Anda Lebih Ingin Hidup Senang atau Bahagia?

Minggu, 19 Januari 2020 10:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Anda ingin hidup senang atau bahagia? Apa bedanya?

Bila ditanya, Anda ingin hidup senang atau bahagia?

Pasti jawabannya, ingin senang dan bahagai. Tapi bila ditanya kembali, apakah Anda ingin hidup menderita atau sengsara? Pati pula jawabnya, tidak ingin keduanya. Berarti jelas, hidup senang dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Bahkan anak TK pun mau hidup senang dan bahagia.

 

Senang dan bahagia, sering dianggap banyak orang sama. Senang ya bahagia. Bahagia ya senang. Boleh-boleh saja. Tapi sesungguhnya, senang dan bahagia berbeda. Tidak sama antara senang dan bahagia. Karena senang bisa dirasakan oleh binatang maupun manusia. Tapi bahagia hanya dirasakan oleh manusia. Maka kesenangan tidak butuh akal. Tapi kebahagiaan sangat butuh akal sehat. Cukup jelas ya.

 

Nah biar lebih jelas. Kesenangan itu lebih bersifat fisikal alias material. Sedangkan kebahagiaan bersifat intelektual dan spiritual walau melibatkan fisikal. Kesenangan bersifat sesaat, sedangkan kebahagaian biasanya bertahan lama. Saat Anda melihat pemandangan indah, menikmati lezatnya makanan, hingga gemar mencium bau wewangian itulah kesenangan. Karena perasaan senang datang dari faktor eksternal. Sedangkan bahagia lahir dari dalam diri Anda sendiri. Karena melibatkan intelektual dan spiritual. Seperti berbagi kepada anak-anak yati, mengajak anak-anak membaca, hingga mengajar kaum buta huruf itulah kebahagiaan. Jadi jelas beda, antara kesenangan dan kebahagiaan. Dan Anda berhak memilihnya, bahkan meraih keduanya bila mampu.

 

Bila Anda mampu mengaktualisasikan intelektual dan spiritual, itulah kebahagiaan. Sementara bila Anda mampu melampiaskan yang berbau fisikal atau material, itulah kesenangan.

 

Sebagai contoh. Saya sebagai pegiat literasi secara rutin setiap hari Minggu berada di kaki Gunung Salak Bogor.  Untuk mengajar 60-an anak usia sekolah yang terancam putus sekolah untuk membaca di Taman Bacaan Lentera Pustaka dan mengajar 10 ibu-ibu buta aksara sama sekali bukan kesenangan. Sekalipun jauh lokasinya, aktivitas mengajar anak-anak di taman bacaan dan ibu-ibu buta aksara karena saya bahagia mengerjakannya. Di situ ada aspek intelektual dan spiritual, bukan hanya soal fisik material.

 

Banyak orang yang “senang” membicarakan orang lain sambil merendahkannya. Tapi sedikit orang yang “bahagia” untuk meninggikan orang lain yang memang punya kelemahan. Maka terkadang, tipis perbedaaan senang dan bahagia.

 

Di zaman now, banyak orang gampang mengumbar “kesenangan sesaat” atau instant gratification. Karena gagal menunda kesenangan hari ini atau delaying gratification untuk masa depan yang bahagia.

 

Urusan politik, kekuasaan dan segalanya yang bersifat duniawi itu hanya “kesenangan sesaat”. Lalu mengapa harus membenci, menghujat atau memusuhi orang yang tidak disukai padahal tidak pernah memberi makan? Maka rusaklah “kebahagiaan hakiki” yang harusnya dimiliki seseorang. Manusia itu pasti “bangkrut” bila memaksakan kesenangan sesaat. Manusia itu “gagal” bila menghindari kebahagiaan yang hakiki.

 

Banyak orang lupa, hidup di dunia itu hanya sesaat. Maka amat disayangkan. Bila dunia menjadi sebab lupa, lalai, dan terlena. Hanya sibuk dengan dunia, lalu lupa pada akhirat. Bukankah dunia hanya sarana  untuk mengenal dan mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT. Agar bahagia, bukan hanya senang.

 

Apapun kesenangan yang dimiliki manusia, sebesar apapun kesenangan terlalu mudah dipisahkan dengan kematian. Maka tiada guna kesenangan berupa harta yang banyak, anak-anak yang menawan, istri yang cantik, jabatan yang tinggi, dan popularitas yang hebat sekalipun. Bila tanpa dibahagiakan dengan ilmu yang manfaat, amal yang melimpah, dan iman yang istiqomah.

 

Maka raihlah kesenangan sejenak saja, Tapi renggutlah kebahagiaan untuk bekal nanti. Dan jangan pernah bertekad untuk mengubah "surga" jadi "neraka" karena kepentingan sesaat. Untuk apa merusak kebaikan yang susah payah dibangun. Akibat ketidak-sukaan pribadi lalu  mengumbar kejelekan yang tidak perlu.

 

Ketahuilah, sama sekali tidak perlu manusia untuk menghancurkan gunung. Karena gunung sangat mampu menghancurkan dirinya sendiri. Begitupun kebencian dan kemarahan; sungguh hanya akan menghancurkan pemiliknya sendiri. Gunung itu memilih diam; bukan karena tidak punya pilihan. Tapi karena ia tidak mau merusak apa-apa yang sudah baik ... #FilosofiGunung #BudayaLiterasi

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua