Pidato Nadiem di UI Dibahas Majelis Senat 11 PTN, Inilah Tiga Poin yang Dahsyat - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan Menteri BUMN Erick Thohir saat menyaksikan drama berjudul #PrestasiTanpaKorupsi di SMKN 57 Jakarta, 9 Desember 2019. Drama Hari Anti Korupsi, menyajikan pesan tentang korupsi yang harus ditolak sejak dini.. Foto: Biro Setpres

Andi Pujipurnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Oktober 2019

Rabu, 11 Desember 2019 07:46 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pidato Nadiem di UI Dibahas Majelis Senat 11 PTN, Inilah Tiga Poin yang Dahsyat

    Kalangan tokoh perguruan tinggi rupanya menilai positif pidato tanpa teks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang disampaikan di Universitas Indonesia, 4 Desember 2019. Pidato itu dianggap dahsyat, kendati tidak viral seperti pidato Hari Guru.

    Dibaca : 7.965 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kalangan tokoh perguruan tinggi rupanya  menilai  positif pidato tanpa teks  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang disampaikan di Universitas Indonesia, 4 Desember 2019. Pidato itu dianggap dahsyat, kendati tidak viral seperti pidato Hari Guru.

    Isi pidato Nadiem di UI  bahkan akan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam sidang paripurna Majelis Senat Akademik 11 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) di Bandung, 9-10 Desember 2019.

    Apa sebenarnya inti dari pidato tersebut?  Ada tiga poin saja sebetulnya yang terpenting.  Poin pertama mengenai tantangan dunia pendidikan tinggi sekarang.  Adapun poin kedua dan tiga merupakan jawabannya.  Berikut  ini petikan penting dari pidato Nadiem saat itu:

    1.Mahasiswa lulus, bisa apa?
    “Lima tahun ke depan adalah prioritas nomor satu adalah ada satu mahasiswa yang keluar dia bisa apa…..Kita masuk di era di mana hal-hal yang sifatnya kemarin formal.. sekarang harus kita pertanyakan. Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya.

    Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu, kita masuk era di mana masuk kelas tidak menjamin belajar. Ini hal-hal yang harus segera disadari, harus segera akui….Kalau tidak bisa bicara terbuka mengenai isu-isu ini dan tidak bisa meningkatkan kualitas di dalam pembelajaran perguruan tinggi maupun di sekolah-sekolah, ini yang harus kita challenges…”

    Nadiem Anwar Makarim di UI

    2.Kemerdekaan belajar
    “Kemerdekaan belajar itu apa artinya?  Kemerdekaan belajar itu artinya kemerdekaan di setiap jenjang unit pendidikan. Kita memasuki paradigma baru di mana pemerintah akan memilih memberikan kepercayaan kepada institusi-institusi pendidikan,  memberi kebebasan, memberikan otonomi...

    Ekspetasi saya, lembaga perguruan tinggi merdeka dari berbagai macam regulasi dan birokratisasi dan birokrasi.  Para pendidik dan dosen juga dimerdekakan dari birokrasi. Dan yang terpenting mahasiswa diberikan kemerdekaan untuk belajar sesuai kemauannya sesuai kemampuannya, sesuai interest dia.

    Lima tahun ke depan nggak akan nyaman sama sekali untuk berbagai macam institusi pendidikan. Tapi kalau mau perguruan tinggi kita makin relevan kita harus lakukan perubahan ini…..

    Kalau Bapak-Ibu lalukan analisis prodi dan karier, mohon dikaji. Pasti kita semua tahu jawabannya, nggak jelas. Contoh saya ambil HI S1-nya, tapi saya ambil teknologi. Artinya, apa yang kita pelajari, apa pun yang kita lakukan, itu sering kali hanya starting point kita. Lalu kenapa kita tidak memberi kemerdekaan mahasiswa kita untuk melakukan berbagai macam hal di luar prodi, di luar kelas, di luar kampus. Inilah namanya kemerdekaan mahasiswa…..”

    3.Dosen penggerak
    “Kedua adalah mengubah paradigma. Dosen menggurui, dosen memberikan ceramah. Dosen memiliki informasi dan memberikannya kepada mahasiswa, menjadi dosen yang memfasilitasi pembelajarnya mahasiswa.

    Di pidato saya, saya mention guru penggerak. Intinya, dosen penggerak itu hampir sama kaya guru penggerak.  Dosen penggerak kalau melihat anaknya punya kapabilitas melampauinya dia merasa bangga, bukan terancam. Dosen penggerak akan lebih banyak belajar dan menanyakan pertanyaan dari mahasiswanya daripada dia memberikan ceramah mengenai ilmunya. Dosen penggerak akan mencari ilmu baru secara otomatis dan akan mencari orang-orang lain untuk meningkatkan pembelajarannya kelasnya. Dosen penggerak akan merekam ceramahnya sebelumnya, dia nggak akan buang-buang waktu di kelas, sehingga di kelas dia diskusi atau belajar kelompok.

    Dosen penggerak akan mengerjakan berbagai macam proyek di luar, tapi melibatkan mahasiswanya agar mereka mendapat pengalaman yang berbeda. Nggak semua setuju dengan ini tapi kalau kita menanyakan diri kita satu pertanyaan: apakah setiap jam mahasiswa di kampus UI relevan untuk masa depannya atau tidak?  Kalau kita tanyakan itu dalam semua jenis aktivitas kita, saya rasa kita tidak hanya akan jadi salah satu yang terbaik dia Asia Tenggara. Tapi UI bisa jadi unggul di panggung dunia…..”  ***

     

    Ikuti tulisan menarik Andi Pujipurnomo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.