Berebut Doa Kiai dan Ketidakjujuran Kedua Kubu

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

saling klaim doa mbah moen ditujukan pada masing-masing kubu. dan terdapat ketidak jujuran pendukung kedua kubu pada video doa mbah moen dan klarifikasinya

Oleh: Nun Faiz Habibullah Ahmad*

Alkisah terdapat dua santri yang kebetulan saudara kembar bernama Fulan dan Filan mondok di pesantren terkenal. Pesantren tersebut tenar seantero negeri. Padahal Sang kiai mendirikan pondok pesantren tersebut baru lima tahun. tapi santrinya ribuan. Mungkin, salah satu sebabnya sang kiai terkenal dengan doa mustajabnya

Fulan adalah sang kakak yang nyantrinya setahun lebih lama. Dia pemalu tak seperti adiknya yang pemberani. Tapi Fulan santri yang kalau ada pengajian selalu duduk di depan. Berbanding terbalik dengan adiknya.

Saat pengajian, Fulan selalu membawa buku catatan. Setiap ada pertanyaan, selalu dicatat di buku itu. Dia malu bertanya kepada kiai nya meski pertanyaan di kepalanya meluap-luap. Alhasil, pertanyaan itu hanya mampu berlabuh di buku catatan.

“dik, minta tolong kalau besok ngaji sama kiai di kelasmu, tanyakan ini” seraya menyalurkan secarik kertas.

“kenapa gak langsung tanya aja sama kiai” jawab Filan sambil mengernyitkan dahi

“sudah, tanyakan saja, nih!”

Keesokan harinya, Filan bertanya pada kiai seperti apa yang ditulis di kertas itu. Mendengar pertanyaan itu, sang kiai tertegun. Sontak beliau bertanya pada Filan. “namamu siapa le?” dengan nada rendah. Sang kiai terheran-heran mengapa ada santrinya punya pertanyaan sekelas S3. Mendengar pertanyaan kiai, Filan dengan sigap menjawab.”Filan kiai” jawabnya pelan.

Seminggu kemudian, saat ada pengajian di masjid, tiba-tiba kiai memanggil Fulan. “ Filan, sini! Saya minta tolong ambilkan kitab saya di rumah. Saya lupa, ketinggalan di meja dekat ruang tamu,” pintanya. Fulan sontak menjawab “ nggeh kiai,” seraya bergegas mengambil kitab. “Kenapa kiai manggil Filan tapi nunjuk aku, padahal Filan kan biasanya tidur di belakang,” kata Fulan dalam hati saat keluar dari masjid menuju rumah kiai.

-000-

Tiga hari kemudian, Fulan dan Filan nahas mendengar kabar buruk tentang keluarganya. ayahnya meninggal dunia, sejak setahun terakhir sakit jantung tapi tidak memberitahukan kepada anaknya. Mendengar kabar itu, Fulan dan Filan bergegas membereskan pakaiannya masing-masing untuk pulang. Meski diizinkan langsung pulang oleh pengurus asrama tanpa pamit ke kiai, Fulan merasa tak nyaman jika tak pamit ke kiai.

“dik, ayo kita izin ke kiai dulu, sebentar saja”

Filan malah mengernyitkan dahi sambil melotot,”kan ini bajunya tinggal sedikit, bis nya sebentar lagi juga datang. kita harus cepat pulang agar nutut pemakaman bapak entar sore,” tegas Filan bercampur kesal.

“ya sudah, kamu bereskan barang barangku juga, biar aku yang izinin ke kiai. nanti tunggu aku di halte biru seperti biasa,” balas Fulan, berusaha tenang. Fulan langsung bergegas menuju ke rumah kiai.

“ngapain masih izin ke kiai sih, padahal pasti kiai mengizinkan pulang tanpa harus izin, kiai pasti ngerti… kalo ketinggalan bis, gak kira bisa melihat wajah bapak terakhir kali,” gumam Filan saat Fulan pergi.

Sampainya di rumah kiai, rupanya sang kiai telah menunggu di depan pintu. “ada apa nak, kok merah” tanya kiai. Fulan menjelaskan kabar duka yang menimpanya sambil terisak-isak. tak sampai selesai bicara, sang kiai memotong bicaranya. Rupanya sang kiai tahu maksud kedatang santrinya.

“bukannya rumahmu di seberang pulau! Berapa jam perjalanan?”. Fulan di dalam hatinya bertanya “kok bisa tahu?” dengan terheran-heran.

“sekitar lima jam, kiai” jawab Fulan sambil menunduk. Setelah kiai mengizinkannya, tiba-tiba beliau berkata kepada Fulan.

“meski kamu mendapat musibah, kamu masih sempat-sempatnya izin. Artinya, kamu bisa mengendalikan diri. Sekarang, kamu jaga ibumu di rumah. Ini ada kitab yang bisa kamu baca dan amalkan,” sambil kiai menyalurkan kitab yang pernah Fulan ambilkan.

Kemudian kiai mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Semoga anak ini, santri saya yang bernama Filan suatu saat menjadi pemimpin ummat di negeri ini, amin.”

Si Fulan tak berani menegur kiai, bahwa Namanya adalah Fulan. Dia hanya husnudzon kepada kiai bahwa kiainya hanya salah sebut nama saja. Tanpa pikir Panjang, Fulan malah mengamini doa kiai, meski yang disebut bukan namanya. “yasudahlah, Hanya beliau dan Tuhan yang tahu maksud doa tersebut. Saya tidak berhak menafsirkannya,” kata hati Fulan.

-000-

Membaca cerita fiksi tersebut tentu mengingatkan kita pada polemik akhir-akhir ini. Saat calon presiden 2019 nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) bersilaturrahmi ke pondok pesantren Al-Anwar, yang dipimpin KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen sapaan akrabnya), seorang Tokoh besar Ulama NU. Yang menjadi polemik bukan kunjungannya, tapi saat Mbah Moen membacakan doa disamping Jokowi namun yang disebut bukan Jokowi, melainkan Prabowo Subianto capres nomor urut 02.

Setelah selesai berdoa, Mbah Moen mengklarifikasi bahwa beliau salah ucap."Jadi kalau saya luput (salah) sudah tua, saya umur 90 lebih," tutur Mbah Moen saat dilansir news.detik.com. kemudian, Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy sapaan akrabnya) mengirimkan video yang menunjukkan klarifikasi Mbah Moen soal salah ucapnya ke media massa, di youtube pun viral.

Kedua kubu saling klaim bahwa doa yang disampaikan oleh Mbah Moen ditujukan pada masing-masing jagoannya. Berbagai pandangan dan dalil dilontarkan dari masing-masing tim sukses agar meyakinkan masyarakat bahwa dialah yang paling benar. Bak, cerita fiksi diatas, antara Fulan dan Filan, siapakah yang akan menjadi pemimpin negeri? Tunggu 17 april 2019.

Santai, tak perlu tegang, Tuhan tahu mana yang terbaik. Yang perlu dilakukan dari kedua kubu adalah saling melobi suara Tuhan dengan doa dan usaha yang terbaik. Tak perlu merebut suara manusia dengan mempertarungkan dalil kedua kubu.  

Namun, ada hal yang menarik sekaligus membuat jengkel akal sehat saat membahas polemik ini.

Rommy dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, mempersoalkan bahwa video yang viral itu ada lanjutannya. Bahkan rommy mengatakan, video yang viral itu sengaja  dipotong oleh pendukung tak bermoral 02 seperti yang dilansir News.detik.com.

Memang, itu faktanya. Pendukung 02 yang tak bermoral (kata Rommy) itu menyebarkan video yang telah diframing sedemikian rupa untuk membangun narasi. Tak hanya pendukung 02 yang yang melakukan hal itu, pendukung 01 yang tak bermoral pun juga melakukannya. apa misalnya? Tak usah jauh-jauh, mari kita dengar dengan seksama video klarifikasi yang dikirim oleh Rommy yang katanya full version itu.

Ada ketidakjujuran Rommy saat mentranskrip perkataan Mbah Moen pada video klarifikasi itu. Perhatikan Transkripdan perkataan (termasuk gerak bibir) Mbah Moen pada kalimat “ya harus ikut saya”. Coba volume speaker anda full-kan, terdapat kalimat lanjutannya, yaitu “kalau bisa”, meski Mbah Moen mengucapkannya lirih hampir tak terdengar.

Seharusnya, jika Rommy ingin jujur (atau mungkin kesalahan dia tidak teliti) dia akan mentranskrip secara sempurna. Kalimat transkripnya menjadi “ya harus ikut saya kalau bisa”.

Dari narasi yang dibuat dalam video klarifikasi tersebut, pendukung 01 seolah ingin membuat narasi bahwa santri wajib ikut Mbah Moen. Padahal, dalam video itu memiliki makna yang berbeda apabila diimbuhi dengan kata “kalau bisa”. Berubah dari wajib menjadi anjuran.  

pendukung 01 dan 02 tidak berhak mengatakan lawan politiknya membangun narasi yang tak bermoral, jika keduanya sama-sama melakukan hal tersebut.

Saya bukan menuduh Rommy tidak jujur dalam menyampaikan klarifikasinya, tapi ini yang saya tangkap dan saya sampaikan apa adanya. Mungkin, selain saya ada yang juga merasakan hal yang sama. Maksud saya menyampaikan ini adalah mari berpolitik dengan hati sehat dan akal sehat.

)* Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Mahasiswa Universitas Brawijaya

Bagikan Artikel Ini
img-content
Nun Faiz Habibullah Ahmad

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua