Ilmu, Amal, dan Ulama - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ilmu, Amal, dan Ulama

    Dibaca : 547 kali

    Judul yang saya tuliskan diatas, sesungguhnya berasal dari akar kata yang sama, yaitu “’a-li-ma” yang berasal dari bahasa Arab, berarti “mengetahui”. Ilmu dan amal, umumnya memiliki konsekuensi aktualisasi diri manusia, karena ketika seseorang telah memiliki kecakapan ilmu atau pengetahuan, maka proses aktualisasinya adalah amal atau pekerjaan. Ilmu sebagai proses “menjadi” (to being) ketika terus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan bertumbuh menjadi “’aalim” (orang berpengetahuan) yang ketika berkonotasi jamak, disebut “ulama” atau orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.

    Ilmu tentu harus diamalkan dimana pengamalannya harus linier dengan peningkatan peradaban manusia. Dengan demikian, setiap pengetahuan yang dimiliki manusia harus bermanfaat bagi diri dan sesamanya. Oleh karena itu, sosok ulama dalam konteks bahasa agama merupakan orang yang benar-benar menyerap keilmuan dan mengaplikasikannya untuk sebesar-besar kemanfaatan umat yang hampir tak ada tujuan merusak, menghancurkan, terlebih menyengsarakan orang lain. Ilmu dan amal, merupakan dua komponen mutakhir yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, bahkan sejak manusia pertama menginjakkan kaki di muka bumi ini.

    Ilmu, amal, dan ulama seakan memiliki keterkaitan erat yang tak mungkin terpisahkan. Kata yang disebut pertama dan ketiga bahkan berasal dari satu akar kata, sedangkan yang disebutkan kedua merupakan manifestasi nyata dari ilmu dan keulamaan seseorang. Setiap amal atau perbuatan yang tak didasari ilmu pengetahuan, tentu saja tertolak bahkan mungkin tak akan membudaya menjadi suatu entitas kultural. Manusia membuat pesawat terbang, misalnya, karena jelas tahu ilmunya, membuat hal apapun pasti didasari pengetahuan, termasuk ketika seseorang disebut sebagai ulama, berarti dirinya memahami bagaimana ilmu agama dengan segudang nilai-nilai moral itu diaplikasikan dalam kehidupan dirinya dan tentu saja memberikan dampak manfaat kepada lingkungan sekitarnya.

    Jika boleh dianalogikan, ilmu itu seperti air yang mengalir memberi kehidupan kepada manusia bahkan air mungkin satu-satunya entitas terpenting dalam seluruh aspek kehidupan. Air itu pasti menghidupkan setiap tumbuh-tumbuhan yang kemudian bermanfaat bagi manusia. Ilmu yang mengalir itu akan terus menumbuhkan peradaban kemanusiaan bahkan menjaganya tetap subur. Buah dari ilmu adalah amal atau pekerjaan yang sangat bermanfaat dan dimanfaatkan dalam segala aspek kehidupan. Ulama tentu saja penjaganya, karena ilmu yang diamalkan, jelas linier dengan tujuan kebaikan manusia. Maka sangat tidak mungkin, ketika ilmu yang tumbuh selaras dengan amal kebaikan, lalu terkotori, sebab hal itu jelas pengingkaran atas nilai-nilai ilmu yang bermanfaat.

    Salah satu ulama kenamaan, Imam Malik bin Anas RA pernah berkata, “Siapa yang beramal dengan ilmu yang dimilikinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang sebelumnya tak pernah dirinya ketahui”. Kemanfaatan suatu ilmu bahkan seringkali melampaui batas-batasnya sendiri dalam hal kebaikan. Ukurannya tentu hanya dapat diukur dari ekses kebaikannya tersebut, apakah ditiru oleh banyak orang dan bermanfaat atau tidak. Sebab, kebaikan itu ibarat air yang dipakai menyirami tanaman, dimana semakin sering disirami, semakin bertumbuh subur. Bahkan, ilmu pengetahuan itu ibarat pohon dengan akar, batang, dan cabang-cabang dan daun-daunnya yang rindang, meneduhkan dan menyejukkan. Lalu, amal ibadah itu ibarat buah, yang yang lezat bermanfaat bahkan memberi dampak kesehatan tubuh ketika dikonsumsi.

    Itulah kenapa sebabnya, para ulama tak ubahnya pohon yang tumbuh dengan kuat, mengakar di tengah masyarakat dan ajaran-ajarannya mewujud dalam bentuk karya tulis, baik kitab-kitab, ulasan, atau nasehat-nasehatnya sebagai “buah ilmu” yang saat ini masih dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh umat. Tak perlu jauh-jauh melihat sosok ulama, kita dapat melihat pada diri pribadi salah satu ulama besar, Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali atau yang dikenal dengan Imam Ghazali.

    Ulama kelahiran Thus, Khurasan, Iran  ini hidup hanya sekitar 55 tahun saja tak lebih! Namun, umur yang relatif singkat tentu saja tak membuat ulama satu ini kekurangan amal ibadahnya yang dapat dibuktikan oleh beragamnya karya tulis dan sumbangsih keilmuannya bagi masyarakat. Mungkin puluhan bahkan ratusan karya Imam al-Ghazali yang tersebar sejauh ini dan hasil karyanya ini  sungguh komplit karena ditulis dengan berbagai latar belakang disiplin keilmuan yang berbeda.

    Imam al-Ghazali menulis soal tasawuf, filsafat, fiqih, politik, bahkan magnum opus-nya berjudul “Ihyaa ‘Uluumuddin” adalah buah keilmuan yang sangat mendalam dan orisinil hasil pengalaman pribadi dan kontemplasi panjang pemikiran dirinya yang bergelut dengan berbagai macam ilmu pengetahuan. Karya ini menjadi rujukan banyak ulama di seluruh dunia, bahkan hingga saat ini. Hebatnya, karya tulis ini juga menjadi rujukan penting para mahasiswa di Barat yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul, “The Revival of Religion Sciences” dan selama bertahun-tahun menjadi sumber paling akurat dalam mengkaji soal ajaran Islam.

    Ulama tidak diukur oleh banyaknya pengikut, atau jumlah simpatisan yang menjadi pendukung setia di belakangnya. Tetapi, ukuran seorang ulama tentu saja seberapa banyak karyanya mendapat hati dalam masyarakat dan betapa banyak pemikiran-pemikirannya menjadi rujukan ulama lain atau karya-karyanya bermanfaat dan menjadi sumber utama ketika para ulama setelahnya membuat suatu karya tulis. Inilah yang dimaksud oleh ucapan Imam Malik dimana ketika seseorang mengamalkan ilmunya yang diketahui, maka Allah menganugerahkan ilmu-ilmu lain yang sebelumnya tak pernah diketahui olehnya.

    Imam al-Ghazali diberi gelar “Hujjatul Islam” menjelaskan kepribadiannya yang paling luas menguasai pengetahuan Keislaman. Jika gelar “al-Haafidz” disematkan kepada para ulama yang hafal dan menguasai seratus ribu hadis saja atau gelar “al-Haakim” hanya menduduki tingkat keulamaan yang menguasai dan menghafal kurang lebih tiga ribuan hadis, maka gelar “Hujjatul Islam” yang ditambahkan dengan “al-’Aalim al-‘Allaamah” yang disematkan para ulama kepada al-Ghazali tentu saja melampaui semua batas semua itu. Jadi, tak perlu kenemenen mbela ulama, bahkan sampai-sampai yang jelas-jelas bersalah lalu dibela-bela, padahal yang dibela-pun belum tentu ulama. Tanyakan saja kepada figur-figur yang dibela itu, sudah berapa ratus ribu hadis yang dihafal dan dikuasai? Atau sudah berapa banyak karya tulisnya yang menjadi rujukan ulama lain dan juga umat? Sebuah pertanyaan mudah untuk mengukur tingkat akurasi keulamaan seseorang.

    Ulama dengan demikian bisa siapa saja yang jelas ia benar-benar menguasai ilmu pengetahuan, lalu mengamalkannya dalam segala aspek kehidupan, dan karya-karyanya menjadi buah pemikiran yang jernih, menjadi rujukan dan bahkan diskusi banyak orang. Bahkan semua karya-karya ulama terdahulu, tetap hidup menjadi rujukan utama bahkan memunculkan disiplin baru dalam berbagai bidang keilmuan yang terus dimanfaatkan masyarakat.

    Ulama adalah mereka yang menopang geliat peradaban, bukan pelemah atau penghancur peradaban. Jika ulama adalah mereka yang disebut pewaris para nabi, maka jelas mereka benar-benar sukses mengaktualisasikan hidupnya melalui proses berilmu dan mewujudkannya dalam amal yang hampir tak pernah terputus sepanjang sejarah manusia itu sendiri: dibicarakan, dibahas, didiskusikan, dibantah, dan ajaran-ajarannya hidup dan diikuti oleh sekian banyak orang hingga kini. Jika demikian, bilakah kita menjadi pembela ulama?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.