x

Keindahan Pulau Moyo saat senja di Sumbawa. TEMPO/Supriyantho Khafid

Iklan

vivian noor safira

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 April 2020

Kamis, 9 April 2020 06:09 WIB

Paradoks Nautical Tourism, Apakah Termasuk Sustainable Tourism?

Memahami nautical tourism sebagai bagian dari sustainable tourism adalah sesuatu yang masih diperdebatkan. Beberapa sumber literature mengatakan nautical tourism adalah bentuk baru bagian dari sustainable tourism, sumber lain mengatakan bentuk wisata ini belum bisa dikatakan sebagai bagian dari sustainable tourism. Yang benar, bagaimana?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Memahami nautical tourism sebagai bagian dari sustainable tourism adalah sesuatu yang masih diperdebatkan. Beberapa sumber literatur mengatakan nautical tourism adalah bentuk baru bagian dari sustainable tourism, sumber lain mengatakan bentuk wisata ini belum bisa dikatakan sebagai bagian dari sustainable tourism. Untuk memahaminya lebih lanjut, kita bedah terlebih dahulu apa yang dimaksud dari nautical tourism dan apa yang menjadi parameter sustainable tourism.

Nautical tourism atau cruise tourism atau pariwisata kapal pesiar adalah jenis wisata yang mengkombinasikan kegiatan sailing, cruiseing, atau boating dengan kegiatan wisata bahari, seperti: snorkeling, diving, island hopping, termasuk live on board, dan berbagai aktivitas kebeharian lainnya. Kehadiran operator kapal pesiar yang semakin banyak jumlahnya serta perkembangan jumlah penumpang menggambarkan bahwa industi ini akan dapat eksis seiring dengan perubahan paradigma manusia akan perjalanan sebagai suatu kebutuhan primer dan memberi manfaat bagi kehidupan mereka baik hanya sekedar pengalaman petualangan namun juga bermanfaat
sebagai sumber edukasi ( Eijgelaa,Eke et.al.2010).

Sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan adalah proses dan sistem pariwisata yang dapat menjamin keberlangsungan atau keberadaan sumber daya alam, kehidupan sosial-budaya dan ekonomi hingga generasi selanjutnya (Rina Kurniawati, MM., MBA (2012:41)). Pariwisata berkelanjutan ini mempunyai tiga pilar dasar yang menjadi pondasi dari terciptanya pariwisata berkelanjutan, yakni keberlanjutan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Keberlanjutan ekonomi, yang berarti menghasilkan kemakmuran di berbagai tingkatan masyarakat dan menangani efektivitas biaya semua kegiatan ekonomi.Keberlanjutan sosial, yang berarti menghormati hak asasi manusia dan equality bagi semua orang. Dalam mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan distribusi manfaat yang adil (terutama kebutuhan untuk memenuhi daily needs), dengan fokus pada pengentasan kemiskinan. Ada penekanan pada komunitas lokal, memelihara dan memperkuat sistem pendukung kehidupan mereka, mengenali dan menghormati budaya yang berbeda dan menghindari segala bentuk eksploitasi.

Terkahir, kelestarian lingkungan, yang berarti pelestarian dan pengelolaan sumber daya, terutama yang tidak terbarukan atau berharga dalam hal bantuan hidup. Dibutuhkan tindakan untuk meminimalkan polusi udara, tanah dan air, dan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan warisan alam. Pertanyaanya, apakah nautical tourism telah mengadopsi ke-tiga pilar dasar tersebut? Jika sudah, sejauh manakah ke-tiga pilar tersebut di aplikasikan?

Dalam aspek lingkungan, nautical tourism bisa saja menjadi wisata alternatif pengganti dari mass tourism yang biasa timbul di daerah pantai. Namun di sisi lain Johnson (2002 dalam Aguirre 2010) mengatakan ada suatu studi yang mengidentifikasi adanya dampak wisata kapal pesiar terhdap lingkungan yang dilakukan oleh British Airways di Seychelles: yaitu 1) adanya modifikasi terhadap lingkungan alam; hilangnya habitat alami, eksploitasi konstruksi oleh masyarakat lokal, 2) operasional terkait dengan penggunaan bahan bakar dan orang-orang yang kebetulan atau sengaja merusak ekosistem laut, 3) dampak yang berhubungan dengan pemindahan orang ke dan dari titik keberangkatan dan tujuan, sehingga meningkatkan penggunaan perjalanan udara. 4) dampak kegiatan rekreasi pada satwa liar seperti membuang sampah sembarangan dan aktivitas wisata yang memberi tekanan pada spesies yang terancam punah.

Dalam aspek ekonomi, tentu saja nautical tourism membuka lapangan kerja baru, bahkan dengan adanya jenis wiata ini, sekolah-sekolah dan program pelatihan kapal pesiar juga bermunculan. Hal tersebut tentu saja menguntungkan bagi angkatan kerja dan dapat mendorong perekonomian negara.

Namun perlu digaris bawahi juga, bahwa status kepemilkian bisnis kapal pesiar ini mayoritas masih dimilki oleh perusahaan asing. Lapangan kerja memang menjadi lebih bervariasi, namun—lagi—masyarakat Indonesia hanya turut andil dalam pekerjaan kasar, bagian manajerial dengan gaji yang jauh lebih layak tentu saja dikuasai oleh pihak asing.

Jika dilihat dari aspek sosial-budaya, nautical tourism memungkinkan adanya preservasi, hal tersebut dapat terwujud melalui aktivitas island hopping maupun live on board. Masyarakat lokal di pulau-pulau kecil mendapat kesempatan untuk mengenalkan kepada wisatawan bagaimana budaya mereka.

Namun kita juga perlu memperhatikan bahwa tingkat kepuasan pada suatu destinasi sangat tergantung pada pengalaman yang diterima oleh wisatawan (Mannel dan Kleber, 1997), perilaku masyarakat dan pengalaman harus dipahami sebagai pengaruh dari situasi sosial, karena kehadiran dan prilaku yang berbeda dari wisatawan. Seperti contoh dengan destinasi yang sangat kecil dengan adanya gelombang wisatawan yang besar, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat terutama kaitannya dengan penangananya. Juga akan terjadi polusi trasportasi dan kemacetan lalu lintas.(Aguirre,2010).

Dengan berbagai pertimbangan yang telah disebutkan, tampaknya nautical tourism belum bisa dikategorikan sebagai bagian dari sustainbale tourism sebab masih rendahnya tingkat pengaplikasian dari tiga pilar sustainable tourism. Dapat dilihat dari masih banyaknya dampak negatif yang timbul dari setiap aspek.

Namun bukan berarti menutup kemungkinan jenis wisata ini dapat menjadi bagian dari sustainable tourism, dengan memperbaiki sistem pengelolaan pada nautical tourism sesuai dengan parameter dari ke-tiga pilar tersebut. Nautical tourism masih memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari sustainable tourism.

 

Sumber:

Sudiarta, I. N. (2011). Cruise Tourism: Persaingan Image, Values Dan Branding Destinasi Wisata. Jurnal Ilmiah Hospitality Management2(1).

Lück, M. (2007). Nautical tourism development: opportunities and threats. Nautical tourism: concepts and issues. Cognizant Communication Corporation, New York.

Aldira, C., Wibowo, L. A., & Yuniawati, Y. (2014). Sustainable tourism di Pantai Kuta Bali Dalam persepsi wisatawan (survei terhadap wisatawan mancanegara {Australia, Cina dan Jepang} yang berkunjung Pantai Kuta Bali). THE Journal: Tourism and Hospitality Essentials Journal4(2), 793-810.

Chan, S., Aprilia, C., & Zainul, Z. R. (2018). Indonesian Marine Tourism: Developing a Favorable Tourism Destination to Attract International Sailors. Proceedings of AICS-Social Sciences8, 7-13.

Lukovic, T. (Ed.). (2013). Nautical tourism. Cabi.

https://travel.kompas.com/read/2019/12/14/220200327/bisnis-live-on-board-dikuasai-asing-jadi-tantangan-pebisnis-indonesia?page=all (diakses pada 7 April 2020)

http://www.nauticaltourism.com.au/nautical_tourism.html (diakses pada 7 April 2020)

Ikuti tulisan menarik vivian noor safira lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini