang digadang-gadang sebagai orang yang punya ‘bola kristal’ dalam meramalkan teknologi. Pujian soal ketepatan ramalannya itu seabreg, dan itu membuat alasan banyak orang menyatakan bahwa seharusnya kita menjadi optimistik terhadap masa depan.  Tapi, bukankah banyak di antara para pakar juga yang memberikan gambaran sebaliknya?  Kalau Kurzweil dkk jadi juru bicara utopianisme yang paling handal, banyak juga di antara mereka yang berkaliber setara yang memberikan gambaran yang bertolak belakang. 

    Stephen Hawking, misalnya, berkali-kali menyatakan keyakinan bahwa perubahan iklim tak bakal bisa diatasi umat manusia, dan kehancuran majoritas umat manusia adalah suatu keniscayaan.  Kecuali, kalau manusia berhasil menemukan planet lain yang bisa dihuni.  Elon Musk punya kekhawatiran yang sangat serius atas intelegensia buatan, yang membuat dia ‘berbalas pantun’ dalam kericuhan melawan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook dan pendukung mati-matian intelegensia buatan.

    Kalau benak-benak paling brilian sudah saling berseberangan, bagaimana kita yang punya intelegensia rerata ini bisa bersikap? Apakah ini benar-benar cuma soal selera atau kecenderungan yang sudah melekat dalam diri masing-masing.  Kalau kita cenderung optimis, marilah ada di kubu Kurzweil dan rekan-rekan teknoutopis-nya.  Kalau sedari orok kita sudah dihajar dengan kenyataan-kenyataan buruk dan mimpi-mimpi kita hancur sepanjang perjalanan hidup, kita bisa bergabung di kubu seberangnya yang pesimis.  Begitukah?

    Saya ingin mengajukan satu pendirian lagi yang menurut saya bisa menjembatani itu, yaitu pendirian realistis.  Menurut para realis, masa depan tentu saja ada pada genggaman kita sendiri.  Apakah masa depan itu baik atau buruk, benar-benar hasil dari kita menyikapi realitas sekarang.  Para realis juga selalu bersikukuh bahwa masa depan itu tidak ditentukan oleh kekuatan tunggal, macam ekonomi, politik, teknologi, atau lainnya.  Masa depan itu adalah hasil dari beragam kekuatan yang umat manusia secara kolektif menciptakan dan mengarahkannya.

    Kalau bicara dari sudut pandang teknologi semata, umat manusia sudah bisa menyelesaikan masalah perubahan iklim sejak lebih dari satu dekade lampau.  Tahun 2004, Stephen Pacala dan Robert Socolow dari Universitas Princeton menuliskan Stabilization Wedges: Solving the Climate Problem for the Next 50 Years with Current Technologies, yang menjelaskan bahwa semua teknologi yang dibutuhkan sudahlah ada.  Pada kenyataannya, dengan teknologi yang terus berkembang, kita belum juga aman.  Perhitungan mutakhir jelas menunjukkan bahwa kita masih jauh dari aman.  Perbaikan-perbaikan memang terjadi, teknologi baru ditemukan, ekonomi hijau menguat, tapi belum juga bikin kita pasti selamat dari bencana perubahan iklim.

    Mengapa subsidi untuk energi fosil bisa mencapai USD5 triliun setahun, sementara investasi di energi terbarukan cuma seperempatnya?  Ini jelas persoalan ekonomi-politik, bukan sekadar teknologi.  Mengapa kita menemukan jauh lebih banyak kandungan sampah di dunia maya daripada informasi yang tepat, berita-berita yang menjunjung kode etik jurnalistik, dan kandungan lain yang mendidik.  Mengapa untuk setiap materi berbobot seperti yang dibuat Salman Khan atau dimuat di TED Talk ada berkali-kali lipat penyesatan?  Ini juga jelas-jelas bukan masalah teknologi.  

    Facebook telah dibuktikan menjadi sarana disinformasi dan kampanye hitam, termasuk yang membuat orang macam Donald Trump duduk di tampuk kekuasaan tertinggi di AS.  Baru belakangan, setelah diserang dari segala penjuru, Facebook membuat perubahan kebijakan atas berita-berita yang ditampilkannya.  Algoritma yang ada di belakang Youtube didesain untuk mendistorsi realitas, sebagaimana yang diadukan oleh Guillaume Chaslot, insinyur yang membuatnya.  Bukan rahasia lagi kalau para penggede perusahaan-perusahaan media sosial tak mengizinkan anak dan sanak saudara mereka untuk memanfaatkan media sosial seperti orang kebanyakan.  Ini masalah global, yang juga kita ‘nikmati’ di Indonesia.  Siapa yang bisa melupakan betapa menjelang Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 kita dikepung oleh hoax dan ujaran kebencian yang datang lewat hampir seluruh jenis media sosial?

    Sangat jelas juga bahwa berbagai teknologi itu terutama mendatangkan keuntungan kepada mereka yang membuatnya, memilikinya, dan/atau yang lebih besar aksesnya.  Whatsapp menyediakan kemungkinan mengirimkan pesan secara ‘gratis’, tapi pembuatnya-lah yang mendapatkan kekayaan tambahan USD16 miliar dari akuisisinya oleh Facebook.  Dan, jangan dikira Facebook tidak akan melakukan monetisasi atas itu.  Facebook, sebagaimana yang telah banyak ditulis, sesungguhnya ‘menjual’ penggunanya, dan ada masalah privasi yang serius di situ. 

    Teknologi digital itu sendiri kerap dinyatakan sebagai jalan yang brilian untuk menekan penggunaan kertas.  Paperless adalah mantra yang dahsyat.  Tetapi, teknologi digital juga membuat peningkatan konsumsi listrik gila-gilaan, yang sebagian besarnya masih dipenuhi lewat energi fosil.  Apakah benar bahwa teknologi digital menjadikan kita ramah lingkungan?           

    Jadi, kita tak bisa memungkiri kemajuan teknologi bisa membawa kenyamanan, tetapi tak bisa juga membuta pada ekses negatifnya.  Kalau hendak mendapatkan pandangan yang lebih berimbang soal peran teknologi buat kehidupan di masa mendatang, kita bisa merujuk lebih banyak buku lagi yang juga menuai banyak pujian dari para pakar dan pembaca awam, seperti karya Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016), juga buku Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution (2016), karya Alec Ross bertajuk The Industries of the Future (2017), serta kajian Max Tegmark dalam Life 3.0: Being Human in the Age of Artificial Intelligence (2017). Menurut hemat saya, buku-buku tersebut lebih berimbang dalam melihat konsekuensi teknologi untuk masa depan umat manusia.            

    Bagaimanapun, saya sangat setuju bahwa bertutur soal masa depan yang buruk itu tak bermanfaat sama sekali.  Tetapi, menceritakan kegemilangan masa depan sebagai sebuah kepastian itu juga problematik.  Kita perlu memilih narasi besar tentang kemungkinan kondisi yang lebih baik, atau, dalam istilah yang dipilih guru para pakar keberlanjutan, John Ehrenfeld, flourishing.  Dengan bertutur soal kemungkinan masa depan yang baik itu, sekaligus kemampuan manusia untuk menggapainya, plus berbagai jalan yang bisa ditempuh umat manusia, maka kita secara bersama-sama bisa mencapai kondisi yang lebih baik itu.  Intelegensia manusia sesungguhnya adalah sumberdaya yang luar biasa, yang sangat mungkin memecahkan segala masalah kontemporer, sebagaimana yang dituliskan bukti-buktinya oleh Ramez Naam dalam The Infinite Resource: The Power of Ideas on a Finite Planet (2013).       

    Sang Bijak William Arthur Ward pernah menyatakan, "The pessimist complains about the wind; the optimist expects it to change; the realist adjusts the sails."  Saya tak ingin dunia disesaki mereka yang doyan mengeluh, atau yang percaya bahwa semua masalah akan selesai dengan sendirinya.  Saya berharap makin banyak orang di dunia ini yang bisa membaca arah angin dengan tepat, lalu menggunakan kekuatan angin perubahan itu untuk mencapai tujuan bersama yang lebih baik.  Semoga.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.