Islam dan Literasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

gambar dari buku

Siti Rohmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Februari 2020

Sabtu, 15 Februari 2020 17:43 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Islam dan Literasi

    Dibaca : 309 kali

    Sejak dua bulan yang lalu, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Peradaban Islam STIBA Ar-Raayah Sukabumi mulai belajar menulis di “Kelas Literasi”. Jurusan baru yang memulai pembelajarannya secara aktif pada akhir Desember tahun lalu ini menghadirkan seorang dosen baru yang memiliki kemampuan mumpuni di bidang kepenulisan. Kami para mahasiswa pun menjadi sangat bersemangat untuk bisa “menulis” seperti sang dosen.

    Kelas literasi, seperti yang diistilahkan oleh salah seorang mahasiswa jurusan KPI STIBA Ar-Raayah dalam tulisannya yang dimuat di laman indonesiana.id, merupakan ajang yang atraktif untuk pengembangan bakat mahasiswa dalam bidang menulis. Kami mendapat banyak pengetahuan berkaitan dunia tulis menulis serta kaidah-kaidah dalam menulis. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melatih mengeksplorasi ide-idenya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.

    Mengamati teman-teman sesama mahasiswa yang berlomba-lomba mencari ide untuk dituangkan dalam tulisan, membuat saya teringat pada sebuah masa yang telah lalu. Masa yang penuh dengan kecemerlangan ide dan pemikiran, yang mampu menggerakkan roda kekuasaan Islam menjadi salah satu peradaban yang pernah mewarnai konstelasi sejarah dunia. Saya berusaha menghadirkan dalam benak saya bagaimana para ulama dengan sangat hati-hati menorehkan tinta di atas lembaran-lembaran kertas kuning kecokelatan untuk menuliskan berbagai ilmu pengetahuan yang dapat diwariskan pada anak dan cucu mereka sampai zaman sekarang.

    Puluhan bahkan ratusan nama ulama kaum muslimin telah tertulis dalam catatan sejarah. Mereka telah berkontribusi secara aktif dalam menjalankan budaya literasi sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam yang diturunkan sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman:

    اقرأ باسم ربك الذي خلق(١)  خلق الإنسان من علق(٢)  اقرأ و ربك الأكرم(٣)  الذي علم بالقلم(٤)  علم الإنسان ما لم يعلم(٥

    Artinya : “Bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al-‘Alaq ayat 1-5)

    ن(١) والقلم وما يسطرون(٢

    Artinya : ”Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis”. (Q.S. Al-Qalam ayat 1-2)

    Jika kita membaca buku-buku sejarah, kita akan mendapatkan fakta bahwa banyak dari ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat ini, umumnya bersumber dari tulisan tangan kaum muslimin. Kitab-kitab karya para ulama dari berbagai bidang yang tersimpan di baitul hikmah dan jumlahnya mencapai satu juta eksemplar pada tahu 815 M, telah diditerjemahkan secara besar-besaran pada masa ressainance barat pasca keruntuhan daulah Abbasiyah.   Canon of Medicine  misalnya,  buku yang berjudul asli Al-Qanun fi At-Thibb merupakan buku karya Ibnu Sina yang telah digunakan dan dijadikan modul standar dalam pendidikan kedokteran di universitas-universitas dunia sejak berabad-abad lamanya. Di bidang geografi, Ibnu Khaldun telah menyumbangkan ilmu hasil penjelajahannya ke berbagai negara dalam bukunya Kitab Al-‘Ibar Wa Diwan Al-Mubtada Wa Al-Khabar yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dunia. Demikian pula dengan ilmu matematika, Al-Khawarizmi telah membantu ilmuwan dunia dengan penemuan-penemuan yang tertulis dalam karyanya Al-Jabar,  serta masih banyak karya ulama muslimin yang karya mereka telah menambah khazanah ilmu dan menjadi salah satu sebab kemajuan dalam peradaban hidup manusia.

    Kekayaan intelektual yang dimiliki kaum muslimin tercermin dari banyaknya kitab yang dihasilkan. Tercatat sebanyak satu juta buku berhasil ditulis dan dikumpulkan di baitul hikmah pada tahun 815 H. Bahkan, jumlah perpustakaan umum yang dimiliki kota Baghdad pada tahun 891 H mencapai seratus perpustakaan. Produktivitas para ulama dalam menulis didasari pada kecintaan mereka terhadap agama Islam. Cita-cita untuk menyebarkan Islam melalui literasi terus mendorong mereka giat menulis. Pun halnya dengan pemerintah, mereka sangat menaruh perhatian yang besar pada ulama dan karya-karya mereka. Pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid, khalifah menyemangati para ulama dalam menulis dengan memberikan hadiah berupa emas seberat buku yang dihasilkan.  Tak heran, mengapa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa itu.

    Meskipun demikian, hasil karya ulama muslimin banyak yang tidak dapat kita saksikan keberadaannya sekarang. Buku-buku yang tersimpan di baitul hikmah telah dimusnahkan oleh bangsa Mongol yang berhasil menghancurkan Baghdad pada tahun  1258 M. Walaupun ada beberapa buku yang terselamatkan, jumlahnya sangatlah sedikit.

    Namun, setelah runtuhnya masa kekhilafahan yang merupakan tombak integritas kaum muslimin, budaya tulis menulis masih tetap ada meski produktivitasnya tidak menyamai produktivitas ulama pada abad pertengahan. Paling tidak, para ulama kaum muslimin masih memiliki ruh literasi dalam gerakan dakwah mereka. Seperti yang dilakukan oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah yang tak pernah membiarkan hari-harinya berlalu tanpa menghasilkan sebuah tulisan. Bahkan ketika beliau dipenjara sekalipun, kertas dan pena merupakan teman sehari-hari yang selalu menemani beliau hingga wafat. Sehingga ilmu yang beliau wariskan masih dapat kita pelajari melalui tulisan beliau dalam berbagai bidang ilmu agama.

    Akhirnya, setelah mengetahui bagaimana literatur-literatur Islam pernah memberi kekayaan khazanah ilmu pengetahuan dan dakwah, kita berharap besar akan terlahir generasi baru yang mencintai budaya literasi demi kepentingan dakwah dan khidmah li diinil Islam. semoga akan terlahir dari kita generasi rabbani yang mampu mengembalikan kejayaan Islam melalui karya-karya terbaik mereka.

    Salam literasi…

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.