Tendangan ke Arah Selangkangan Trump

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Buku karya bintang porno Stormy Daniels yang mendeskripsikan perselingkuhannya dengan Trump punya potensi konsekuensi yang lebih jauh.

Beberapa waktu lampau saya menulis bahwa buku Bob Woodward, Fear: Trump in the White House, adalah panah beracun yang ditancapkan ke leher monster bernama Donald Trump.

 

Baru saja lewat 10an hari, buku berikutnya yang membongkar kebusukan Trump keluar lagi. Kali ini yang menulisnya adalah Stephanie Clifford, atau yang lebih dikenal lewat nama panggungnya—atau lebih tepat, nama ranjangnya—Stormy Daniels.

 

Buku yang ditulis oleh Daniels itu bertajuk Full Disclosure, dan persis seperti judulnya, buku itu memang bertutur tanpa tedeng aling-aling. Termasuk dan terutama pada bagian perselingkuhan antara Trump dan Daniels.

 

Daniels adalah seorang penulis cerita, sutradara, dan bintang film porno yang banyak mendapat penghargaan. Dia ingin kariernya melesat lebih jauh, dan untuk itu dia menginginkan bantuan para pria yang punya pengaruh kuat. Termasuk Trump.

 

Ketika istri ketiga Trump baru saja melahirkan Baron Trump, perselingkuhan itu terjadi. Awalnya memang kedekatan profesional, namun cuma butuh waktu sebentar untuk berakhir di ranjang. Dan, sebagaimana pengakuan Daniels, urusan ranjang itu terjadi ketika Baron masih berusia 4 bulan.

 

Ibarat film porno, kategori buku itu mungkin adalah vivid. Daniels menjelaskan dengan detail peristiwanya. Tetapi yang lebih parah adalah dia juga mendeskripsikan penis Trump yang lebih kecil daripada ukuran normal, berbulu seperti makhluk yeti, dan bentuknya seperti jamur. Seks dengan Trump sendiri dia nyatakan sebagai yang paling tidak impresif.

 

Sejujurnya, saya tak tahu persis apakah penggambaran seperti itu apakah sesuai dengan norma sosial masyarakat Amerika Serikat dan dunia. Sebelum Trump naik tahta, jawabannya sangat mudah. Tapi saya kini tak tahu persis. Trump telah membuat semua nilai berantakan. Tom Toles, kartunis pemenang Pulitzer yang bekerja untuk The Washington Post menyatakan bahwa kepresidenan Trump adalah badai Kategori 6—kategori badai tertinggi yang ada.

 

Karena perilaku Trump, saya tak yakin lagi soal apakah membicarakan penis dan pubis Trump di ruang publik itu terlarang. Tentu, anak-anak tak pantas mendengar atau membaca soal ini, tetapi apakah orang dewasa seharusnya tidak membicarakannya, saya benar-benar tak yakin.

 

Mereka yang ada di Amerika Serikat sendiri tampaknya tak keberatan. Para pemandu acara tengah malam langsung mengambil buku Daniels itu sebagai bahan olok-olok. Saya sudah menonton James Corden, Jimmy Kimmel dan Seth Meyers menjadikan penis sang presiden sebagai topik monolog, dan penonton mereka terbahak-bahak.    

 

Membaca potongan deskripsi Daniels atas alat kelamin Trump yang dimuat di semua media massa terkemuka, saya sadar bahwa itu bukanlah tabu sama sekali. Mungkin media massa hanya melaporkan fakta bahwa Daniels menulis demikian, tetapi bukan berarti tak ada yang menganalisa lebih dalam lagi. Rolling Stone dan Guardian masing-masing menurunkan artikel soal etika memermalukan penis Trump yang jadi dampak ikutan buku Daniels, sebagaimana yang langsung ditunjukkan oleh para pembawa acara tengah malam itu.

 

Seperti yang saya tuliskan di atas, ada butir argumentasi soal Trump sendiri yang memancing hal tersebut. Sebagai seseorang yang bukan saja telah dilaporkan oleh 20 perempuan yang merasa dilecehkan secara seksual, Trump bahkan membanggakan tindakannya. Dalam rekaman obrolannya dengan pembawa acara gosip, Billy Bush, Trump bilang dia senang merogoh alat kelamin perempuan dan mencium bibirnya setiap kali dia tertarik kepada perempuan. Dan 'Pussygate', demikian nama yang disandangkan pada kejadian itu, tetap tak bisa menghentikan kemenangan Trump di tahun 2016.

 

Jadi, kalau Trump bisa merasa bebas melakukannya, bahkan membanggakan tindakan tak terpuji itu, mengapa melawannya dilarang? Bahkan, bila dipikirkan lebih dalam, apa yang dilakukan Daniels itu sesungguhnya belum ada apa-apanya dibandingkan yang dilakukan Trump kepada para perempuan.  Menuliskan soal ukuran dan bentuk kelamin tentu jauh lebih remeh dibandingkan merogohnya tanpa persetujuan.

 

Persoalannya memang pada mindset patriarkhi yang telah tertanam sebegitu kuatnya di dalam masyarakat. Kaum lelaki sudah sangat terbiasa membicarakan pantat, payudara, dan alat kelamin perempuan sebagai topik yang ringan. Kaum lelaki menganggapnya sudah biasa. Persis seperti pembelaan Trump dalam 'Pussygate', yaitu sekadar locker room talk. Cuma obrolan yang biasa dilakukan kaum lelaki, yang kebetulan bocor ke media massa.  Kalau tak bocor, ‘tak ada yang salah’ dengan omongan seperti itu.

 

Apa yang kemudian dilakukan Daniels dengan membicarakan penis Trump itu, kemudian menjadi persoalan karena selama ini obrolan tentang alat kelamin pria tidak dianggap sama ringannya oleh masyarakat. Daniels merobek tabu itu, dengan memilih penis Trump sebagai objeknya, yang 'kebetulan' pernah dia saksikan secara intim.

 

Apakah melawan seorang perisak itu tak diperkenankan? Tentu boleh, dianjurkan, dan harus dibela mati-matian.  Kita semua menginginkan perempuan terlindungi dari pelecehan, dan kalau pelecehan  atau perisakan terjadi, kita menginginkan perempuan berani membela dirinya. Dan itu persis yang sedang dilakukan oleh Daniels, setelah terus menerus dirisak Trump dan pendukungnya. Perlawanan Daniels itu bukan sekadar untuk dirinya, bukan hanya untuk 20 perempuan yang sudah berani maju ke publik menyatakan telah dilecehkan secara seksual oleh Trump, bukan cuma untuk jutaan perempuan yang hak-hak reproduktifnya dirugikan oleh kebijakan kesehatan Trump, bahkan lebih luas lagi.

 

Dalam berbagai pelajaran bela diri, salah satu cara yang diajarkan untuk menghentikan serangan lelaki adalah dengan menendang selangkangannya. Analogi ini mungkin lebih pas buat buku Daniels dibandingkan panah beracun yang sudah saya pergunakan untuk buku Woodward. Buku Daniels adalah tendangan keras ke arah selangkangan Trump. Buku Daniels mungkin juga tendangan keras ke arah selangkangan seluruh peleceh perempuan, bahkan mungkin bisa dianggap sebagai tendangan ke selangkangan patriarkhi.  Kalau kemudian kepresidenan Trump terkapar, atau setidaknya merunduk kesakitan, lantaran dihajar oleh buku Daniels, itu adalah keadilan yang pantas diterima seorang perisak.

 

(Sumber foto: www.gala.de)

Bagikan Artikel Ini
img-content
Jalal

Keberlanjutan; Ekonomi Hijau; CSR; Bisnis Sosial; Pengembangan Masyarakat

0 Pengikut

img-content

Wicked: Babak Ketiga dari Babad John Wick

Sabtu, 18 Mei 2019 15:15 WIB
img-content

Menebak Hasil Pilpres 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua