Miskin Hati-Empati-Simpati - Analisa - www.indonesiana.id
x

militansi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 Maret 2020 06:03 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Miskin Hati-Empati-Simpati

    Dibaca : 507 kali

    Hati-hati, miskin hati-sirmpati-empati, di bawa sampai mati. (Supartono JW.08032020)

    Saat kita sudah menyatakan bergabung dalam sebuah grup/ perkumpulan/ perhimpunan/ kekeluargaan/atau sejenisnya, tanpa disadari kita ternyata sering membuat kecewa sang koordinator/ ketua/ pemimpin, pun juga anggota yang lain. Pasalnya, semua itu bukanlah lembaga atau institusi seperti kantor dan sekolahan yang memiliki ikatan dan peraturan ketat. 

    Sehingga waktu yang terbatas, menjadi sangat mahal bila kita dapat hadir di setiap grup yang kita ikuti sesuai program yang digariskan. Tidak seperti di lembaga/instansi formal, yang bila anggotanya izin atau tanpa izin dalam kegiatan, tentu akan ada sanksi.

    Berbeda dalam grup-grup kekeluargaan baik dalam bidang seni, olah raga, kepemudaan, kemasyarakatan, sosial, budaya dan lain sebagainya, bila dalam kegiatan/acara ada yang tidak hadir, semisal izin, atau bahkan tak hadir tanpa ada komunikasi apa pun, maka anggota grup yang lain mau bilang apa? 

    Sebagai contoh, pada hari Minggu, 8 Maret 2020, ada kisah menarik yang dapat dijadikan pintu untuk kita semua masyarakat Indonesia, dapat membuka mata dan hati selebar-lebarnya, bahwa kehadiran kita dalam sebuah grup itu dapat dibaca oleh anggota grup yang lain semakin menunjukkan diri kita siapa. 

    Kisahnya sebuah perkumpulan grup olah raga, mengundang anggota grup yang jumlahnya tidak kurang dari 150. Bila dihitung lengkap Bapak dan Ibu, maka jumlahnya menjadi 300 an orang. 

    Perkumpulan yang lahir sejak 22 tahun yang lalu ini, bermaksud diskusi dengan semua anggota grup untuk berbagi dan mencari solusi, mengapa grup dapat bertahan selama 22 tahun dan bagaimana roda kegiatan grup ini ke depan, karena dalam setiap pertemuan diskusi anggota yang hadir selalu tidak sesuai harapan. 

    Kontradiksi dengan bila grup ada event pertandingan olah raga, maka anggota grup akan lengkap dan hadir. Padahal, untuk menuju pertandingan olah raga, mustahil grup akan dapat memenuhi segala kebutuhan pertandingan tanpa terlebih dahulu ada diskusi dengan anggota grup. 

    Masih bersyukur atas komunikasi beberapa anggota grup yang menyampaikan izin tidak hadir karena ada kegiatan yang berbarengan, pun menyampaikan pesan mendukung apapun keputusan hasil diskusi. 

    Mirisnya, sebagian anggota grup tetap ada yang cuek-bebek, tanpa ada izin atau tanpa ada komunikasi, pun tidak hadir. Jadi, grup perkumpulan olah raga ini, dalam diskusi pagi itu, hanya dihadiri oleh 2 atau 3 prosen jumlah anggota yang ada. 

    Namun, atas kebesaran hati koordinator kegiatan dan anggota yang komit, ada rasa memiliki, ada militansi, maka hasil diskusi yang hanya sekadar laporan kegiatan grup dan sharing, pun tetap berjalan sesuai waktu dan acara yang telah ditentukan. 

    Hasilnya, anggota grup yang hadir memahami mengapa grup dapat bertahan hingga 22 tahun, dan berkomitmen semoga grup akan terus bertahan dan hidup. 

    Kembali menyoal sikap anggota grup yang tidak memiliki rasa memiliki, rasa tanggungjawab, rasa empati, dan simpati, anggota grup yang hadir, tak mempersoalkan. 

    Atas kisah ini, dapat memberikan petunjuk bahwa dalam grup yang ada dan sudah cukup kuat ini, ternyata tetap ada anggota yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada rasa tidak enak, tidak ada rasa bersalah dll. 

    Sebuah grup sosial, ujung harapan tertingginya adalah ada pada kerendahan hati. Hadir secara fisik saat grup membutuhkan, ibaratnya tidak dapat digantikan oleh berapa pun rupiah yang akan disumbangkan, namun keberadaan kita, itulah harga kita dihadapan anggota grup lain. Lebih luasnya di hadapan masyarakat umum.

    Kisah yang terjadi dalam pertemuan grup olah raga pagi itu, tentu juga sangat lekat terjadi pada semua grup/perkumpulan lain, bahkan bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi juga pada setiap grup/perkumpulan  negara lain di dunia ini. 

    Yang pasti, manusia sebagai makhluk sosial, akan sangat terlihat wujud kesosialan kita, jati diri kita, empati dan simpati kita, tanggungjawab kita, justru pada saat kita bergabung dengan grup-grup/perkumpulan umum, bukan pada grup instansi atau lembaga formal. 

    Bila di instansi/lembaga formal, keanggotaan kita di dalamnya harus "terpaksa nurut", karena terikat secara pekerjaan/kontrak/lainnya, maka kehadiran dalam setiap kegiatan adalah wajib, sebab ada ikatan dan aturan. 

    Dari peristiwa ini, mari, sadarkan diri kita, bahwa di luar kegiatan/pekerjaan formal kita, lingkungan sosial yang lebih banyak mengayomi kita, adalah tolok ukur seberapa tinggi hakikat kita sebagai makhluk sosial saat kita dapat menjadi bagian lingkungan sosial yang dapat saling memberikan rasa nyaman, rasa aman, saling mendukung, dan saling menjunjung, terlebih menomorsatukan rasa kekeluargaan.

    Inilah fenomena masyarakat kita, bila tak begitu menguntungkan bagi diri sendiri/keluarga/kolega/, maka untuk kepentingan orang lain, nanti dulu/tidak perlu. 

    Prek omongan orang, diri kita adalah kita, diri kamu adalah kamu. Tak ubahnya seperti sikap para cukong yang membiayai partai politik di negeri ini, dan otomatis menghidupi dan memberi kursi para elite partai di parlemen dan pemerinthan, namun untik kepentingan dan keuntingan siapa? Untuk mereka sendiri, bukan untuk rakyat!

    Karenanya, militansi anggota dalam grup sosial, adalah cermin masyarakat Indonesia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.