Pilpres Kian Dekat, Pengamanan Presiden Diperlonggar ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Parliza Hendrawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Pilpres Kian Dekat, Pengamanan Presiden Diperlonggar ?

    Dibaca : 294 kali

    SETIDAKNYA ADA dua video yang sempat saya tonton dalam beberapa hari terakhir ini. Pertama video mempertontonkan seorang ibu berlari mendekati ke sedan hitam yang ditumpangi Presiden Jokowi. Dilain waktu di laman Facebook, saya dikirimi sebuah gambar hidup yang bercerita seorang pria sambil menggendong bocah berusaha menjangkau presiden ditengah kerumunan. Kedua video ini cukup detail menceritakan perjuangan si bapak dan si ibu. Bila video ini benar adanya, sepertinya tidak susah bagi rakyat untuk menyampaikan uneg-unegnya secara langsung tanpa perlu melewati metal detector dan sistem skrining yang ketat.

    Ada yang membuat saya tergelelitik untuk menulis perihal kelongagaran itu. Pada kasus video pertama tampak pengawal presiden dengan mudahnya memberi ruang kepada “orang-orang terpilih” ini. Sepertinya, tidak ada upaya maksimal untuk mencegah tindakan nekad yang bisa saja mencidera presiden. Bahkan ada petugas yang sempat mengabadikan momen itu lewat kamera gawainya. Seolah-olah jadi pengarah adegan, terlihat juga ada petugas yang menginginkan agar si-ibu kembali mendekati tuan presiden agar bisa diabadikan lebih detail. Ingat! Jokowi adalah presiden yang harus dijaga kewibawaannya.

    Setahu saya, untuk mendekati kepala negara bukan pekara mudah. Taruhannya adalah "nyawa" bila datang tanpa undangan. Tidak sembarang orang bisa menembus barikade dan pagar hidup meskipun dengan jabatan tertentu mulai dari kepala daerah hingga menteri. Sebagai seorang wartawan bukan sekali dua kali harus merasakan dan menyaksikan kekerasan oleh aparat keamanan yang mengelilingi sang presiden. Ditarik, didorong, ditoyor  bahkan ada teman sesama wartawan yang dipersekusi oleh aparat yang menempel ke RI 1. Yang terakhir ini adalah kejadian yang belum genap setahun, persis ketika presiden turun dari Light Rail Transit (LRT), Jakabaring, Palembang. Ketika itu beliau ingin memberikan statemen terkait proyek senilai belasan triliun itu.

    Padahal, sebagai peliput, saya dan rekan-rekan wartawan sudah membekali diri dengan ID card khusus yang dikeluarkan oleh pihak TNI dan tak lupa pula ID Card kantor. Persitiwa remeh-temeh itu sangat jarang wartawan bagikan ke ruang publik. Karena ada sebagian  teman yang menganggapnya hal itu merupakan risiko dari pekerjaan. Namun bagi saya kekerasan sekecil apapun dan dilakukan oleh siapapun harus dilawan dengan cara elegan.

    Lha sekarang kog dengan mudahnya orang bersentuhan langsung dengan presiden. Padahal berkaca dari dua video diatas, itu merupakan ruang terbuka yang sangat rentan disusupi oleh orang-orang yang dengan niat buruk. Bagi saya: sekecil apapun itu, kewaspadaan dan kehati-hatian  tetaplah yang utama. Jangan sampai akibat keteledoran akan berujung pada kehebohan sebagaimana ketika Jokowi kepatil udang. Terkait hal itu ada Pertanyaan seriusnya: bagaimana sebenarnya prosedur pengamanan seorang kepala negara ?, Serius nannya: apakah ada SOP baru sehingga siapapun bisa mendekati presiden tanpa perlu ditanya ini dan itu? (pharliza@gmail.com)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.