Pengalaman Pertama Menghadapi Kekeringan di Jakarta - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dewa Made

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 15 Oktober 2019 20:51 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Pengalaman Pertama Menghadapi Kekeringan di Jakarta

    Dibaca : 755 kali

    Tidak biasanya, pompa air di kosan saya mengeluarkan dengung yang amat berisik. Celakanya, meski pompa masih dalam keadaan hidup, tak ada air yang keluar dari keran. Menurut Bapak Kos,” Sepertinya pompa sedang rusak, sudah cukup tua, belum pernah diganti”. Saya diminta bersabar karena akan dicarikan tukang servis. Di tengah panasnya malam ibukota, gerahnya usai bekerja, saya harus menerima nasib: tidak mandi semalaman.

    Kejadian air keran mati sebenarnya bukan pertama kali di Tahun 2019. Wajar pula jika muka saya ketus kepada Bapak Kos. Dia, yang menafsir pompa rusak, seolah membiarkan masalah berlarut-larut. Padahal, kalau minta uang sewa, selalu lancar.

    Setelah saking seringnya tukang servis bolak-balik, disimpulkanlah kalau mesin pompa telah benar-benar rusak. Akhirnya, si Bapak Kos beli pompa baru. Hati para penghuni kos jadi sedikit terhibur. Namun cerita ini jauh dari akhir yang bahagia. Hanya berselang beberapa hari, mesin pompa mendengung dan air mati kembali.

    Atas kejadian ini, seluruh penghuni kos panik bukan main. Tidak mau jadi sasaran amarah penghuni kos, Bapak Kos segera mencari solusi alternatif. Menampung sebanyak-banyaknya air di ember begitu air menyala. Kadang, sampai dimintakan ke tetangga juga, disalurkan dengan selang. Meskipun air tetangga juga kecil.

    Di saat-saat seperti ini, saya menyadari bahwa kebutuhan kita akan air memang tiada duanya. Meski memiliki gadget canggih, kuota melimpah, mobil mewah, semua itu tiada berarti ketika sumber air lenyap. Herannya, hidup di jantung ibukota tidak menjamin kita akan terbebas dari kekeringan. Berada di kota besar, bukan berarti semua telah dikelola dengan baik.

    Mengenai kesulitan air bersih ini, pada suatu hari saya curhat ke tetangga.

    “Duh, ribet juga sekarang, air kok susah ya?”.

    Dia langsung menyahut, “Lah, kok sama? Saat mandi, airnya kadang mati, kirain pompa saya yang rusak. Jadi biasanya ditunggu dulu, baru nanti airnya ada lagi”.

    “Kita malahan sudah ganti pompa tapi airnya tetap susah”, sambung saya.

    “Berarti benar..”

    “Benar kenapa Pak?”

    “Airnya mungkin kesedot ke bangunan baru”, tebaknya.

    Mendengar tebakan itu, seketika saya tersadar, “Ah iya, jangan-jangan memang begitu”. Jika ditarik ke belakang, kali ini bukanlah musim kemarau pertama yang saya lalui di Jakarta. Selama hampir empat tahun saya kos di tempat ini, 2019 adalah tahun pertama saya menghadapi kesulitan air di Jakarta. Terlebih daerah saya bukan yang diprediksi mengering seperti 15 kecamatan lainnya.

    Sepintas memang tidak ada kondisi yang berubah signifikan, terkecuali terdapat aktivitas pembangunan 2 gedung raksasa. Satunya adalah apartemen berpuluh-puluh lantai. Satunya lagi sebuah gedung yang sepertinya dipersiapkan untuk perkantoran. Dari sekian perubahan, 2 aktivitas pembangunan ini memang yang paling mencolok. Tapi saya tidak bisa pastikan apakah pembangunan ini memang menggunakan sumber air tanah atau bukan. Yang pasti, sumur air di sekitar lingkungan kos saya mengering.

    Mengerikan memang jika membayangkan gedung-gedung tinggi mengandalkan sumber air tanah. Apalagi jika bangunan tersebut dikelilingi permukiman padat penduduk. Ketika airnya tersedot -dengan alat yang lebih canggih- ke gedung, sumur-sumur warga akan terkuras. Mengandalkan air PAM pun tidak tertolong. Saat jam sibuk, air yang mengalir sangat kecil.

    Mungkin inilah yang dimaksud bahwa air akan dikuasai kalangan berduit. Kita bukannya anti pembangunan, namun pembangunan yang mengutamakan kebutuhan hidup orang banyak justru lebih penting dibanding sekadar membangun apartemen-apartemen mewah untuk pemuas secuil kalangan. Pembangunan komersial perlu mendapat kontrol yang ketat. Karena ketika air mengering, habislah kita. Kehidupan macam apa yang dibayangkan ketika kita kehilangan sumber air?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.