Tarik-ulur Soal Rizieq, Inikah Indikasi Lobi Pemerintah Jokowi? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo alias Jokowi (kiri) bertemu Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud di Kerajaan Arab Saudi, Ahad, 14 April 2019. Jokowi sempat bersantap siang dan bertemu dengan Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Biro Pers Sekretariat Presiden

Andi Pujipurnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Oktober 2019

Selasa, 26 November 2019 03:34 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tarik-ulur Soal Rizieq, Inikah Indikasi Lobi Pemerintah Jokowi?

    Tiadanya transparansi pemerintah Joko Widodo menggambarkan adanya permainan politik tingkat tinggi dalam urusan Rizieq Shihab. Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) ini sampai sekarang masih tertahan di Arab Saudi selama dua tahun lebih.

    Dibaca : 3.882 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tiadanya  transparansi  pemerintah Joko Widodo menggambarkan  adanya permainan politik tingkat tinggi dalam urusan  Rizieq Shihab.   Pemimpin  Front Pembela Islam (FPI) ini masih tertahan di  Arab Saudi sejak dua tahun lalu.

    Kabar perkembangan masalah  Rizieq justru datang  dari Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Esam A. Abid Althagafi.   Ia   mengungkapkan bahwa urusan Rizieq  sedang dinegosiasikan.

    "Masalah  itu sedang dinegosiasikan oleh pejabat kedua negara. Kami berharap ini segera bisa diselesaikan,"  kata Esam di Kantor Kementerian Koordinator  Politik, Hukum dan Keamanan,  25 November 2019.

    Sebelumnya, sederet “drama”  terjadi di seputar urusan Rizieq, mulai dari kasus penangkapan di Arab Saudi sampai soal tidak bisa keluarnya  tokoh ini  dari negara  tersebut karena alasan keamanan.

    Insiden bendera hitam
    Kita masih ingat,  pada November  tahun lalu Rizieq sempat ditangkap oleh kepolisian Arab Saudi  gara-gara insiden pemasangan bendera hitam.   Menurut  Duta Besar RI   Agus Maftuh Abegebriel,  Rizieq ditangkap pada  5 November 2018.  Sehari kemudian Kedutaan Besar RI  datang untuk membebaskannya dengan jaminan.

    Penyebab penangkapan itu adalah  pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstremis pada dinding bagian rumah belakang Rizieq. Menurut Agus, pemerintah Saudi, kata dia, melarang keras segala bentuk jargon, label, atribut, dan lambang apapun yang berbau terorisme

    Alasan keamanan dan visa habis
    Dalam video telekonferensi, 8 November 2019,  Rizieq pernah  memperlihatkan  surat pelarangan ia keluar dari Arab Saudi.  Pertimbangan pemerintah Arab mencekalnya adalah alasan keamanan.

    Adapun  pemerintah Indonesia  terkesan kurang gamblang menjelaskan duduk perkaranya. Para pejabat cenderung memaparkan soal visa  Rizieq yang sudah lama kaladuwarsa.  Artinya, ia mengalami over stay dan harus membayar denda untuk bisa pulang.

    Logikanya, Rizieq  mustahil membayar denda sekitar ratusan juta rupiah. Kembali lagi,  agaknya ada hambatan dari pemerintah Saudi dengan  “alasan keamanan” tadi.   Boleh jadi, Pemerintah Arab Saudi baru akan melepas Rizieq bila Pemerintah Jokowi memberikan lampu hijau. Konteks “keamanan” itu  diduga berkaitan dengan  pemilu.

    Itu sebabnya,    Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera  Hidayat Nur Wahid meminta agar Rizieq dipulangkan.  “Karena beliau tidak boleh pulang itu karena terkait pemilu. Pemilu sudah selesai dan semua aman damai, ya harusnya beliau kemudian bisa dipulangkan kembali ke Indonesia," kata Hidayat, 16 November 2019.

    Hubungan RI-Arab Saudi
    Eratnya hubungan pemerintah  RI dan Arab Saudi boleh jadi menjelaskan kenapa kasus seperti Rizieq  Shihab bisa terjadi.  Raja Salman dari Arab Saudi bahkan pernah melakukan kunjungan yang bersejarah ke Indonesia pada  Maret 2017. Saat itu  Arab Saudi menjanjikan sejumlah investasi dan kerja sama ekonomi.

    Neraca perdagangan RI-Arab Saudi

    Sebaliknya  Jokowi pun  saat umrah pada April  tahun lalu,  ia juga mendapat kehormatan diundang oleh  Raja Salaman di Istana di Riyadh. Selain itu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman juga mengundangnya. Dalam lawatan itu, Presiden Jokowi juga sempat membahas kerja sama dalam bidang energi antara Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi .

    Impor kita dari Arab Saudi yang cukup tinggi  dan cenderung naik beberapa tahun terakhir,   juga menggambarkan  pentingnya negara kita bagi Arab Saudi.   

    ***

    Ikuti tulisan menarik Andi Pujipurnomo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.