Ketika Jokowi Lebih Tertarik Menonton Konser Guns N Roses - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ketika Jokowi Lebih Tertarik Menonton Konser Guns N Roses

    Dibaca : 285 kali

    Kelompok musik rock legendaris asal AS, Guns N Roses atau lebih dikenal sebagai GNR, nanti malam akan manggung kembali di Jakarta. Menariknya, kelompok ini telah “mengembalikan” sang legenda gitaris dunia, Slash, yang sebelumnya pernah diisukan cabut dan meninggalkan GNR gara-gara berselisih dengan sang vokalis, Axl Rose. GNR seperti legenda musik rock sepanjang zaman, karena hampir semua lagu-lagu besutannya tak pernah bosan untuk didengarkan. Sebut saja “November Rain”, “Sweet Child O’main”, “Patience”, “Don’t Cry” merupakan sederet judul lagu favorit GNR yang hingga saat ini masih sangat lekat di telinga masyarakat Indonesia.

    Konser GNR kali ini mungkin saja lebih “hidup” setelah kembalinya Slash, berbeda dengan konser GNR di Jakarta beberapa tahun sebelumnya yang minus gitaris bertopi sulap ini. Bagi saya, GNR adalah legenda hidup musik rock yang piawai menyulap lagi-lagu lawas menjadi lebih enerjik dan menarik. Dua pentolan utamanya tentu saja Axl Rose dan Slash yang berkolaborasi menyuguhkan karya-karya rock mendunia sepanjang zaman. Ruh GNR justru mati suri ketika Slash hengkang dan membuat album sendiri pada 1993 dengan tema “Slash Snakepit”, terlebih dengan menggaet drummer GNR Matt Sorum, grup rock legendaris ini bahkan sempat diisukan bubar.

    Saya sendiri salah satu pengagum GNR, bahkan sejak SMA bergabung membentuk grup band yang selalu membawakan lagu-lagu mereka. Entah kenapa, lagu-lagu GNR seakan tak pernah bosan didengarkan, bahkan hampir-hampir tak pernah mengenal lagu-lagu bergenre rock yang dibawakan grup-grup band baru yang belakangan muncul. Bagi saya, disinilah kekuatan “mistis” sebuah lagu yang diciptakan, meskipun dibawakan cukup sederhana namun mampu melekat dalam benak setiap orang yang mendengarkannya. Tidak hanya saya tentunya, banyak orang yang setia menjadi fans GNR yang tak peduli walaupun berubah formasi, bahkan termasuk Presiden RI, Jokowi.

    Jokowi bagi saya simbol kepala negara yang tampak unik, apalagi ia justru pengagum musik rock yang melegenda di dunia. Mungkin sulit menemukan kepala negara yang justru menggandrungi musik rock, karena rata-rata, rock disimbolkan sebagai musik “keras”, berkonotasi semrawut karena lekat dengan simbol “orang jalanan” yang memprotes kondisi sosial. Umumnya setiap kepala negara di berbagai belahan dunia, justru gandrung musik-musik klasik atau musik populer bergenre jazz karena tampak lebih berkelas. Tak heran, ketika kemudian kelompok musik trash metal Megadeth, tak sungkan-sungkan mengundang Presiden Jokowi secara terbuka untuk menghadiri konsernya di Yogyakarta bulan lalu.  

    Kesukaan Jokowi akan musik-musik cadas, tak urung juga membuat band kawakan Metallica merasa terhormat ketika ia justru hadir di acara konsernya pada 2013 yang lalu. Bahkan konon kabarnya, Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai gubernur DKI, dihadiahi sebuah gitar bass yang kemudian “bermasalah” sehingga harus disita KPK sebagai barang milik negara yang harus dilelang. Hampir dipastikan, setiap konser musik rock yang dibawakan musisi-musisi rock legendaris, Jokowi tak pernah absen menghadirinya. Bahkan, ditengah kesibukannya menghadapi beragam kenyataan politik, Jokowi bakal memastikan hadir di konser GNR nanti malam.

    Perhatian Jokowi nampaknya lebih tertarik untuk menghadiri konser disela kesibukannya sebagai kepala negara, daripada harus berjibaku dengan urusan-urusan politik formal ditengah masa kampanyenya saat ini. Seakan mempunyai ikatan batin tersendiri dengan musik rock, Jokowi sepertinya kecewa jika tak dapat menghadiri setiap konser musik rock di negeri ini. Hal ini dipastikan oleh ungkapannya sebagaimana dikutip detik.com, “jadi kalau memang ada kosong dikit, mau lihat lah”. Sepadat apapun kegiatan presiden, pasti ada waktu senggang walaupun sedikit dan inilah yang akan dimanfaatkan Jokowi untuk hadir di konser GNR bertajuk “Not In This Lifetime”.

    Bagi saya, inilah sosok Jokowi yang selalu apa adanya dan biasa-biasa saja, tak perlu harus dibuat-buat bahwa seakan-akan ketika seseorang telah memiliki jabatan tinggi lalu terpaksa menghilangkan kebiasaannya. Karena mungkin saja ada sementara pejabat negara yang dulunya musikus atau pengagum musik rock justru tiba-tiba berubah, khawatir akan sebuah sangsi sosial yang kemudian menyoal jabatannya sendiri. Musik rock tentu saja kesukaan Jokowi sejak masih mudanya, sejak sebelum menjadi apa-apa, dan tak pernah merubah kebiasaannya sampai saat ini dan tak pernah khawatir soal adanya sangsi sosial yang menyoal jabatannya sebagai seorang kepala negara. Mungkin tak berlebihan, jika dikatakan bahwa dalam diri Jokowi ada keserhanaan, kejujuran, apa adanya yang justru seringkali disalah artikan oleh sebagian orang. Keep Rockin!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 556 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin