Merebut Tafsir: Bias

Sabtu, 20 Juli 2019 20:51 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ia telah menerjemahkan sebuah peristiwa berdasarkan tafsiran dan subyektifitasnya sendiri. Menjadi bias adalah wajar karena setiap orang memiliki subyektifitasnya.

Seorang lelaki yang tampaknya sebagai petugas haji dengan terkekeh-kekeh memberi komentar atas peristiwa "lucu" di mana temannya, seorang petugas layanan haji "diserang" lelaki tua pengguna kursi roda yang tak mau dipisahkan dari istrinya. Menurutnya, lelaki tua itu "cemburu" karena sang istri yang juga menggunakan kursi roda didorong petugas haji lelaki muda. Dalam vlog itu memang tampak sang kakek gelisah, terus memegang tangan istrinya dan tak mau pisah, bahkan sang kakek menyerang kepada pendorong kursi roda istrinya yang tampaknya akan memisahkan mereka. 


Bagi sebagian orang mungkin peristiwa itu lucu, dan itu pula yang tampaknya dilihat oleh sang lelaki pembuat vlog dengan ucapannya berkali -kali si kakek cemburu. 
Saya kesal dengan "enyekan" si pembuat vlog itu. Tapi kemudian saya merasa kekesalan itu tak ada guna karena si lelaki pembuat vlog ini tampaknya tak paham bagaimana menangani lansia.

Hal yang dia tahu adalah yang biasa dalam pikiran dan prilakunya sendiri sebagai lelaki muda. Mungkin dalam benaknya ia berpikir " Kalau kejadian itu terjadi pada saya, sikap itu merupakan bentuk kecemburuan saya". Dari sisi itu enyekan dan tertawaan dia merupakan hal yang ia ketahui dan ia alami sebagai lelaki muda. Di sini terjadi proses bias. Ia telah mengandaikan apa yang terjadi pada lelaki tua itu persis yang ia mungkin akan lakukan jika ia dipisahkan dari istrinya. 

Dalam bahasa psikologi dan gender sikap lelaki itu BIAS lelaki muda, mungkin anak kota. Ia telah menerjemahkan sebuah peristiwa berdasarkan tafsiran dan subyektifitasnya sendiri. Menjadi bias adalah wajar karena setiap orang memiliki subyektifitasnya. Namun persoalannya jika dengan bias itu seseorang merasa sudah benar dan ia punya kuasa untuk melakukan tindakan, maka ia telah melakukan tindakan diskriminatif yang berangkat dari bias dan prasangkanya.

Bagaimana caranya untuk keluar dari bias serupa itu? Dalam studi gender yang basisnya pemikiran kritis feminis, seseorang harus berpikir kritis dan memiliki empati. Jika si lelaki pembuat vlog itu mau keluar dari subyektifitasnya dan berpikir kritis dia akan sampai kepada referensi lain tak hanya terbatas kepada apa yang dialaminya sendiri yaitu rasa cemburu. Caranya dia harus keluar dari ego dan subyektifitasnya dan menyeberang kepada sang kakek. " Bagaimana kalau aku seusia dia, bagaimana kalau itu terjadi kepada kakek nenekku ?".

Seandainya dia tahu bagaimana lelaki ditumbuhkan dalam budaya Indonesia ia akan faham, lelaki itu umumnya menjadi tak berdaya karena mereka lebih banyak "multi asking" daripada "multi tasking". Karenanya sangat wajar tingkat ketergantungannya kepada istrinya menjadi lebih tinggi di saat ia menjadi tua/lansia. Lelaki yang tak terbiasa mengurus dirinya sendiri dan secara budaya dan agama dibenarkan untuk selalu diladeni, ia pasti akan ketakutan kalau dipisahkan dari pendampingnya. Jadi bukan urusan sepele seperti rasa cemburu, melainkan hilangnya rasa aman. Belum lagi dignitynya sebaga lelaki, misalnya kalau ngompol bagaimana? Si kakek tua itu niscaya ketakutan berpisah dari istrinya. Dan rasa takut itu yang tidak terbayangkan oleh lelaki muda yang dalam segala hal masih bisa melakukannya sendiri.

Studi-studi tentang lansia dengan analisis gender menunjukkan hal itu. Dan makin miskin pasangan itu akan semakin besar ketergantungan kepada istrinya yang melayaninya tanpa pamrih. 
Dari sana akan terbit sikap empati dan pembelaan. 

Pengetahuan merupakan kunci yang akan mengantarkan pada pemikiran yang melahirkan empati.
Saya yakin, si pemuda pemberi layanan haji itu tak dibekali pengetahuan bagaimana melayani lansia dari ragam budaya, latar belakang kebiasaan desa kota, sampai psikologi lansia. Karenanya cara dia bereaksi sekonyol itu.

Dalam kajian feminsime, membangun empati lahir dari kesadaran kritis atas penindasan manusia oleh manusia lain, alat ukurnya adalah mengritisi relasi timpang, stereotipe dan bias.
Saya tak harus menjadi orang Papua , Cina, waria, Kristen, Ahmadiyah, disabilitas untuk berempati kepada mereka yang dalam struktur masyarakat kita mereka adalah kelompok yang "diminoritaskan" untuk mengakses keadilan.

Tapi pengalaman sebagai perempuan dengan kesadaran kritis atas penindasan yang dialaminya dapat mengantarkan saya kepada lahirnya empati dan pembelaan kepada mereka atas hak-haknya sebagai manusia atau minimal warga negara. Tiap diri niscaya memiliki bias, tapi pengetahuan dan kesadaran kritis dapat mengikisnya dan berubah menjadi empati bahkan pembelaan

Bogor 19 Juli 2019

Bagikan Artikel Ini
img-content
Lies Marcoes

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Merebut Tafsir: Bias

Sabtu, 20 Juli 2019 20:51 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua