Lewat Diskusi, GESIT Ajak Netizen Lawan Hoax dan Posting Konten Positif di Medsos Demi Persatuan dan Kemajuan Bangsa - Analisa - www.indonesiana.id
x

Gesit

Alfin Riki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 29 Juli 2019 08:47 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Lewat Diskusi, GESIT Ajak Netizen Lawan Hoax dan Posting Konten Positif di Medsos Demi Persatuan dan Kemajuan Bangsa

    Dibaca : 111 kali

     

    Keberadaan warganet diharapkan dapat berkontribusi terhadap suksesnya kemajuan bangsa, salah satunya saat ini melalui perannya ikut mengawal jalannya demokrasi yang konstruktif terutama di ruang media publik guna bersinergis memberikan dukungan dan masukan kepada pemerintah secara benar dan tidak bersumber dari basis data hoax apalagi ikut menyebarkan berita hoax . Disisi lain warganet juga diharapkan dapat menangkal berita-berita hoax dan berbagai konten negatif yang dapat memecah belah anak bangsa seperti penyebaran konten radikalisme atau SARA, hal ini agar proses pembangunan nasional berjalan sesuai yang direncanakan serta untuk sebesar besarnya meningkatkan kesejahteraan rakyat maka dibutuhkan peran bersama dalam menjaga persatuan dan kemajuan bangsa.

    Berkaitan dengan hal tersebut, Gerakan Literasi Terbit (GESIT) akan menggelar diskusi dengan kalangan warganet dan insan media serta eksponen lainnya dengan tema ; "Gerakan Melawan Hoax dan Posting Konten Positip Untuk Persatuan Indonesia dan Kemajuan Bangsa" yang rencananya akan digelar Senin, (29/07/2019) pukul 14.00 WIB hingga selesai di Hotel Mega Menteng, Cikini, Jakarta Pusat.

    "Peran Warganet diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap tumbuhnya optimisme bangsa dalam mensukseskan berbagai program pembangunan nasional karena ranah media sosial terbukti menjadi penggerak utama dalam menghasilkan beragam opini, wacana dan kesadaran masyarakat terhadap sesuatu yang terjadi dan berjalan seperti pelaksanaan pembangunan. Artinya warganet juga diharapkan dapat menangkal berbagai opini atau konten negatif yang dapat mendistorsi semua kerja keras bangsa dan bahkan dapat memecah belah seperti konten konten radikalisme dan konten konten negatif lainnya alias Hoax. Oleh karena itu komunitas ini (GESIT) hadir" ujar Hafyz Selaku Ketua Gerakan Literasi Terbit dan juga Pemred Media Kata Indonesia dalam pernyataannya..

    Sementara itu, Zuhairi Misrawi Politisi PDIP yang juga Ketua Baitul Muslimin Indonesia mengatakan, kegiatan yang diinisiasi oleh GESIT harus bisa mengajak Warganet untuk menyebarkan narasi positif dan optimis guna mengajak masyarakat merajut persatuan dan menggapai Kemajuan Bangsa.

    "Gerakan Posting Konten Positip bersama ini ditujukan sebagai tekad merajut kembali persatuan dan menumbuhkan optimisme di tenfah masyarakat demi persatuan dan Kemajuan bangsa, terlalu bodoh jika ruang media publik hanya dipenuhi oleh berita berita hoax yang dapat memecah belah bangsa , padahal bangsa kita punya banyak hal yang dapat diunggulkan yang bisa menjadi kebanggaan dan dapat dipublikasikan di jagat media " kata Zuhairi.

    Senada dengan Zuhairi, Mohammad Guntur Romli selaku Influencer Sosial Media mengatakan bahwa menjadi warganet harus menjadi warganet yang optimis dan membangun dengan tidak memproduksi hoax maupun membuat konten negatif lainnya terutama menyebarkan paham paham yang dapat merusak kebangsaan kita. Warganet harus bisa memproduk konten positip berdasarkan data serta fakta yang benar sebagai bagian dari manifestasi pengabdian bagi bangsa dan negara dalam konteks melaksanakan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai wujud demokrasi yang konstruktif.

    "Untuk itu peran warganet sangat dibutuhkan guna mengawal dan memberikan semangat literasi Positip untuk tumbuh kembangnya demokrasi yang konstruktif dalam rangka mensukseskan pembangunan 5 tahun kedepan tanpa kegaduhan yang bersumber dari info info Hoax apalagi paham-paham radikal ” jelas Guntur Romli.

    Dalam diskusi nanti rencanannya akan dihadiri kalangan pegiat media sosial seperti kalangan blogger, youtuber, vlogger, dan content creator lainnya serta wartawan lokal maupun nasional.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Napitupulu Na07

    6 jam lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 53 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.