Menyumbang Capres Super Kaya itu Penghisapan Bukan Jihad - Analisis - www.indonesiana.id
x

firdaus cahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menyumbang Capres Super Kaya itu Penghisapan Bukan Jihad

    kalau uang kita untuk menyumbang capres super kaya untuk kampanye mereka, itu namanya penghisapan, bukan jihad.

    Dibaca : 1.613 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Neno Warisman, meminta seluruh warga untuk mengeluarkan hartanya demi kemenangan pasangan nomor urut 02. Neno menyebut mengeluarkan harta untuk kemenangan Prabowo - Sandiaga merupakan bentuk jihad.

    Benarkah menyumbangkan uang kita untuk kampanye Prabowo-Sandiaga Uno di pilpres 2019 adalah bentuk jihad? Untuk menjawabnya marilah kita mulai dari makna jihad itu sendiri.  Jihad adalah kesungguhan hati untuk mengerahkan segala kemampuan untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan (Dede Rodin, ISLAM DAN RADIKALISME: Telaah atas Ayat-ayat “Kekerasan” dalam al-Qur’an, ADDIN, Vol. 10, No. 1, Februari 2016).

    nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jika menang dalam pilpres? Mari kita dengar suara salah satu pendukung utamanya. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Titiek Soeharto berjanji bila pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto dan wakilnya, Sandiaga Uno memenangi pemilihan presiden tahun depan, RI akan kembali seperti zaman Soeharto. 

    Apakah era Soeharto, nilai-nilai Islam dihidupkan dalam kehidupan berbangsa? Jawabannya dengan jelas tidak. Di era Orde Baru ketika Soeharto berkuasa, penuh dengan darah dan air mata. Orang bisa saja dipenjarakan bahkan dibunuh tanpa proses pengadilan. Di era itu, suara masyarakat dibungkam agar dusta berkuasa. Di era Orde Baru pula korupsi, kolusi dan nepotisme begitu merajalela. Apakah itu nilai-nilai Islam? Jelas tidak.

    Dari uraian singkat itu jelas terlihat bahwa era Soeharto yang ingin kembali dibangkitkan bila pasangan Prabowo-Sandiaga Uno menang pilpres, bukanlah nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa. Lantas, pertanyaan berikutnya adalah apakah Prabowo-Sandiaga Uno itu orang miskin, sehingga perlu mendapatkan sumbangan umat Islam untuk kampanye? Untuk menjawabnya mari kita lihat kekayaan Prabowo dan Sandiaga Uno.

    Prabwo Subianto memiliki total kekayaan Rp 1.952.013.493.659. Prabowo punya 10 bidang tanah dan bangunan total nilainya Rp 230.443.030.000, tersebar di wilayah Bogor dan Jakarta Selatan. Kendaraan pribadi, Ketua Umum Partai Gerindra itu punya delapan unit dengan nilai total Rp 1.432.500.000. Mobil tersebut terdiri dari Toyota Alphard Minibus 2005, Honda CRV Jeep, Land Rover 1994, Toyota Land Cruiser 1980, Mitsubishi Pajero 2000, Toyota Lexus 2002, Land Rover 1992 dan sepeda motor Suzuki 2002

    Sementara kekayaan Sandiaga Uno, berdasar data KPK, mencapai Rp 5.099.960.524.965. Ia memiliki 15 bidang tanah dan bangunan total nilainya Rp 191.644.398.989, tersebar di Jakarta Selatan, Tangerang, Singapura dan Amerika Serikat. Urusan mobil, Sandiaga hanya punya dua unit yang total nilainya Rp 325 juta: Nissan Grand Livina 2013 dan Nissan X-Trail 2015. Harta bergerak lainnya yang dimiliki Sandi senilai Rp 3,2 miliar. Ia tercatat memiliki surat berharga dengan nilai mencapai Rp 4.707.615.685.758. Sementara kas dan setara kas yang dimiliki Sandi senilai Rp 495.908.363.438. Harta lainnya yang dimiliki Sandi sebesar Rp 41.295.212.159. Dalam dokumen itu, Sandi tercatat memiliki hutang sebesar Rp 340.028.135.379 (Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2018/08/23/dari-prabowo-hingga-maruf-amin-ini-perbandingan-kekayaan-capres-cawapres-2019?page=4).

    Nah, apakah ketika uang kita disumbangkan kepada dua orang super kaya untuk dana kampanye mereka di pilpres 2019 adalah bagian dari jihad? Jika uang kita disumbangkan untuk membantu orang fakir miskin, anak terlantar dan yatim piatu, mungkin itu bagian dari jihad harta. Tapi kalau uang kita untuk menyumbang capres super kaya untuk kampanye mereka, itu namanya penghisapan, bukan jihad. Semoga kita bisa tidak mengistirahatkan akal sehat kita di musim pilpres ini.

    sumber foto: https://www.youtube.com/watch?v=7uUOPsKxkhc

     

    Ikuti tulisan menarik firdaus cahyadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.