Bunga Utang RI Tertinggi Di ASEAN, Siapa Yang Buntung? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Bujaswa Naras

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Bunga Utang RI Tertinggi Di ASEAN, Siapa Yang Buntung?

    Dibaca : 1.406 kali

    Berdasarkan data Asian Bonds Online, Indonesia adalah negara mempunyai tingkat bunga utang sebesar 8,12 persen. Sementara bunga utang Filipina 6,47 persen, Vietnam 4,88 persen, Malaysia sebesar 4,07 persen, Thailand 2,27 persen, dan Singapura 2,21 persen terendah di ASEAN.

    Hal ini diakui oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Obligasi Indonesia bertenor 10 tahun saat ini lebih tinggi dari beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). 

    Pernyataan sebagai pengakuan ini disampaikan oleh Pak Darmin di Istana Negara, Selasa Malam (29/1/2019). Ada banyak faktor yang menentukan acuan tingkat bunga utang Indonesia lebih tinggi dari sesama negara tetangga. Namun, Pak Darmin enggan untuk memberi penjelasan. Sebab setiap neagara tidak sama cara menghitung tingkat bunga obligasi. Hal ini tergantung kebijakan Pemerintahan untuk menawarkan suku bunga utang.

    Sama halnya dengan Bank yang menawarkan bunga deposito dan tabungan. Hal ini untuk menarik dana Pihak Ketiga yang besar. Dimana Bank tidak memiliki cukup uang untuk melakukan ekpansi kredit untuk konsumen.

    Maka dalam logika bunga dan utang bunga. Maka pihak yang beruntung adalah pemberi utang beserta bunga. Semakin banyak utang, dan semakin tinggi bunga. Maka ada kepastian return/pengembalian yang tinggi. Hal ini menjadikan utang Indonesia dengan bunga utang tempat pesta mendapatkan keuntungan tanpa perlu bersakit-sakit investasi di sektor riil.

    Dimana Rizal Ramli mengkritisi yield utang obligasi Indonesia yang merupakan tertinggi di Indonesia. Dimana penguatan rupiah yang didukung oleh peningkatan pinjaman dengan bunga super tinggi. Maka kreditor pesta pora. Sedangkan rakyat semakin terbebani dengan membayar pajak lebih banyak.

    Dari akumulasi membayar pajak yang terhimpun dalam APBN. Maka ada kewajiban pasti untuk mengalokasikan pembayaran pokok utang beserta bunga utang. Hal ini menjadikan struktur APBN lebih banyak membayar utang dan bunga kepada kreditor.

    Belum termasuk utang swasta untuk pembangunan infrastruktur. Contoh PT Waskita Karya yang ditugaskan untuk membangun beberapa ruas jalan tol. Mesti menerbitkan surat utang dengan bunga sekaligus. Hal ini menjadikan beberapa ruas tol dijual oleh PT. Waskita Karya.

    Total Utang 10 BUMN Terbesar Rp. 4.478 Triliun. Sedangkan total jumlah utang Pemerintahan adalah Rp. 4.363,1 triliun untuk periode Agustus 2018. Terjadi pelonjakan utang hingga Rp 547,4 triliun dibandingkan utang pemerintah pada Agustus 2017 sebesar Rp 3.825,7 triliun.

    Menko Perekonomian Darmin memastikan tingkat bunga utang Indonesia yang tinggi tidak perlu dikhawatirkan. Sebuah penilaian jauh dari berfikir untuk mengurangi utang yang semakin membesar dan bengkak.

    Utang dan bunga utang bukanlah infus yang mampu menyehatkan perekonomian dan kebijakan pengelolaan negara. Sebab tidak memberikan keleluasaan untuk melakukan program yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Sebab pemerintahan mempunyai kewajiban membayar pokok utang beserta bunganya. Sedangkan kita masyarakat yang akan membayarnya dengan pajak. Termasuk dengan menguras cadangan devisa negara.

    Buntung sudah jadi rakyat pembayar pajak dan pengusaha, Kreditor Beruntung tinggal mendapatkan bunga tinggi dan utang kembali.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.