5 Alasan Gampang Bokek Saat Puasa - Viral - www.indonesiana.id
x

Setyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Mei 2019 17:26 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • 5 Alasan Gampang Bokek Saat Puasa

    Dibaca : 3.511 kali

    Bulan puasa adalah saat untuk menahan diri dari godaan hal-hal duniawi, salah satunya dengan puasa, yakni dengan tidak makan siang. Dengan tidak makan siang, logikanya kondisi keuangan menjadi lebih baik. Namun apakah faktanya seperti itu?

    Herannya, meski telah puasa, ternyata pengeluaran di bulan puasa lebih banyak ketimbang bulan-bulan biasanya. Berikut ini 5 alasan kenapa kita gampang bokek saat puasa:

    1. Harga barang-barang meningkat
    Hal ini telah mentradisi, dimana saat bulan Ramadhan sejumlah harga kebutuhan pokok justru melambung tinggi. Kenaikan ini biasanya terjadi karena pasokan barang tetap atau hnaya naik dikit, tetapi kebutuhan atau permintaan naik. Dengan kenaikan ini, uang yang dikeluarkan juga meningkat.

    2. Kalap saat buka puasa
    Saat buka puasa adalah saat yang paling dinanti-nanti. Secara manusiawi, manusia kadang terkesan ingin cepat-cepat mengakhiri rasa lapar dan haus dengan  banyak mengonsumsi menu buka saur mulai teh manis, gorengan, kolak pisang, nasi beserta lauk, dan lain-lainnya. Keinginan untuk membeli banyak itulah yang membuat uang menjadi tidak sehat karena kesannya terlalu kalap. Padahal, nasi, lauk dan minuman saja sudah cukup untuk buka puasa.

    3. Banyak ikuti bukber
    Pada puasa tahun ini, baik juga kalau kamu mempertimbangkan kembali bukber-bukber yang nggak terlalu penting biar bisa realistis dengan keuangan. Harus diakui, bukber di luar bersama-sama dengan teman-teman dan relasi memang menyenangkan, namun dana yang harus disiapkan juga besar.

    4. Tergiur diskon
    Pusat-pusat perbelanjaan dan e-commerce banyak memberikan diskon, potongan harga, hingga cashback yang menarik. Karena tawarannya memang dirancang sedemikian rupa agar menggiurkan, tak jarang banyak duit tersendot untuk konsumsi berbagai barang dan kebutuhan, mulai dari baju, sepatu, celana, topi, dan lain-lain. Padahal kalau realistis, barang-barang tersebut belum perlu-perlu amat.

    5. Terninabobokkan THR
    Tunjangan Hari Raya yang biasanya cair sebelum Idul Fitri tak jarang meninabobokkan dan salah kaprahnya lagi tidak sedikit yang menanggap THR sebagai pemasukan tambahan yang bisa digunakan seenak udelnya. Sesuai dengan namanya, THR sejatinya diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hari raya dan bukan untuk dihambur-hamburkan seenaknya.

    Nah, mumpung belum terlanjur terlambat. Setelah sadar bahwa pengeluaran duit selama puasa itu justru tinggi, sangat dianjurkan untuk membuat penganggaran yang ketat, seperti untuk bukber, bayar utang, belanja, dan yang tak boleh dilupakan penambahan aset investasi.

    Ada banyak contoh untuk menambah aset investasi dengan uang yang dimiliki mulai dari deposito, reksa dana, saham, properti dan lain-lainnya.

    Nah, dari semuanya itu, reksa dana bisa menjadi pilihan karena cocok banget untuk investor pemula dan sudah mudah dinikmati, semisal dengan platform IPOTFUND keluaran PT Indo Premier Sekuritas.

    Dengan konsisten untuk tidak melakukan 5 hal di atas, niscaya keuangan tetap terjaga kesehatannya. Membuat rencana keuangan pun sebenarnya tidak sulit. Kita bisa memulainya dengan menghitung seluruh pendapatan, tagihan, serta keperluan-keperluan lainnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.084 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).