x

Iklan

diah permata sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kisah Mukhni Yang Menggantungkan Nasib Kepada Betis

kisah tentang pengusaha yang beralih menjadi driver online

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siang itu terik Ibu Kota sangat menyengat. Bahkan kaca film Solar Gard yang dipasang di kaca mobil tak dapat membendung teriknya matahari. Matahari begitu gagah siang itu, segagah pose Jokowi di tepi pantai usai tsunami melanda pesisir Banten dan Lampung yang menjadi pro kontra.

Jalanan padat akibat pembangunan Ibu Kota yang menyisakan penurunan daya beli juga membuat Mukhni terlihat lelah. Sesekali ia mengurut betis kirinya karena berpacu dengan gerak mobil yang merangsek pelan dengan keahlian memainkan kopling agar mobil tidak tiba-tiba mati.

Sembari fokus dan waspada dengan pengendara motor yang nyelip dari sisi kanan dan kiri, Mukhni menyempatkan diri mengenang nasibnya sepuluh tahun lalu. Dimana pada saat itu ia memiliki dua kios di Tanah Abang. Meskipun saat itu ‘katanya’ krisis global, namun hal tersebut tidak mengganggu jual belinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mukhni membangun usahanya tahun 2008 di Tanah Abang dengan modal yang dipinjamnya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku pemerintah saat itu. Dengan pengalaman menjadi pramuniaga di toko pamannya, Mukhni sukses menarik pelanggan dari hari ke hari. Hingga pada akhirnya, pada 2010 Mukhni sukses membuka toko barunya di kawasan yang sama, Tanah Abang.

Namun seiring memburuknya perekonomian nasional empat tahun belakang, perlahan tapi pasti usahanya akhirnya mesti gulung tikar. Jual belinya menurun drastis. Bahkan ia harus menjual rumah yang dibelinya dengan keringatnya sendiri untuk menutupi kerugian akibat daya beli masyarakat yang lemah. Satu-satunya aset yang tersisa saat ini adalah mobil Avanza hitam yang digunakannya untuk menjadi driver online setahun belakang.

“Gak buru-buru kan Mbak?” kata Pak Mukhni sembari menepuk paha dan betis kirinya.

“Gak buru-buru amat kok pak, kenapa kakinya Pak?” tanya saya.

“Ya gini lah Mbak, jadi driver itu harus kuat betis, apalagi kalau macet beginian. Gak biasa soalnya,” jawabnya.

“Saya dulunya jualan di Tanah Abang, tapi sekarang sebelas dua belas dengan kuli. Mengandalkan tenaga dan otot-otot Mbak,” lanjutnya.

“Dulu zamannya Pak SBY ekonomi enak, kalau sekarang kerjanya harus tiga kali lipat kalau mau hidup seperti zaman Pak SBY. Kerja, kerja, kerja,” ungkapnya dengan dialek khas orang Sumatera.

Saya pun hanya bisa tersenyum sedih mendengar curcol (curhat colongan) bapak driver online tersebut. Keluhan Pak Mukhni ini sudah akrab di telinga saya, mulai obrolan ibu rumah tangga di sampin rumah, hingga cerita rekan kerja yang mengaku berhemat karena biaya token listrik yang gila-gilaan.

Agar suasana tidak menjadi mellow, iseng saya pun menanyakan pilihan politik Pak Mukhni di Pilpres 2019 mendatang. Walaupun dari cerita Pak Mukhni saya sudah bisa meramalkan siapa yang akan dipilihnya.

“Trus Bapak besok pilih siapa? Atau jangan-jangan golput?” tanya saya.

“Ya pilih Pak Prabowo lah. Apalagi Pak SBY dan Partai Demokrat kemaren sudah mendukung penuh. Kalau anggota legislatifnya saya pilih Partai Demokrat. DPRD Kota-nya, DPR Provinsi-nya, DPR RI-nya,” kata Pak Mukhni optimis.

“Apa hubungannya Pak, emangnya keluarga Bapak caleg semua?” tanya saya sambil tertawa.

“Demokrat itu sudah terbukti bekerja Mbak. Kalau Insya Allah Pak Prabowo menang, saya berharap Partai Demokrat kembali jadi panglima mengawal kebijakan pemerintah dan melanjutkan program-progaram pro rakyat serta paket ekonomi seperti zaman Pak SBY melalui parlemen,” katanya.

Perbincangan yang awalanya mellow dan diakhiri oleh optimisme itu pun akhirnya kami akhiri karena saya telah sampai di tujuan. Sembari beranjak dari kursi dan melangkah keluar mobil, Pak Mukhni mengingatkan, “2019 jangan golput ya Mbak, kalau kata Pak SBY do something, jika yang baik diam, maka yang jahat menang,” semangatnya.

“S14P Pak,” kata saya sambil tersenyum dan berlalu pergi.

Ikuti tulisan menarik diah permata sari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler