Spirit Cinta Kasih Natal, Mengukuhkan Persahabatan Sejati - Analisis - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Selasa, 24 Desember 2019 20:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Spirit Cinta Kasih Natal, Mengukuhkan Persahabatan Sejati


    Dibaca : 4.998 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    *Putu Suasta, Alumnus Fisipol UGM dan Cornell University

     

    Menteri Agama RI, Fachrul Razi, baru saja mengeluarkan rilis pers berisi ucapan “Selamat Natal” kepada suadara-saudara Kristiani dengan menggaungkan pesan Natal 2019 yang telah dirumuskan KWI dan PGI: “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang”. Sebagaimana dilansir dalam berbagai media, Fachrul Razi mengakui ucapan “Selamat Natal” tersebut mewakili secara resmi pemerintah Indonesia dan juga atas nama pribadinya. Dengan demikian kita semakin optimis bahwa suka cita Natal dapat terwujud tidak hanya melalui pernak-pernik dan kemeriahan perayaan, tetapi juga dalam kekerabatan sosial antar sesama warga.

    Kita berharap, suka cita Natal dapat mengukuhkan persahabatan sejati di antara kita semua, sesama anak bangsa yang telah bertekad hidup dalam kesatuan di tengah kemajemukan (unity in diversity). Tekad itu telah dibangun sebagai berabad silam, kemudian dikukuhkan melalui berbagai gerakan-gerakan kebangsaan kebangsaan. Persatuan dalam keberagaman tersebut menjadi fondasi hidup kita hingga sekarang dan berbagai momentum suka cita seperti Natal niscaya dapat menghantar kita pada ikatan persahabatan sejati antar manusia, antar sesama warga dan berbagai bentuk relasi sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Spirit Natal dan Kehidupan Berbangsa 

    Persahabatan sejati tersebut sejalan dengan spirit Natal yang dimaknai saudara-saudara Kristiani sebagai momentum kelahiran Cinta Kasih yakni kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Bagi kalangan umat Kristen, Natal dipandang sebagai  suatu peristiwa agung dan kudus. Tak heran jika memasuki bulan Desember banyak negara-negara besar seperti Inggirs, Amerika, Australia, dan sejumlah negara lain telah mempersiapkan diri menyambut hari Natal 25 Desember 2019 ini jauh-jauh hari. 

    Di Indonesia, Natal juga dirayakan di sejumlah daerah di negeri ini seperti di Manado, Flores, Sumatra Utara dan kota-kota di Jawa. Bahkan, dilansir dari sebuah berita, ada 8 perayaan Natal  di Indonesia yang unik dan dan tidak bisa ditemukan di tempat lain. DI Bali, misalnya, Natal dirayakan dengan kebaktian dan juga meminjam tradisi Bali, yaitu melakukan persitwa ngejot. Ngejot adalah tradisi masyarakat Bali tentang berbagi makanan saat suatu perayaan dilangsungkan. 

    Di daerah-daerah lain di Indonesia, umat Kristen juga merayakan Natal dengan semangat keindonesiaan dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan yang telah mereka lakukan turun-temurun di negeri ini. Di Bali, sepanjang yang saya tahu, Natal dirayakan dengan khusuk dan khidmat di mana pun di daerah Bali. Di Denpasar sejumlah gereja bahkan telah mempersiapkan diri beberapa hari sebelumnya untuk menyambut kedatangan hari Natal. 

    Sebagai orang yang tak asing dengan berbagai peristiwa keagamaan, saya melihat dan merasakan bahwa setiap agama di negeri ini sungguh-sungguh telah sanggup membangun kehidupan bersama yang rukun dan damai. Saya juga meyakini, setiap umat beragama, apa pun agamanya, telah pernah dan hingga kini telah sanggup menjaga sikap-sikap yang tepa selira atau tenggang rasa, dan di berbagai daerah di negeri, telah pula memperlihatkan kehidupan yang rukun damai. 

    Kunci kehidupan rukun damai dan tenggang rasa di negeri inilah ialah toleransi, suatu sikap  kedewasaan cara beragama. Tanpa hal ini, dari dulu barangkali kita akan dipenuhi oleh konflik-konflik keyakinan. Tetap utuhnya NKRI juga disebabkan oleh yang saya sebutkan tadi, kedewasaan sikap dan cara kita meyakini agama masing dan pertalian yang baik dalam pergaulan lintas agama. Kita telah membuktikan hal ini sejak kita mendapatrkan kemerdekaan sebagai bangsa dan negara. 

    Dari pergaulan saya dengan sejumlah sahabat pemeluk Kristen, saya mendapat pengetahuan bahwa spirit Natal ialah kesukacitaan tentang lahirnya Sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Ada kekudusan, ada lumuran kasih yang ditebar sesama mereka, ada suka cita bersama yang dadasari oleh kemanusiaan. Pengetahun umum semacam ini yang saya dapatkan dari para sahabat Kristiani dan pengamatan langsung sesungguhnya bagi saya pribadi ialah spirit yang indah dalam semangat menumbuhkan perdamaian. 

    Selanjutnya: Memperkokoh Toleransi

    Ikuti tulisan menarik Putu Suasta lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.