Nyepi, Ajakan Mawas Diri - Analisa - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Senin, 23 Maret 2020 09:18 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Nyepi, Ajakan Mawas Diri

    Dibaca : 935 kali

    *Putu Suasta, Pegiat Spiritual, Alumnus UGM dan Cornell University

     

    Dalam bahasa umum hari suci umat Hindu, Nyepi, dapat diartikan sebagai momentum bagi manusia untuk berpaling sejenak dari kesibukan dunia dan berintropeksi diri, mengevaluasi kembali relasinya dengan alam serta dengan sesamanya manusia. Dengan demikian Nyepi juga dapat dimaknai sebagai momentum untuk memulihkan kembali relasi manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya. Dalam kosmologi Hindu, manusia diposisikan sebagai mikrokosmos. Namun dalam praktek kehidupan sehari-hari manusia sering kali memandang dirinya sebagai pusat orientasi alam semesta (makrokosmos), sehingga merasa berhak mengeksploitasi semua isi alam semesta hingga melebihi kebutuhannya.

    Manusia adalah mahluk yang egosentris. Manusia kerap memposisikan alam semesta sebagai sumber pemuas egosentrismenya sehingga tidak segan mengeksploitasi tanpa batas isi alam semesta, termasuk mengekspolitasi sesamanya. Dalam kaitan inilah Nyepi dapat dipahami sebagai momentum untuk mawas diri; menyadari kembali hakikatnya sebagai mikrokosmos; Keberlangsungan eksistensi mikrokosmos itu sangat tergantung pada hubungan harmonis dengan makrokosmos dan dengan mikrosmos yang lain (sesama). Ajakan untuk mawas diri ini bergema lebih kuat dalam keheningan Nyepi, di tengah situasi mencekam akibat penyebaran wabah Covid-19 yang dalam beberapa segi dapat dilihat sebagai dampak dari aktivitas manusia dalam mengekspoitasi alam.

    Sekarang umat Hindu bersiap menyambut Tahun Baru Saka 1942. Dalam Teologi Hindu, siklus hidup manusia dimaknai sebagai sebuah rangkai yang berulang. Karena itu setiap penyambutan tahun baru mesti disertai dengan usaha penyucian diri, melalui rangkaian upacara suci. Dimulai dari melasti sebagai pengingatan diri akan kesucian Para Dewa dengan membersihkan peralatan persembahyangan di laut; pangerupukan sebagai upaya tak terganggunya umat dengan segala bentuk bhuta; Nyepi sebagai puncak maha hening; ngembak geni sebagai suka cita dalam tali erat persaudaraan antar umat. 

    Pengetahuan Manusia Terbatas

    Rangkai upacara suci tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya. Dalam ajaran Hindu, fitrah manusia adalah mahluk yang mengabdi kepada Para Dewa, alam dan sesamanya. Fitrah ini seringkali dilupakan karena egosentrisme manusia sebagai mahluk berakal budi. Manusia mengisi akal budinya dengan pengetahuan dan seringkali pengetahuan itu dimaksudkan untuk menaklukan alam dan sesamanya.

    Keheningan Nyepi dapat membantu manusia untuk menyadari bahwa pengetahuannya terbatas. Meminjam kalimat Rudolf Steiner, filsuf Australia yang mendalami hinduisme, pengetahuan manusia hanya tetesan kecil dari air yang ditimba seseorang dari danau untuk dimasukkan ke botol air.

    Dunia sekarang kalang kabut karena serangan virus baru. Sekalipun di dunia ini tak terhitung jumlah ilmuwan yang telah mempelajari virus selama puluhan tahun, tak seorangpun dapat menguraikan pengetahuan meyakinkan tentang virus baru yang kini dikenal sebagi Covid-19 tersebut. Betapa terbatasnya pengetahuan manusia.

    Sebelum Covid-19, dunia juga dikejutkan oleh kemunculan Mers, Sars, Ebola dan wabah lain. Semua wabah tersebut menyerang saat manusia belum memiliki pengetahuan memadai untuk menghadapinya, sekalipun para ilmuwan di seluruh dunia tidak pernah berhenti menimba pengetahuan baru. Para ilmuwan yang menggunakan pengetahuannya untuk mendorong kelestarian alam, mengingatkan bahwa Covid-19 bukan kejutan terakhir jika manusia terus menerus merusak alam sehingga berbagai binatang kehilangan habitat aslinya dan akhirnya hidup berdekatan dengan manusia.

    Para ilmuwan meyakini ada banyak virus atau bakteri dan sumber-sumber penyakit yang belum dikenali, berdiam dalam tubuh binatang liar atau di sudut-sudut alam yang belum tersentuh manusia. Karena itu jika manusia terus menerus menggunakan pengetahuannya yang terbatas itu untuk mengekspoitasi alam secara masif, maka yang dipertaruhkan adalah eksistensi manusia itu sendiri.

     

    Menundukkan Egosentrisme

    Mawas diri dengan menyadari keterbatasan pengetahuan manusia, menemukan relevansinya dalam upaya menundukkan egosentrisme. Beribu tahun spesies homo sapiens (manusia berakal) menggunakan pengetahuannya untuk memuaskan nafsu yang lahir dari dorongan egosentrisme. Bahkan dalam situasi mencekam sekarang inipun, pertarungan egosentrisme itu terus berlangsung.

    Lihatlah lalu lintas kabar bohong (hoaks) yang memenuhi trafik lini masa kita, menambah ketakutan dan ketegangan dalam situasi penuh kecemasan ini. Hoaks diproduksi untuk memenuhi agenda-agenda egosentrisme manusia. Produsen, penyebar dan korban dari hoaks adalah manusia-manusia dengan pengetahuan terbatas.

    Sebelum Covid-19 kita juga berkali-kali dikejutkan oleh bencana-bencana akibat kerusakan alam dan hoaks terus menerus diproduksi untuk memperkeruh situasi. Pemanasan bumi, siklus cuaca dan iklim yang semakin tak menentu karena kerusakan alam,  juga tak kalah mengkahwatirkan. Semakin banyak ancaman bagi eksistensi manusia dari hari ke hari. Karena itu manusia mesti mawas diri, dan memperbaiki relasi dengan alam serta relasi antar manusia itu sendiri. Untuk itulah manusia penting menundukkan egosentrismenya.

    Kembali ke pandangan Rudolf Steiner, alam adalah pengetahuan dan kebijaksanaan. Setiap waktu, setiap jengkal dari alam semesta adalah sumber pengetahuan dan kebijaksanaan menurut Steiner.

     

    Penyadaran Melalui Hening

    Pandangan Rudolf Steiner dapat membantu kita memahami dalam bahasa umum Filosofi Hindu tentang keheningan (Nyepi) sebagai upaya mendengarkan alam semesta. Para tetua Bali di masa lalu merumuskan keheningan secara awami dalam empat penyepian yang disebut sebagai catur bhrata panyepian atau empat keheningan.

    Pertama,  sepi dari hal-hal terang (amati geni). Dalam konteks awam amati geni dipahami sebagai tidak menyalakan lampu di malam hari. Kesunyian dari terang memungkinkan kita memusatkan pikiran untuk mencoba ‘masuk lebih jauh ke dalam diri’, memungkinkan ‘melihat samudra luas’ dalam akal budi, menuntun kita ke pintu masuk menuju diri sejati.

    Kedua, amati karya yakni mengheningkan diri dari semua kesibukan ragawi.  Selama setahun kita tak lepas dari tubuh-tubuh yang bergerak, panca indra yang terjaga sesuai fungsinya masing-masing, berpeluh lelah dalam pertarungan kerja, semuanya bergerak, bekerja, bergemuruh dalam diri. Saat Nyepi tiba, semua keriuhan tubuh dan pikiran itu menjadi senyap, sunyi dan hening. Inilah saat amati karya yang paling indah untuk merasakan kontraksi bagaimana seluruh diri yang selama ini begitu riuh bergerak  namun kemudian berhenti sama sekali. Ada kearifan leluhur yang menciptakan bahwa tubuh dan pikiran memerlukan ‘rasa’ hening, mengumpulakan kembali energi yang dikuras habis selama hampir setahun menuju ‘pemulihan yang kontemplatif’.

    Kediamdirian sehari penuh dalam keheningan ketiga yang disebut sebagai amati lelungan menggiring rohani mendapatkan suka cita batin. Selama setahun penuh batin jarang mendapat kesempatan untuk dirinya sendiri. Bercengkerama dengan batin, mendengarkan suara hati yang selama ini kita abaikan, merasakan kedamaian rohani lebih lekat, hanya mungkin dilakukan ketika kita mengosongkan diri dari langka-langkah bepergian. Kediamdirian adalah tapa bhrata kesunyian di mana yang ada ialah diri dan ‘diri sejati’.

    Bagaimanakah rasanya ketika hal-hal yang menyenangkan fisik dihentikan sehari? Inilah yang ditawarkan dalam keheningan amati lelanguan. Dalam keheningan lelanguan (hiburan), kita disarankan untuk lebih dekat dengan ‘hiburan yang paling sejati dalam diri kita’, yaitu nyanyian hati, nyanyian kesunyian, yang walaupun mungkin kita belum sampai pada tingkat ‘mendengarkan’ nyanyian hati atu kesunyian, setidaknya seluruh indra pada diri bisa diistirahatkan dari hiburan-hiburan hedonistik.

    Sesungguhnya menuju diri sejati adalah sebuah ‘perjuangan rohani’ umat manusia dalam mencapai kebahagiaan yang paling hakikat, kemurnian yang sungguh-sungguh transendental. Sering kali pula  jangankan upaya untuk menemukan diri sejati, bahkan untuk merekonstruksi ‘ruang sunyi’ dalam diri pun belum tentu mudah.

    Puncak dari semua iktiar suci dalam Nyepi adalah ketulusan untuk memohonkan dalam doa belas kasih Tuhan atas semua persoalan dunia ini. Kiranya umat Hindu di hari-hari suci ini memohonkan dalam dunia agar wabah yang kini mencekam kita segera berakhir. Demikian juga dengan ancaman bencana alam, persoalan sosial-ekonomi-politik dan aneka kemelut yang sering mendera bangsa kita akhir-akhir ini. Sebagai insan beriman, kita percaya, semua persoalan ini akan berakhir, tetapi kita perlu lebih tulus, rendah hati dan takjim memohon belas kasih Sang Pencipta.

     

    Selamat Hari Nyepi Saka 1942!

     

     

     

     

     

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.