Kiprah Pengabdian Sosial BEM Faperta IPB di Taman Bacaan Lentera Pustaka - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Minggu, 2 Februari 2020 19:41 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Kiprah Pengabdian Sosial BEM Faperta IPB di Taman Bacaan Lentera Pustaka

    Dibaca : 567 kali

    Pernahkah ada orang yang menanyaimu tentang pengabdian sosial yang dilakukan?

    Tentu jarang sekali jawabnya. Karena bagi sebagian orang, aktivitas mengabdi secara sosial dianggap kegiatan yang tidak berguna. Bahkan tidak menarik karena tidak mendapat perhatian dari banyak orang. Apalagi mengabdi sosial dengan terjun langsung ke masyarakat. Seringkali orang merasa rugi. Karena harus berkorban begitu banyak hal, mulai dari uang, tenaga, pikiran, hingga waktu yang banyak tersita. Maka wajar, orang-orang yang mau mengabdi secara sosial tidak banyak.

     

    Tapi di tengah gempuran era digital dan gaya hidup modern, masiah saja ada orang-orang yang mau mengabdi secara sosial. Termasuk para mahasiswa dan generasi muda yang peduli sosial. Sebut saja diantaranya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Faperta IPB yang hari ini berkekuatan 24 mahasiswa menyambangi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Bogor, di Kaki Gunung Salak Bogor.

     

    BEM Faperta IPB yang dipimpin Tanu merealisasikan program pengabdian masyarakat dengan fasilitasi dari Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka hari ini. Para mahasiswa yang mulai aktif membimbing aktivitas membaca 40 anak-anak Taman Bacaan Lentera Pustaka yang hadir di pagi hari, di samping membimbing 10 ibu-ibu warga belajar dalam GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) pada siang hari.

     

    Ke depan, mahasiswa BEM Faperta IPB akan bekerjasama menjadi relawan TBM Lentera Pustaka untuk mengajar membaca anak-anak TBM Lentera Pustaka dan ibu-ibu buta aksara tiap 2 minggu sekali. Bergantian dengan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang pada tahun 2020 ini akan fokus menuntaskan disertasi dalam menyelesaikan Program Doktor – S3 Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor.

     

    Sebagai wujud realisasi program pengabdian sosial dan pemberdayaan masyarakat, mahasiswa BEM Faperta IPB akan melakukan beberapa program kerja sebagai berikut:

    1. Mahasiswa Lansekap akan melakukan penataan lansekap kebun baca Lentera Pustaka dan kawasan Sungai Ciherang sebagai tempat yang nyaman untuk membaca. Termasuk kegiatan mural tembok di sepanjang jalan ke taman bacaan.
    2. Mahasiswa Agronomi akan membuat laboratoriun budi daya tanaman produktif di lahan-lahan dalam kelolaan TBM Lentera Pustaka untuk menanamkan rasa cinta lingkungan dana lam kepada anak-anak dan masyarakat.
    3. Mahasiswa Proteksi Tanaman akan mulai praktik cara bercocok tanam yang terhindar dari hama dan serangan penyakit tumbuhan bersama anak-anak dan ibu-ibu kampung.

     

    Melalui kiprah mahasiswa BEM Faperta IPB diharapkan percepatan program pemberdayaan masyarakat prasejahtera ini bisa lebih cepat terwujudu. Inilah kolaborasi yang diperlukan dalam mengabdi pada masyarakat, seperti BEM Faperta IPB dan TBM Lentera Pustaka.

     

    “Kolaborasi untuk mengabdi secara sosial inilah yang diperlukan. Agar budaya literasi anak-anak kampung yang terancam putus sekolah bisa ditasai dan gerakan pemberantasa buta aksara bisa tuntas. Saya salut dan bangga terhadap mahasiswa BEM Faperta IPB yang bersedia menjadi relawan di TBM Lentera Pustaka” ujar Syarifuidn Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka siang ini.

     

    Sungguh, pengabdian sosial adalah sebuah sikap. Karena intinya, tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan… #TBMLenteraPustaka #BEMFapertaIPB #BudayaLiterasi

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 450 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin