Hoax dan Tradisi Literasi Kita

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Akibat dari rendahnya budaya literasi kita informasi hoax sangat mudah diterima oleh masyarakat

Data tentang minat baca Indonesia yang berada pada urutan 60 dari 61 negara tidak mengejutkan banyak pihak. Kajian tentang minat baca ini telah dirilis tahun 2016 dan baru-baru ini kompas.com merilisnya kembali https://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia . Aneh bin ajaib, tidak banyak yang merespon isu ini, mungkin karena saat ini sedang masuk tahun politik.

Akibat dari rendahnya budaya literasi kita informasi hoax sangat mudah diterima oleh masyarakat. Kemajuan teknologi informasi jika tidak dibarengi dengan meningkatnya tradisi literasi akan mengakibatkan cepatnya informasi hoax terdistribusi. Siapa yang memproduksi hoax tentu mereka bukanlah orang-orang baik dan memang perlu “dididik ulang”.  

Seminar dan pembentukan tim cyber anti hoax

Medio pertengahan 2017 pemerintah semakin gencar melakukan sosialisasi anti hoax, sosialisasinya keseluruh stakeholder masyarakat, selain pemerintah, kepolisian juga “direpotkan” dengan pekerjaan tambahan ini, banyak sosialisasi dilakukan ditengah-tengah masyarakat. Tak hanya sampai disitu, sekarang sangat mudah kita temukan akun-akun official kepolisian bahkan sampai tingkat polsek, narasinya sama yakni anti hoax.

Sosialisasi anti hoax dibantu dengan pembentukan tim cyber anti hoax. Pembentukan ini dilakukan oleh kelompok masyarakat, pemerintah termasuk kepolisian : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170106214016-12-184688/atasi-berita-hoax-polri-bentuk-dua-unit-baru dan http://news.liputan6.com/read/3326383/tekan-hoax-organisasi-kepemudaan-ini-bentuk-satgas-cyber

Antusiasme publik untuk bersama-sama membendung banjirnya informasi hoax patut diajungi jempol, tapi cara seperti ini masih jauh panggang dari api, karena akar persoalannya tidak mampu diselesaikan dengan antusiasme yang sama yakni rendahnya budaya literasi kita

Komunitas Taman Baca Masyarakat

Ada sebagian anak muda yang secara mandiri berusaha membangun kesadaran masyarakat bahwa membaca itu penting, membaca dapat membuka jendela dunia, membaca itu melawan kemiskinan, membaca itu merawat nalar, jargon – jargon ini mereka kampanyekan disekitar lokasi taman bacanya.

Semangat mereka tak kenal lelah, buktinya komunitas-komunitas mandiri seperti ini jarang “gulung tikar”, malah semakin berkembang dengan kreatifitasnya masing-masing, tentu dengan kemandirian mereka. Dan jangan ditanyakan tentang kerelawanan mereka, lamanya mereka tenggelam didalam komunitas baca sudah membuktikan kadar kerelawanannya.

Komunitas baca ini tak sepopuler program pemerintah lawan hoax, padahal sumber masalahanya ada pada tingkat literasi masyarakat kita yang rendah. Pemerintah jangan terjebak pada urusan jangka pendek dengan memassifkan isu lawan hoax saja. Persoalan mendasar kita ada pada rendahnya literasi masyarakat. Rangkul erat-erat komunitas taman baca masyarakat, libatkan semua stakeholder. Meminjam istilah Dahnil Anzar Simanjuntak, pemerintah sebaiknya segera berhenti menggunakan paradigma pembangunan yang rabun jauh (miopik) untuk menyelesaikan masalah hoax, karena akar masalahnya ada pada minat baca masyarakat yang rendah. Semoga bermanfaat. 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Putra Batubara

staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Seneng Nulis

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua