Jenis Ikan Hias Air Tawar Asli Indonesia dan Asal Usulnya - Analisa - www.indonesiana.id
x

Redaksi Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Februari 2020

Jumat, 29 November 2019 23:24 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Jenis Ikan Hias Air Tawar Asli Indonesia dan Asal Usulnya

    Dibaca : 464 kali

    Indonesia adalah negara dengan banyak spesies ikan air tawar yang di dalamnya mempunyai banyak spesies ikan hias. Berdasar data yang kami bisa dari wikipedia. Dengan jumlahnya spesies ikan air tawar yang banyak, seputar 1. 155 spesies, menjadikan Indonesia untuk negara paling besar ke-3 di Dunia yang mempunyai keberagaman ikan air tawar.

    Dalam daftar ini memuat ikan hias air tawar asli dari Indonesia, Ikan hias endemik Indonesia, termasuk ikan-ikan hias air tawar langka yang cuma berada di Indonesia.

    Jenis Ikan Hias Air Tawar

    Jenis Ikan Hias Air Tawar Cantik Asli Indonesia yang bisa Anda pelihara di aquascape atau akuarium berikut penjelasan dan asalnya.

    Ikan Pelangi Mungil

    • Nama Latin/ Ilmiah : Melanotaenia praecox.
    • Nama Lain : rainbowfish neon, rainbo pikok, rainbowfish dwarf

    Melanotaenia praecox ialah spesies ikan dalam keluarga Melanotaeniidae, dikenal juga untuk rainbowfish neon. Ikan ini endemik di lembah Sungai Mamberamo di Papua Barat, Indonesia serta sudah umum jadi ikan hias yang diperjualbelikan, cukup laku serta laris di pasar.

    Melanotaenia Vanheurni

    • Nama Latin/ Ilmiah : Melanotaenia vanheurni

    Rainbowfish Van Heurn masih spesies ikan dari keluarga Melanotaeniidae. Datang dari sungai-sungai kecil di Papua, yang mengalir lewat rimba hujan yang dekat sama kaki bukit di seputar tepian Dataran Mamberamo.

    Mugilogobius Adeia

    Mugilogobius adeia ialah spesies ikan dari keluarga Gobiidae (Ikan Gobi). Datang dari timur Talu, Danau Matano, Sulawesi, ikan ini adalah ikan endemik di Indonesia. Beberapa ciri, mempunyai minimal lima garis hitam yang tidak teratur disamping tubuhnya, diselingi dengan bintik-bintik besar yang tidak teratur menghiasi ikan ini. Ikan ini termasuk juga ikan hias langka di Indonesia.

    Betta Burdigala

    Betta burdigala (Red Brown Dwarf Fighter) ialah spesies endemik Kepulauan Bangka Belitung di Indonesia. Mereka ialah penghuni rawa gambut, ikan ini dapat tumbuh sampai panjang 2, 5 cm di habitat aslinya.

    Betta Channoides (Snakehead Betta)

    Semacam ikan cupang dalam barisan Albimarginata. Di dunia ikan hias populer dengan nama Snakehead Betta. Asli dari lembah sungai Mahakam di propinsi Kalimantan Timur di pulau Kalimantan, Indonesia. Ikan ini salah satunya ikan cupang tangkapan alam yang cukup terkenal sebab warnanya yang bagus dan cukup gampang didapatkan.

    Cupang Api Api

    • Nama Latin/ ilmiah : Betta coccina
    • Nama Lain : Scarlet Betta, Wine Red Betta

    Diketahui datang dari beberapa wilayah di Propinsi Jambi serta Riau di pulau Sumatra, Indonesia, serta negara sisi Johor, Semenanjung Malaysia.

    Boraras Brigittae (Mosquito Rasbora)

    Kendati catatan yang kami bisa masih tidak cukup tentang ikan yang dikenal dengan nama rasbora cabai atau rasbora nyamuk ini, tetapi dapat disebutkan ikan yang disebutkan Redfin Dwarf Rasbora ini asli endemik kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Mereka termasuk juga ikan hias yang menyukai bergerombol.

    Ikan Botia Badut

    • Nama Latin/ Ilmiah : Chromobotia macracanthus
    • Nama lain : Harimau botia/ Ikan Botia Badut

    Ialah ikan air tawar tropis punya keluarga loach botia. Ikan ini ialah anggota tunggal dari genus Chromobotia. Asli dari Kepulauan Sunda Besar, Kepulauan Borneo serta Sumatera. Awal-awalnya cuma ada di skema sungai Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta Kalimantan Timur Indonesia, termasuk juga Kayan serta Kabupaten Kapuas.

    Ikan Puntang

    • Nama Latin/ Ilmiah : Brachygobius xanthozonus
    • Nama Lain : Bumblebee Goby

    Ikan bumblebee goby ialah spesies ikan gobi air tawar dari Thailand serta Indonesia. Spesies yang menempati air payau ini bisa sampai panjang 3, 8 cm serta diketemukan dibagian bawah sungai, wilayah pesisir, rimba bakau serta wilayah yang bervegetasi tinggi.

    Carinotetraodon Irrubesco

    • Nama lain : Red-tailed Redeye Puffer

    Carinotetraodon irrubesco, ialah ikan buntal air tawar (buntal kerdil ekor merah) yang cuma diketemukan di Kabupaten Banyuasin di Propinsi Sumatra Selatan serta Sungai Sambas di Kalimantan Barat. Baca : Ikan Buntal Hias Air Tawar

    Sebenarnya ada banyak ikan hias air tawar yang memiliki ukuran semakin besar dari ikan-ikan yang ada pada daftar ini, seperti ikan Arwana dan sebagainya. Tapi semoga adanya daftar ini bisa sedikit menyembuhkan dahaga akan informasi tentang Ikan Hias Air Tawar anda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: sapar doang

    4 jam lalu

    Pilkada Era New Normal

    Dibaca : 12 kali

    Setelah beberapa kali melaksanakan pilkada lansung mulai tahun 2005 dan pilkada serentak dimulai 2015,2017, 2018 dan 2020 di tengah pandemi covid-19, tenyata kita belum cukup berhasil untuk membuktikan bahwa pilkada lansung adalah jalan demokrasi lokal terbaik untuk menghasilkan pemimpin daerah yang sepenuhnya kompeten dan beritegritas. Bahkan, pilkada lansung tidak jarang terjadi ironi karena hanya menghasilkan kepala daerah korupsi.tidak hanya itu, proses pilkada lansung sering juga kali menjadi ajang politik idententitas dan politik uang. pemerintah akhirnya memutuskan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah(Pilkada) serentak 2020 dimundurkan, akibat pandemi virus corona yang melanda indonesia, yang mulanya akan diselenggarakan pada 23 September 2020 menjadi 9 Desember 2020, lewat peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 2 tahun 2020 tentang perubahan ketiga atas undang-undang nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota menjadi undang-undang (Perpu Pilkada), pemerintah berasumsi tahapan penyelenggaran pilkada bisa dilaksanakan dengan berakhirnya pandemi virus corona pada juni 2020. Sebelum Perpu nomor 2 tahun 2020 terbit, terdapat beberapa opsi skenario tentang penundaan pilkada serentak 2020 akibat pandemi virus corona, Opsi A pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 9 Desember 2020, Opsi B. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 17 Maret 2021, Opsi C. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada Rabu 29 September 2021.dan opsi yang pertama yang dipilih oleh pemerintah dinilai sangat berisiko luas terhadap penyelenggaran pilkada secara luas, sebab kemunggkinan tahapan akan dimulai di awal Juni 2020 dan virus corona di indonesia masih menunjukkan angka meningkatan. Sebanyak 270 daerah akan meneruskan tahapan lanjutan pemilihan pada tanggal 15 juni 2020, dengan syarat seluruh tahapan pilkada harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Gugus tugas Covid-19 serta tetap berpedoman pada prinsip-prinsip demokrasi. Kebijakan itu akan membuat tahapan pilkada dimulai 15 juni. Nah, salah satu yang menjadi kekawatiran banyak pihak soal pilkada kali ini, karena kemungkinan berbarengan dengan masih banyak covid-19. Tentu bisa saja covid-19 tuntas sesegera mungkin. Sehingga, pada desember 2020 sudah tak ada lagi pandemi covid-19. Jika pandemi tuntas, pilkada tak akan memiliki masalah dengan faktor kesehatan masyarakat. Pemilu atau pemilihan era New normal menjadi keniscayaan seperti yang dilaksanakan disejumlah negara. Semua yang menyelenggarakan pemilu menerapkan protokol new normal untuk mencegah penyebaran virus corona, pen ggunaan masker, penyedian sanitasi untuk cuci tangan serta physical distancing sudah menjadi keharusan. Pemerintah tentu sudah mempertimbangkan potensi resiko dan mengusulkan langkah- langkah dalam melanjutkan tahapan pemilihan ditengah pandemi, sebagai contoh pemberlakuan protokol kesehatan yang diusulkan pemerintah dalam melanjutkan tahapan pilkada serentak 9 desember 2020. Kita bisa belajar dan mencontoh negara yang telah berhasil melaksanakan pemilu di masa pandemi covid-19. Melakukan tahapan pemilihan dengan memamfaatkan media teknologi imformasi untuk menghindari kerumunan. Bahkan demi menjamin keselamatan warganya. Ada negara yang menyediakan TPS khusus bagi pemilih 60 tahun keatas. Andai pilkada serentak tetap lanjut di 270 daerah atau hanya di sebagian wilayah, tetap saja pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu inovasi tambahan untuk menjaga kualitas pilkada. Karena cukup potensial terjadi hambatan, baik dari segi substansi maupun teknis. Dalam kondisi normal saja politik elektoral daerah kerap menyimpan sejuta catatan kritis. Apalagi pilkada di tengah pandemi, tentu bakal dihantui begitu banyak kesulitan yang mungkin bisa merusak kredibilitas demokrasi. Banyak hal perlu inovasi baru. Pertama, soal model kampanye. Setelah kampanye akbar dilarang, tentu harus ada medium lain yang disiapkan untuk menyampaikan gagasan kandidat. Penyelenggara maupun kontestan perlu berpikir keras memeras otak. Misalnya, metode kampanye melalui media sosial diutamakan meski tak semua daerah terpapar teknologi informasi. Atau metode door to door campaign dengan meminimalisasikan risiko penularan virus melalui alat pelindung diri. Jika tak ada kreativitas merekayasa model kampanye, bisa dipastikan kualitas demokrasi buruk karena visi-misi kandidat tak akan sampai kepada pemilih. Lalu apa yang akan menjadi preferensi pilihan politik jika pemilih tak kenal visi besar kandidat. Tentu semua pihak tak mau pilkada sebatas seremonial. Ritus tak bermakna. Kering substansi karena yang terjadi sebatas mobilisasi artifisial bukan partisipasi politik yang sehat. Kedua, memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) untuk mengurangi penumpukan massa. Jika selama ini ada opsi maksimal satu TPS berkapasitas 500 orang, di pilkada nanti setiap TPS maksimal 250 hingga 300 orang. Atau berupaya memperpanjang waktu pencoblosan mulai dari pagi hingga jelang petang menghindari kerumunan. Rekayasa semacam ini penting untuk mengamputasi sebaran korana yang kian agresif. Tak mudah memang, tapi inovasi baru perlu dilakukan jika pilkada tetap diselenggarakan di era new normal yang pandemi koronanya belum usai. Jangan pernah melakukan perjudian. Karena menyangkut nyawa dan keselamatan warga. Jangan cuma karena urusan politik elektoral. protokol kesehatan pemilih diabaikan. Apa pun harus dilakukan untuk memangkas sebaran korona. Masih banyak inovasi lain yang masih bisa dilakukan demi merawat kualitas pilkada serta menjaga kesehatan pemilih. Misalnya, masa kampanye diringkus menjadi 30 atau 40 hari saja, yang penting bisa menggairahkan pemilih. Di tengah kesulitan pasti terselip sebuah harapan. Menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi bukan perkara mudah. Butuh tekad, keseriusan, dan ‘manuver tak biasa’ untuk tetap menjaga keadaban berdemokrasi. Inilah ujian sesungguhnya bangsa saat ini. Segala daya upaya ditantang untuk bisa mewujudkan perhelatan pilkada berkualitas di masa wabah korona. Kekuatan intelektual serta kreativitas ilmu pengetahuan dipaksa melahirkan inovasi baru dalam merekayasa pilkada serentak kali ini. Semua pihak paham, memaksakan pilkada serentak di tengah pandemi korona bukan sebatas regenerasi kepemimpinan daerah, tapi melainkan juga sebagai upaya menstimulasi ekonomi yang luluh lantak akibat terpaan badai korona. Roda ekonomi dipastikan kembali berdenyut saat pilkada. Kandidat, tim sukses, serta partai politik tentu mengapitalisasi segala sumber daya ekonomi mereka untuk memenangkan pertarungan meski harus berjibaku dengan wabah. Pandemi membuka peluang bagi kita untuk berkreasi dan berinovasi dalam menjalankan demokrasi. Semoga ikhtiar mengelar pilkada di era new norman memberi kemaslahatan bagi bangsa dan negara. SAPARUDDIN adalah Penggiat Demokrasi Aktif di Pemantau Pemilu menjabat sebagai Sekretaris Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2013-2016 dan Sebagai Ketua Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2016 -2019.dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pileg dan Pilpres 2019 dan tulisan Artikel telah di muat di ( Klikpositif.com, Kompassiana.com dan Indonesiana.com)