x

Peringati sesuai aturan pemerintah

Iklan

Ahmad Deni Rofiqi

menyukai kucing dan menikmati setiap obrolan menarik
Bergabung Sejak: 6 November 2019

Senin, 11 November 2019 08:09 WIB

Pahlawan (Hasil Revisi) Rezim Ini

Narasi ini adalah upaya membangun kembali target pahlawan--rezim ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


(Penilaian ulang tentang perjuangan-perjuangan—kepahlawanan—baru di rezim ini)


Ahmad Deni Rofiqi*(


Narasi kepahlawanan adalah basis diametral dalam mengatur kapasitas perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, diktatorisme, otoritarianisme, represif, penghakiman sepihak, peminggiran, persekusi, dan tindakan-tindakan lain yang mengancam kemerdekaan secara manusiawi. Peletakan kolonialis ini berhimpun dalam cakupan nasional dan menegasikan ruang kerakyatan secara sentralistik dan integral.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Drama historis—dalam alur kepahlawanan—dibuat sekolosal mungkin untuk menarik empati. Selain dari pada itu edukasi lainnya adalah satu upaya untuk meresonansi semangat pembaharuan dari alur kelam menuju tema-tema progresif. Yakni, ungkapan progresif untuk bertahan melawan (neo-)kolonial dalam bentuk rupa apapun yang hari-hari ini harus direvisi.

Cara diplomatif untuk mengumpulkan barisan suara perlawanan ini mesti dibangun atas dasar nasionalisme dan cita-cita kebangsaan. Wujud musyawarah mewujudkan Indonesia adil-makmur merupakan legislasi tanpa nego-nego. Dan perlawanan kaum intelektual (baca: pahlawan) harus terejawantahkan di pojok-pojok sawah, kampus, sekolah, toko, kolong jembatan, kantor pemerintah, dan semua tempat yang berada di Indonesia.


Wujud Kapitalisme sebagai Empire

Pada tulisan Michael Hardt-Antonio Negri, kapitalisme dalam rupa empire adalah wujud ekstensif kapitalisme di Abad ke-21. Empire mengusung informasi dan komunikasi sebagai variable sentral dalam realitas ekonomi-kapitalistik kontemporer. Melalui paradigma informatisasi, Empire melahirkan produksi biopolitis, yaitu produksi dan reproduksi realitas sosial yang mencakup keseluruhan bentuk interaksi antar-individu.

Produksi biopolitis bergulir melalui kerja immaterial labor yang memiliki tiga wujud, yaitu labor yang bekerja dengan memanipulasi symbol komputasi, selanjutnya ada labor komunikasional yang menciptakan interaktivitas pasar dengan produsen, lalu labor afeksi yang memberi pelayanan baik dalam hal intelegnsia maupun korporeal (kebutuhan afektif) (Negri, Antonio dan Michael Hardt. 2001: 222).

Pada level labor afeksi yang memberi pelayanan baik dalam hal intelegensia maupun korporeal, tenaga pelajar dieksploitasi menjadi mesin-mesin kapitalis; memenuhi pasar-pasar bebas; perusahaan-perusahaan kapitalis yang pada akhirnya akan turut serta dalam perampasan lahan-lahan produktif atas nama kesejahteraan.

Menabu tema-tema kerakyatan memang tidak mudah, tapi bukan berarti bangsa ini (baca: pahlawan baru) harus mundur dan mengambil jarak. Pilihan mundur bukan jalan terbaik. Apalagi harus menutup dialog kerakyatan di tengah hingar-bingarnya retorika politik yang begitu menjemukan. Apa jadinya bila bangsa ini enggan merevolusi diri menjadi pribadi yang tanggap dan semangat mengemban misi kesejahteraan?


Butuh Pahlawan Baru dengan Senjata Baru

Berbicara navigasi dan kompas kepahlawanan, saya ingin mencoba memperluas makna pahlawan menjadi tidak sekadar perhelatan seromonial. Lebih dari pada itu, tugas baru yang dihadapi pahlawan hari ini adalah berkaitan dengan usaha-usaha multi-diametral ke segala lini. Maksudnya, tugas-tugas pahlawan hari ini adalah upaya berikrar membawa kepentingan rakyat dan mau berjuang melawan bangsa sendiri yang begitu tamak. Seperti peristiwa perampasan lahan-lahan produktif, pelanggaran hak-hak rakyat, penerobosan teritorial sipil, dan lain sebagainya sebagaimana pemberitaan media yang beredar.

Layaknya penjelasan Empire di atas, adalah satu dari sekian diskurus lain dalam arti perjuangan baru, untuk tetap bertahan dalam debat tema-tema kerakyatan di atas segala-galanya. Tema kerakyatan itu harus tetap didorong menjadi satu orientasi yang wajib dilaksanakan tanpa negosiasi apapun atau diplomasi berupa kesepakatan apapun. Pahlawan baru harus mengerti ini dan wajib belajar untuk mencari tugas lain selain upacara atas perjuangan-perjuangan pahlawan tua masa silam.

Pun manusia telah direduksi menjadi paksi dan menyuplai watak kapitalis secara definitive beserta kognisi sosialnya. Persebaran-persebaran kapitalis dalam bacaan Michael Hardt-Antonio Negri, telah memanipulasi dan menampar kekuatan progresif—yang belum menyadari produksi biopolitis tadi dengan labor-nya.

Begitu disayangkan bila 10 November —atau jauh hari sebelum peringatan pahlawan dan perjuangannya harus tetap diperbaharui— hanya dimaknai upacara dan selametan-selametan lain. Pahlawan yang lama itu tidak butuh selametan tapi butuh gerakan —dari pahlawan— dalam makna membawa kepentingan kebangsaan-keummatan. Bukan malah menutup diri dan jarang membaca realitas sebagaimana mobilisasi massa yang turun di jalanan.

Pada akhirnya, anatomi kepahlawanan beserta perjuangannya wajib berdiri di garda terdepan. Ia harus mengisi pos-pos kritis dan bilik-bilik pejuang ummat. Memang terkesan impian besar berlebihan. Tapi inilah makna perjuangan pahlawan baru dengan dalil konsistensi dan definitive sebagai upaya penyeberangan bangsa ke arah progresif. Semoga pahlawan hari ini bisa dimaknai gerakan perubahan bukan selametan menabur kembang di atas kuburan.

*( Penulis adalah mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara IAIN Jember sekaligus anggota HMI Cabang Jember Komisariat Al-Fatih. Ig: @deni.rofiqi

Ikuti tulisan menarik Ahmad Deni Rofiqi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler