Saat Habibie Menggedor Kekuatan Pertahanan Udara - Analisis - www.indonesiana.id
x

Yanuar Nurcholis Majid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Agustus 2019

Kamis, 12 September 2019 12:40 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Saat Habibie Menggedor Kekuatan Pertahanan Udara

    BJ Habibie berpikir 'radikal'. Saat dipanggil pulang ke Tanah Air oleh Presiden Soeharto, Januari 1974. Habibie diminta Presiden Soeharto membenahi industri dirgantara Indonesia.

    Dibaca : 5.512 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    BJ Habibie berpikir 'radikal'. Saat dipanggil pulang ke Tanah Air oleh Presiden Soeharto, Januari 1974. Habibie diminta Presiden Soeharto membenahi industri dirgantara Indonesia.

    Padahal kala itu Habibie merupakan Vice President MBB Corp, sebuah perusahaan dirgantara terbesar di Jerman Barat (sekarang telah bergabung dengan Jerman Timur jadi satu nama yakni Republik Federasi Jeman).

    Kita semua --sebagai masyarakat Indonesia-- layak mencontoh teladan BJ Habibie. Jabatan tinggi di perusahaan asing, kenyamanan hidup yang diperolehya di luar negeri, tidak sebanding dengan kecintaannya pada negaranya: Indonesia. Habibie memilih pulang.

    Tanggung jawab yang dibebankan ke Habibie tidak mudah. Membuat industri dirgantara nasional berdaya saing di dunia dengan memanfaatkan potensi yang tersedia. Ketika itu; industri dirgantara Indonesia terseok-seok.

    Habibie tidak patah semangat. Pikiran progresif Habibie lahir: membentuk Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 26 April 1976. Dikelola oleh negara melalui BUMN. Habibie menata manajemen dan SDM yang tersedia agar unggul.

    Upaya Habibie sukses! Ketika itu banyak yang tidak menyangka Habibie mampu membuat terobosan di bidang dirgantara Indonesia jadi berkualitas. Kini: PTDI --sebelumnya IPTN-- adalah industri dirgantara kebanggaan Indonesia.

    PTDI membuat pertahanan udara Indonesia amat tangguh. Wilayah udara Indonesia terjamin kokoh pertahanannya dari ancaman musuh sebab produksi PTDI. Dan Habibie berkontribusi terhadap penguatan pertahanan udara Indonesia.

    Tidak hanya pesawat komersil, PTDI juga telah memproduksi pesawat tempur dan helikopter militer buatan anak negeri. PTDI pun ikut memproduksi senjata pesawat tempur sebagai pendukung pertahanan NKRI. Pemeliharaan pesawat komersil dan tempur dengan senjatanya pun dapat dilakukan di PTDI.

    Banyak negara melirik produksi pesawat tempur PTDI. Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Turki, Singapura, Australia, Afrika dan lainnya berminat dengan karya PTDI. Negara lain menganggap kekuatan udara Indonesia makin mumpuni.

    Telah banyak pula jenis pesawat tempur diproduksi PTDI, sebut saja di antaranya CN-235 Gunship atau helikopter H225M untuk TNI AU dan helikopter Bell-412 bagi TNI AD.

    Habibie: tak dapat dilepaskan dari kontribusinya terhadap kekuatan pertahaan udara Indonesia. Semua karena kecintaannya pada Indonesia. Kini: Presiden Indonesia ketiga itu telah tiada. 11 September 2019 pukul 18.05 WIB BJ Habibie meninggalkan dunia. Selamat jalan, Bapak Teknologi Dirgantara Indonesia.

    Ikuti tulisan menarik Yanuar Nurcholis Majid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.