Krakatau Pengguncang Dunia

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Letusan Gunung Anak Krakatau telah mengingatkan kita akan letusan induknya, Gunung Krakatau 1883 silam. Seberapa besarkah dampak letusan Krakatau 1883?

Belakangan ini masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Banten dan Lampung sedang dihebohkan oleh bencana alam yang terjadi di Selat Sunda. Di mulai dari tsunami di Selat Sunda yang menerjang Banten dan Lampung (22/12/2018). Erupsi dan longsornya Gunung Anak Krakatau yang dipercaya sebagai penyebab tsunami. Isu bencana tsunami susulan. Hingga ketakutan akan peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Gunung Krakatau adalah salah satu gunung vulkanik yang aktif di Indonesia. Gunung ini terletak di Selat Sunda, di antara pulau Jawa dan Sumatera. Gunung ini dikenal karena letusannya pada tahun 1883. Menurut Simon Winchester, penulis National Geographic, mengatakan bahwa letusan Gunung Krakatau adalah letusan yang paling besar, keras, dan mematikan dalam sejarah manusia modern. Letusan ini juga memberi dampak secara global.

Letusan Krakatau bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Gunung Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai. Peristiwa ini membuat sebagian besar pulau di sekelilingnya lenyap. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884.

Dipekirakan letusan Gunung Krakatau telah memakan korban sebanyak 36.000 jiwa lebih. Hal ini disebabkan oleh gelombang tsunami yang tinggi menerjang pantai-pantai Teluk Betung, Lampung, serta pesisir Jawa Barat dari Merak sampai Ujungkulon. Tsunami ini jauh lebih besar daripada tsunami Aceh tahun 2004 lalu. Bahkan perahu patroli "Berouw" terangkat 2,5 kilometer ke Barat dan ditemukan dalam kondisi terbalik. Setelah terjadinya tsunami, ratusan hingga ribuan mayat ditemukan mengambang di lautan. Setelah itu terjadi hujan abu yang membunuh ribuan orang di Sumatera dan tidak ada yang selamat di Pulau Sebesi.

Selain itu, letusannya juga terdengar keras sejauh 3.110 km sampai daerah Perth, Australia Barat pada 27 Agustus 1883. Bahkan suaranya juga terdengar di Pulau Rodrigues, Mauritius, di dekat Afrika yang berjarak 4.653 km dari lokasi Gunung Krakatau. Seberapa sumber juga mengatakan bahwa letusan ini 30.000 lebih keras daripada letusan bom Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia ke-2.

Letusan Gunung Krakatau juga melemparkan jutaan material abu ke angkasa sehingga menutup pancaran sinar matahari ke bumi. Hal ini membuat suhu di bumi turun 1,2°C. Selain itu, fenomena ini juga menyebabkan matahari terbit lambat dan malam terasa lebih panjang. Peristiwa ini berlangsung dari 1883 hingga 1888.

Awan yang dipenuhi oleh abu vulkanik telah membuat berbagai macam warna di awan. Seperti contohnya sinar bulan yang berwarna putih terlihat berwarna biru, bahkan kadang kehijauan saat melewati awan yang tertutup oleh abu vulkanik. Selain itu, abu dari letusan Gunung Krakatau juga membuat fenomena matahari terbenam yang dimana sinar matahari terlihat sangat hidup dengan memancarkan warna merah di langit. Fenomena ini bisa dilihat dari Hong Kong sampai San Francisco, selain itu juga di pantai timur Afrika, dan Gold Coast, Afrika Barat, Trinidad, dan Honolulu.

Fenomena ini telah diabadikan oleh seniman Inggris bernama William Ashcroft. Selain itu, fenomena ini juga menginspirasikan seniman Norwegia yang bernama Edvard Munch, dalam karyanya yang terkenal yaitu "The Scream" 1893. Lukisan "The Scream" adalah lukisan yang paling akurat mengenai fenomena matahari terbenam.

Dari kejadian ini, letusan Gunung Krakatau jelas sangat mengerikan jika dibayangkan. Apalagi bila terulang kembali di jaman sekarang. Namun, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memprediksikan bahwa letusan anak Krakatau tidaklah sebesar letusan tahun 1883, di kantor BNPB, Jakarta, Jum'at (28/12/2018). 

Beliau menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau hanya berdiameter 2 kilometer. Sedangkan Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883 memiliki diameter lebih besar, yaitu 12 kilometer. Diameter Gunung Anak Krakatau yang lebih kecil mengakibatkan ukuran dapur magma di dalamnya juga kecil. Hal ini membuat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak akan menimbulkan gelombang tsunami yang tinggi.

Dari prediksi beliau, jelas kita telah mengetahui bahwa Gunung Anak Krakatau tidaklah sebahaya ibunya yaitu Gunung Krakatau. Namun, alangkah baiknya bila kita tetap berwasapada. Sebab itu hanyalah prediksi dan bisa meleset. Bila prediksinya meleset, setidaknya kita sudah memiliki kesiapan yang matang untuk menghadapi bencana itu.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Elnado Legowo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua