Hanya Imbauan, Tidak Tepat untuk Masyarakat Indonesia dalam Situasi Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

tegas

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 26 Maret 2020 10:50 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hanya Imbauan, Tidak Tepat untuk Masyarakat Indonesia dalam Situasi Corona

    Harus ada ketegasan sikap dari Presiden terkait corona yang terus menjangkit.

    Dibaca : 542 kali

    Secara pribadi, saya mengucapkan turut berduka, semoga almarhumah Eyang Sujiatmi Notomiharjo, Ibunda Presiden Jokowi, khusnul khatimah. Aamiin. 

    Menyoal virus corona: 

    Benarkah kebijakan Presiden Jokowi tak me-lockdown Indonesia benar? Jawabnya benar, karena mempertimbangkan berbagai kondisi Indonesia yang berbeda dengan negara lain. 

    Bila dijawab salah, ya benar juga, sebab karena tidak tegas me-lockdown, apapun alasannya, korban terdampak virus terus bertambah secara signifikan. 

    Fakta yang kini sudah terjadi adalah karena tidak ada lockdown, maka beginilah Indonesia terkini, yang setiap hari masyarakat mendengar laporan perkembangan virus corona dari juru bicara pemerintah, yang tidak ada kata surut, corona terus merajalela dan terus menjangkiti rakyat. 

    Fakta, yang belum terbukti adalah, bila pemerintah atau Presiden Jokowi benar-benar mengintruksikan Indonesia di lockdown. Namun, di luar akibat yang akan terjadi, yang pasti akan signifikan dapat ditekannya penyebaran virus corona. 

    Menyikapi fakta yang kini sudah terjadi, korban terdampak virus terus bertambah, masyarakat masih tetap semaunya sendiri, tidak mengindahkan instruksi untuk berdiam diri di rumah. Masih banyak karyawan yang masih masuk bekerja. 

    Lalu, masyarakat yang mencari makan dari usaha sektor informal juga tetap beraktivitas seperti biasa, karena terpaksa. Terminal bus antar kota juga masih beroperasi. Bus-bus antar kota juga masih mengangkut penumpang yang mudik dan balik lagi antar kota. Juga moda transportasi lainnya.

    Bagaimana virus tidak semakin merajalela di Indonesia. Sementara, Presiden hanya berinstruksi, dan aksi langsung yang berdampak kepada rakyat masih minim dan terbatas, dan instruksi agar masyarakat tetap di rumah juga tak di gubris. 

    Mengapa masyarakat kita masih tak acuh, tak menggubris imbauan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota? Bahkan masyarakat juga tetap banyak yang mengungkap "hidup dan mati" sudah di atur Gusti Allah. 

    Maka, dalam situasi gawat dan darurat pun, masyarakat tetap terlihat abai akan bahaya virus corona yang terus memakan korban. Inilah masyarakat Indonesia. Mengapa? 

    Rendahnya kecerdasan emosi, kemiskinan, ketidakadilan, ketidaksejahteraan, ketimpangan sosial, terus menganga. Akibatnya, instruksi dan imbauan berdiam diri di rumah hanya menjadi kata-kata angin lalu. 

    Berbeda dengan masyarakat negara lain, karena situasi dan kondisi yang ada, pemimpin negerinya pun tegas mengambil keputusan me-lockdown. Lalu, apa yang terjadi? 

    Rakyatnya pun patuh. Sebab, sebagian besar masyarakatnya terdidik, cerdas emosi, telah merasakan keadilan, kesejahteraan, dan kondisi sosial ekonominya pun mumpuni. Jadi, hanya dengan instruksi lockdown, tanpa perlu teriak-teriak berurat syaraf, imbauan lembut saja maka cukup membuat rakyat patuh. 

    Bagaimana rakyat Indonesia? Sudah diimbau dengan halus, ternyata tak mempan, bukan? 

    Ada kisah yang pernah saya dengar langsung dari "suhu teater" saya bahwa, seorang wartawan senior, sampai hanya diam ketika tingkat marahnya sudah melebihi 100 persen alias marah sekali sebab oleh situasi dan kondisi. 

    Bersyukurnya beliau dikelilingi oleh lingkungan keluarga dan tempat tinggalnya yang sudah memahami tabiatya. Karenanya, keluarga dan lingkungannya akan segera paham, bila si wartawan ini sedang marah atau tidak marah. 

    Bila si wartawan masih marah dengan suara keras, maka dapat diidentifiaksi bahwa ia sedang marah tingkat rendah, karena orang yang dimarahi memang harus diketuk agar menyadari bahwa dia berbuat salah dan sedang kena marah. 

    Sebaliknya bila si wartawan sudah mendiamkan, artinya ia sudah marah sangat marah, dan keluarga dan lingkungannya pun menyadari ada yang salah, sehingga si wartawan sangat marah (mendiamkan, bukan ngambek). 

    Kisah si wartawan marah dengan suara keras ini, sungguh tepat bila dilakukan di lingkungan yang masyarakatnya masih rendah emosi dan tidak cerdas integensi dan personaliti. 

    Namun, sikap marah dengan diam, cocok diterapkan pada masyarakat yang cerdas emosi, cerdas intelegensi, dan cerdas personaliti. 

    Lalu, sikap model mana yang kini seharusnya diambil oleh Presiden Jokowi, bila kondisi masyarakat Indonesia akan terus begini, sementara korban terjangkit virus corona tak tambah reda? 

    Haruskah Bapak Presiden marah tingkat tinggi atau marah tingkat rendah? Sementara faktanya, masyarakat Indonesia memang harus dimarahi dengan cara tingkat rendah! Dibentak, diteriaki, alias di lockdown, dijaga tentara dan polisi? 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.