Tingkatkan NTP, Majukan Petani Indonesia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sawah pada saat kekeringan di Indramayu

Fadhila Annisa Maksum

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2019

Selasa, 19 November 2019 09:38 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tingkatkan NTP, Majukan Petani Indonesia

    Dibaca : 213 kali

    Nama  : Fadhila Annisa Maksum

    NIM    : 211709672

    Kelas  : 3SE4

    Tingkatkan NTP, Majukan Petani Indonesia

    Indonesia merupakan negara agraris, yaitu sebagian besar penduduknya bermatapencaharian di  lapangan usaha pertanian. Berbicara soal pertanian, pertanian merupakan salah satu lapangan usaha yang memberikan sumbangan terbesar terhadap PDB Indonesia. Menurut data BPS pada tahun 2018, lapangan usaha pertanian berhasil menyumbang sebesar 1,9 Miliyar Rupiah. Kemajuan pertanian di Indonesia dapat mengangkat citra Indonesia sebagai negara agraris yang produktif.

    Namun pertanyaannya adalah apakah pertanian di Indonesia sudah tergolong maju? Apa indikator untuk mengukur maju tidaknya pertanian suatu negara?

    Salah satu indikator kemajuan pertanian di Indonesia ialah kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani dapat diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP). NTP merupakan rasio antara indeks harga yang diterima petani (It), yakni harga jual outputnya dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib), yakni indeks harga input yang digunakan untuk bertani, misalnya pupuk, pestisida, tenaga kerja, irigasi, bibit, sewa traktor, dan lainnya.

    Sumbangan terhadap NTP diperoleh dari lima subsektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perikanan, peternakan, dan perkebunaan. Semakin tinggi kontribusi dari setiap sektor, maka semakin tinggi indeks NTP, yang artinya semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan petani. Tingginya kesejahteraan petani dapat mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan serta dapat menurunkan arus urbanisasi ke kota sehingga mengurangi beban kota-kota besar.

    Berdasarkan data BPS pada tahun 2019, data NTP bersifat fluktuatif. Sepanjang tahun 2019, NTP terendah terjadi pada bulan April, yaitu sebesar 102.23. Turunnya NTP pada bulan April dapat disebabkan karena indeks harga yang dibayar petani (Ib) lebih besar dibandingkan indeks harga yang diterima petani(It) atau mungkin sebaliknya.

    Jika dilihat berdasarkan data BPS, kasus harga gabah dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tertinggi terjadi pada bulan April 2019, yaitu sebesar 3.58% pada GKP tingkat petani dan sebesar 3.34% pada GKP tingkat penggilingan. Hal ini menggambarkan bahwa terjadinya penurunan daya beli petani pada bulan April. Kasus ini sering terjadi apabila telah memasuki masa musim panen raya. Sebagaimana teori yang berlaku di dalam ekonomi, apabila produksi tinggi, maka harga akan menurun.

    Jatuhnya harga gabah ketika musim panen raya ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya produksi gabah, namun juga disebabkan beberapa faktor lain, salah satunya, ialah kerusakan gabah yang terjadi ketika musim panen. Sebagai solusi atas permasalahan diatas, diperlukan intervensi pemerintah dalam menentukan kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang ‘rutin’ terjadi setiap tahun itu. Hal yang bisa dialukan adalah , yaitu dengan memperbiki kualitas dengan cara meningkatkan sarana tempat penjemuran, gudang penyimpanan atau lumbung padi yang layak, dan mesin pengering sehingga lebih mampu beradaptasi terhadap pola iklim tahunan.

    Berbagai kasus harga yang terjadi perlu dijadikan sebagai sistem peringatan dini oleh pemerintah untuk melakukan perbaikan manajemen rantai distribusi hasil panen oleh masing-masing pemerintah daerah agar tidak diambil alih oleh tengkulak yang mengakibatkan ketidakstabilan harga di pasaran. Kemudian, sosialisasi HPP perlu terus dilakukan secara intensif kepada petani dan penggiling terutama pada masa panen guna mengantisipasi kecenderungan rendahnya harga gabah selama musim panen raya tiap tahun.

    Selain itu, penurunan NTP juga dapat mengindikasikan terjadinya inflasi di pedesaan. Inflasi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi NTP, karena inflasi merupakan perubahan yang terjadi pada harga dan NTP adalah perbandingan antar harga. Inflasi yang terjadi dapat mengakibatkan kesejahteraan petani menurun karena biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli kebutuhan sehari-hari akan lebih besar. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, inflasi yang berkepanjangan akan memberikan dampak buruk terhadap kesejahteraan petani yaitu menurunnya produktivitas petani.  

    Faktor lain yang dapat memengaruhi NTP ialah ongkos input produksi yang dibutuhkan petani. Faktor-faktor produksi atau input yang dibutuhkan petani sangat berpengaruh terhadap NTP. Apabila ongkos input produksi tinggi maka NTP akan menurun karena indeks harga yang dibayar petani besar. Oleh karena itu, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam menekan biaya produksi dalam pertanian, misalnya dengan cara memberikan subsidi terhadap input pertanian, seperti pemberian pupuk, pestisida, dan bibit unggul. Hal ini akan membantu meringankan biaya petani dalam mengeluarkan biaya produksi.

    Namun dalam hal ini tidak hanya pemerintah yang berperan besar dalam peningkatan NTP demi kesejahteraan masyarakat pertanian. Hubungan timbal balik antara petani dan pemerintah dapat menjadi suatu kesatuan yang kuat dalam mewujudkan kemajuan pertanian. Adanya sarana yang disediakan pemerintah dalam menunjang aktivitas pertanian, serta meningkatnya kualitas petani dapat menjadi suatu system terintegrasi dalam meningkatkan NTP dan memajukan petani Indonesia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Salsabila Zulfani

    2 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 143 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.