Perjuangan Ratu Tisha, Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2021 - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ratu Tisha sedang presentasi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 Oktober 2019 18:17 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Perjuangan Ratu Tisha, Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2021

    Dibaca : 1.231 kali


    Catatan sejarah baru. Indonesia tuan rumah Piala Dunia U-20 2021.

    Acungan jempol dan apresiasi luar biasa untuk Sekjen PSSI, Ratu Tisha. Terlepas dari persoalan PSSI dan sepak bola nasional yang selama ini mengiringi langkahnya, atas upaya dan perjuangannya, Indonesia memenangkan bidding menjadi tuan rumah Piala Dinia U-20 tahun 2021 dan meninggalkan dua negara pesaingnya asal Amerika Latin, Brasil dan Peru.

    Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 diumumkan setelah otoritas sepak bola dunia (FIFA) menggelar general meeting di Shanghai, China, Kamis (24/10/2019).

    Dalam pertemuan umum FIFA itu, untuk menentukan pemenang, dilakukan presentasi akhir dari proses bidding Piala Dunia U-20 2021.

    Ratu Tisha, memberikan presentasi di depan FIFA dan para tamu undangan untuk menentukan siapa yang berhak menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 dengan menampilkan keunggulan Indonesia melalui sebuah video singkat dengan durasi lima menit dan ditampilkan pada akun Youtube PSSI.

    Di dalam videonya, PSSI menampilkan keunggulan Indonesia mulai dari budaya, keindahan alam Indonesia, moda transportasi, hingga suporter sepak bola
    Indonesia yang terkenal fanatik termasuk juga menampilkan calon daerah dan stadion yang akan digunakan untuk menggelar Piala Dunia.

    Atas terpilihnya Indonesia, maka ini adalah sejarah baru bukan hanya bagi persepak bolaan tanah air. Namun, juga sejarah baru bagi bangsa dan negara Indonesia, karena untuk pertama kalinya Indonesia dapat dipercaya FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia.

    Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, yang hanya berselang kurang dari beberapa hari menuju Kongres PSSI, 2 November 2019, otomatis juga kado manis bagi siapapun Ketua Umum yang akan terpilih.

    Lebih dari itu, Timnas U-19 asuhan Fakhri Husaini pun tak perlu lagi repot-repot harus melalui babak kualifikasi demi menuju Piala Dunia U-20 2021, sebab secara otomatis Timnas U-19 sudah lolos karena Indonesia menjadi tuan rumah.

    Tahun 2021 yang tinggal hitungan bulan pun wajib menjadikan Jakarta, Bogor, Solo, Bekasi, Bali, Surabaya, Yogyakarta, Palembang dan Bandung segera berbenah karena akan disinggahi tim-tim U-20 dunia.

    Berikutnya, Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta), Stadion Pakansari (Bogor), Stadion Kapten I Wayan Dipta (Bali), Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya), Stadion Manahan (Solo), dan Stadion Mandala Krida (Yogyakarta) juga wajib dijaga dan dirawat dengan kualitas karena akan diinjak oleh para pemain hebat U-20 dari berbagai negara peserta Piala Dunia.

    Sementara, untuk suporter, juga sejak sekarang sudah mulai berpikir bahwa nantinya sebagai tuan rumah, akan mendukung semua Timnas negara peserta, bukan hanya mendukung Timnas Indonesia.

    Sebab, selama ini, suporter kita, hanya mendukung dan hadir ke stadion bila yang bertanding tim kesayangannya atau Timnas Indonesia.

    Pada saat Piala Dunia, siapa pun yang berlaga, meski bukan Timnas yang bertanding, Stadion harus terisi penuh. 

    Sekali lagi, selamat dan acungan jempol untuk Ratu Tisha. Berkat perjuangan dan keprosfesionalannya, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara kedua setelah Malaysia yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada tahun 1997.

    Juga menjadikan Timnas U-19 akan mengikuti jejak  Piala Dunia U-20 tahun 1979 di Jepang.

    Saat itu, Indonesia tergabung dalam Grup B bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Sayang, Indonesia terpaksa tersingkir di babak penyisihan setelah menerima kekalahan dari lawan-lawannya .

    Yang menarik, Indonesia pada Piala Dunia U-20 1979 dapat menghadapi Argentina yang kala itu diperkuat oleh Diego Maradona yang bahkan berhasil mencetak dua gol ke gawang Indonesia.

    Terima kasih Ratu Tisha. Selamat Indonesia, selamat Timnas U-19, selamat berbenah untuk segenap bangsa Indonesia untuk menyambut kontestan Piala Dunia U-20 2021. Bravo sepak bola nasional.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Saufi Ginting

    2 hari lalu

    LINGLUNG

    Dibaca : 126 kali


    Oleh: medy afrika

    3 hari lalu

    Perbedaan Aset Desa dengan Inventaris Desa

    Dibaca : 145 kali

    DESA, NEWS - Secara umum, aset Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“UU Desa”) dan lebih rinci diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa (“Permendagri 1/2016”). Aset Desa  : adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sementara itu, istilah inventaris desa tidak ditemukan dalam UU Desa maupun Permendagri 1/2016.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (“KBBI”) yang terakses dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, inventaris adalah daftar yang memuat semua barang milik kantor (sekolah, perusahaan, kapal, dan sebagainya) yang dipakai dalam melaksanakan tugas.                                                                                      Merujuk pada definisi inventaris desa di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa inventaris desa adalah daftar barang milik desa. Meski demikian, istilah inventarisasi dapat kita temukan dalam Permendagri 1/2016. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan aset Desa. Merujuk pada definisi inventarisasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inventaris desa adalah hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Yang Termasuk Aset Desa : Aset Desa dapat berupa tanah kas desa, tanah ulayat, pasar desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik desa, mata air milik desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik desa.   Aset lainnya milik desa antara lain: a.  kekayaan desa yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (“APBDesa”); b.    kekayaan desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis; c.    kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan lain-lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; d.    hasil kerja sama desa; dan e.    kekayaan desa yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Inventarisasi Aset Desa : sekretaris desa selaku pembantu pengelola aset desa berwenang dan bertanggungjawab: a.    meneliti rencana kebutuhan aset desa; b.    meneliti rencana kebutuhan pemeliharan aset desa ; c.    mengatur penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan aset desa yang telah di setujui oleh Kepala Desa; d.    melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi aset desa;dan e.     melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan aset desa.   Petugas/pengurus aset desa bertugas dan bertanggungjawab: a.    mengajukan rencana kebutuhan aset desa; b.    mengajukan permohonan penetapan penggunaan aset desa yang diperoleh dari beban APBDesa dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Desa; c.    melakukan inventarisasi aset desa; d.    mengamankan dan memelihara aset desa yang dikelolanya; dan e.    menyusun dan menyampaikan laporan aset desa.   -Aset desa yang sudah ditetapkan penggunaannya harus diinventarisir dalam buku inventaris aset desa dan diberi kodefikasi. Kodefikasi yang dimaksud diatur dalam pedoman umum mengenai kodefikasi aset desa. -Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Desa melakukan inventarisasi dan penilaian aset Desa sesuai peraturan perundang-undangan. Bisa didefenisikan, aset desa dan inventaris desa merupakan dua hal yang berhubungan. Aset desa merupakan barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sedangkan inventaris desa adalah daftar barang milik desa, yakni hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Kegiatan inventarisasi aset desa merupakan tugas dan tanggung jawab petugas/pengurus aset desa yang berkoordinasi dengan sekretaris desa. Dasar Hukum: 1.    UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa 2.    Permendagri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa.