5 Fakta Unik Budaya Pacuan Kuda di Nusa Tenggara Barat - Analisa - www.indonesiana.id
x

Candra Bi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Februari 2020

Selasa, 14 Januari 2020 15:26 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Unik Budaya Pacuan Kuda di Nusa Tenggara Barat

    Dibaca : 1.525 kali

    Jika Anda adalah penyuka olahraga, tentu tidak asing lagi dengan yang namanya pacuan kuda atau lomba balapan kuda. Salah satu cabang olah raga yang diperlombakan di PON (Pekan Olahraga Nasional) ini cukup populer di kalangan masyarakat. Kuda akan dilatih untuk berpacu hingga mencapai garis finish melawan peserta lainnya. Tentu seru sekali menonton kuda-kuda tersebut saling berkejaran satu sama lain supaya menjadi yang tercepat.

    Nah, selain memiliki tempat wisata terindah di Nusa Tenggara Barat, ternyata NTB ternyata olahraganya cukup popular. Tidak hanya diperlombakan di ajang olahraga resmi. Pacuan Kuda di sana justru menjadi budaya yang mengakar kuat di masyarakat. Uniknya, sang joki atau penunggang kuda bukanlah orang dewasa ataupun remaja seperti yang biasa kita lihat, melainkan anak-anak. Sekecil itu tapi sudah berani memacu kuda dengan cepat ya.

    Berikut 5 fakta menarik tentang budaya pacuan kuda yang ada di Nusa Tenggara Barat!

    1. Sudah Lama Dikenal

    Budaya pacuan kuda ternyata sudah mulai dikenal sejak abad 20. Awal sejarahnya bermula saat Komandan Kavaleri Kesultanan Bima yang memiliki gelar Bumi Jara Nggampo, sedang menyeleksi kuda yang akan digunakan sebagai kuda perang. Saat itu, kuda akan diadu kecepatannya di pinggir pantai.

    Nah, pacuan kuda sendiri mulai digelar pada era Pemerintah Hindia Belanda, tepatnya pada Bulan Agustus 1927. Kegiatan ini pada mulanya tidak dilakukan di tengah-tengah masyarakat, melainkan hanya kalangan bangsawan dan penduduk Eropa yang tinggal di Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Ratu Wilhemina. Sejak saat itu, budaya pacuan kuda mulai dikenal dan berkembang menjadi budaya baru masyarakat sebagai permainan tradisional yang digelar secara rutin setiap tahun.

    2. Jokinya anak-anak?

    Yap, betul sekali. Joki atau penunggang kuda dari buda pacuan kuda di Nusa Tenggara Barat adalah anak-anak. Anak-anak ini akan dididik sejak berumur 3 tahun dan akan menjadi joki di umur 6 hingga 7 tahun. Maksimal usia joki hanya sampai 10 tahun. Ketika sudah di atas 10 tahun, maka tidak boleh menjadi joki lagi.

    Penggunaan anak-anak sebagai joki bukan tanpa alasan. Kuda yang digunakan dalam budaya pacuan kuda di Nusa Tenggara Barat berjenis sandalwood pony atau yang biasa disebut dengan kuda poni. Berbeda dengan kuda jenis Amerika ataupun Eropa, kuda jenis ini memiliki ciri fisik yang lebih pendek, yaitu sekitar 130-245 cm. Walaupun pendek, kuda poni ini dapat berlari kencang, mempunyai leher besar, dan memiliki kekuatan yang sesuai sehingga bisa dijadikan sebagai kuda pacuan.

    Tidak mudah untuk menjadi joki dengan tubuh yang kecil. Apalagi ketika berpacu kuda mereka tidak menggunakan pelana, sehingga menjadi susah untuk duduk di atas punggung kuda. Kekuatan otot paha dan kaki joki sangat diandalkan untuk mencengkram tubuh kuda. Jika tidak terlatih tentu mereka akan dengan mudah terlempar dari kuda yang melaju kencang.

    Namun, anak-anak di sana mampu melakukannya dengan baik. Caranya, dengan satu tangan kecil joki cilik memeluk leher kuda serta kendali, sedangkan tangan lainnya memegang pecut untuk mengendalikan kuda.

    Meski sudah berlatih, tak jarang joki mengalami insiden atau kecelakaan, seperti jatuh dari kuda, atau terinjak kuda yang sedang melintas, dan pengalaman-pengalaman pahit lainnya. Untuk itu panitia pelaksana biasanya selalu menyiapkan mobil ambulans di pinggir arena sebagai antisipasi jika ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi.

    3. Alat yang Sederhana

    Tak seperti olahraga pacuan kuda pada umumnya yang menggunakan peralatan lengkap guna keselamatan , budaya pacuan kuda di Nusa Tenggara Barat masih menggunakan alat-alat yang sederhana. Seperti helm, baju kaos berlengan panjang, ketopong atau sarung kepala, cambuk yang terbuat dari rotan, dan baju ban (baju rompi) bernomor sebagai nomor urut kuda.

    Selain peralatan keamanan seadanya untuk joki, pun begitu halnya untuk kuda. Anda tidak akan menemukan pelana di atas kuda karena memang sengaja tidak dipasang. Digantikan dengan lapek atau alas yang terbuat dari alang-alang (daun pisang kering) yang diletakkan pada punggung kuda.

    4. Hadiah yang Besar

    Budaya pacuan kuda di Nusa Tenggara Barat digelar setiap tahun. Budaya yang disebut juga dengan main jaran (di Kabupaten Sumbawa) atau pacoa jara (di Kabupaten Bima) ini digelar setiap tahun dan berlangsung selama 2 hingga 4 minggu. Pemerintah masing-masing daerah sudah memiliki kalender rutin tersendiri untuk melaksanakannya. Jadi Anda jangan khawatir jika tidak sempat menyaksikan karena setiap tahun budaya ini selalu rutin digelar.

    Selain menjadi budaya yang mengakar di kalangan masyarakat, pacuan kuda juga memberikan hadiah yang besar bagi para pemenangnya. Tidak tanggung-tanggung, hadiah yang diperebutkan dapat mencapai total ratusan juta rupiah. Terdapat pula hadiah-hadiah lain berupa barang seperti televisi, motor, kulkas, kipas angin, dan lain sebagainya. Selain itu, kuda yang memenangkan kejuaraan biasanya akan memiliki harga jual yang meningkat. Hal ini membuat masyarakat begitu antusias dalam setiap pelaksanaannya.

    Tidak hanya menguntungkan pemilik kuda, joki cilik yang menjadi penunggang pun mendapatkan bayaran setiap kali mereka tampil. Mereka dibayar berkisar antara Rp50.000 hingga Rp200.000 tergantung urutan mereka di garis finish. Tak jarang joki-joki ini menjadi sumber pemasukan bagi keluarganya. Bahkan, berkat mengikuti pacuan kuda, joki-joki ini dapat membangun rumah dan membiayai kuliah kakak-kakaknya. Luar biasa sekali bukan, Anda?

    5. Dipenuhi Hal-Hal Mistis

    Untuk mendapatkan hasil terbaik, perawatan kuda pacuan pun tidak dilakukan sembarangan. Kuda dimandikan dengan air panas yang dicampur dengan rempah-rempah serta selalu diberi makan yang cukup supaya nantinya kuda dapat berlari kencang di lapangan. Selain itu, para joki cilik juga seringkali melakukan latihan di akhir pekan setiap sebelum pertandingan untuk mempersiapkan dirinya serta kudanya mengikuti pacuan kuda.

    Pacuan kuda juga dipenuhi dengan hal-hal mistis hasil kepercayaan masyarakat. Seperti sebelum dimulai, masyarakat akan berbondong-bondong menggiring kuda menuju tempat pacuan dengan menggunakan mobil pick up serta dikawal oleh banyak pawang. Selain itu, sesaat sebelum masuk ke gelanggang pacuan, para joki cilik akan melakukan ritual khusus, yaitu dimandikan dengan berbagai macam ramuan yang berfungsi untuk menghilangkan rasa takutnya. Mereka juga akan didoakan secara khusus agar terhindar dari bahaya selama pacuan kuda berlangsung.

    Tidak hanya kuda dan joki, tempat pacuan pun tak luput dari hal-hal mistis. Beberapa jam sebelum pacuan berlangsung dan penonton belum memenuhi tempat duduk, para dukun atau biasa disebut dengan sandro akan melakukan ritual guna ‘mengamankan’ lokasi. Ritual yang dilakukan pun bermacam-macam, mulai dari berkomat-kamit membaca doa hingga (maaf) mengencingi tempat pacuan. Semua hal itu dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan kemenangan bagi joki dan kuda yang berpacu.

    Bagaimana? Menarik sekali bukan salah satu budaya di Nusa Tenggara Barat ini? Anda tidak perlu merogoh saku dalam-dalam apabila ingin menyaksikannya. Cukup dengan membayar tiket yang berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000, Anda sudah bisa menonton budaya main jaran atau pacoa jara ini. Adapun waktunya berkisar antara bulan November hingga Desember atau perayaan hari khusus seperti Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 17 Agustus.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.