Desa Antisipasi Covid19 - Analisa - www.indonesiana.id
x

Penyemprotan tahap II di Desa Arjasa - Sukowono - JEMBER untuk semua Rumah warga

Maria Clara Bastiani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Oktober 2019

Rabu, 15 April 2020 13:17 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Desa Antisipasi Covid19

    Upaya menggerakan desa makin waspada terhadap penyebaran virus Covid19 dengan cara BERJARAK, Bersama Jaga Keluarga dan Anak

    Dibaca : 854 kali

     

    Wabah Covid-19 yang makin meluas di Indonesia dengan jumlah korban yang terus meningkat setiap harinya serta penularan yang begitu cepat, membutuhkan gerakan yang sangat masif. Kini lokasi penyebaran bukan hanya di kota tetapi juga sampai di desa-desa karena pergerakan orang yang masih leluasa.

    Walaupun sudah dihimbau untuk melakukan kegiatan di rumah, tidak membuat orang lantas berdiam di rumah saja. Sudah hampir satu bulan anak-anak tidak menikmati kegiatan di lembaga pendidikan dan turut merasakan dampak dari wabah ini. Karena masih diperlukannya upaya cepat dan tanggap mengatasi wabah ini di lingkungan sekitar, maka JARAK mengajak para anggota dan stakeholders lainnya, termasuk para kepala desa untuk ikut merespon situasi ini. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif JARAK, Achmad Marzuki mengawali diskusi daring dalam rangka Lauching Gerakan Bersama Jaga Keluarga dan Anak (#BERJARAK), Penanggulangan Covid19 Sampai ke Desa.

    Kegiatan yang dimoderatori oleh Misran Lubis selaku Kepala SEKNAS PAACLA Indonesia, menghadirkan tiga narasumber secara daring, yaitu Indra Gunawan selaku Deputi Partisipasi Masyarakat, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA),  dr. Tresye Widiastuty, selaku konsultan medis tim Gerakan #BERJARAK, dan Herman selaku Manajer Program #BERJARAK.

    Meskipun kegiatan ini dilakukan secara daring namun tidak mengurangi semangat dan antusias masyarakat untuk terlibat sebagai peserta diskusi. Hal ini dapat dilihat dari peserta yang mengikuti diskusi berjumlah 44 orang dari 11 provinsi dan 30 lembaga, terdiri atas anggota JARAK, OMS, sektor pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah.

    dr.Tresye Widiastuty dalam paparannya memberikan informasi tentang Covid-19 dengan jelas dan tidak menakut-nakuti. Apa itu virus Covid-19, mengenal gejala jika terkena virus tersebut, pola-pola pencegahan (social distancing dan physical distancing) dan menjaga imunitas, termasuk cara menangani jenazah yang positif Covid-19.

    Hal penting yang harus dilakukan publik dalam pencegahan penularan adalah membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS), dengan cara ini kita bisa menghalau virus, karena sifat virus yang hancur karena cuci tangan yang benar. Karena Covid19 ini sudah dinyatakan sebagai Pandemi oleh WHO, maka penting untuk mengikuti himbauan jaga jarak karena berarti penyebarannya yang cepat dan terjadi di seluruh dunia.  

    Semua informasi tentang Covid19 dibahas dan dijelaskan, supaya para peserta mampu meneruskan informasi dasar ini sampai tingkat komunitas dengan cara yang sederhana.  

    Narasumber lainnya, Indra Gunawan, menyampaikan gerakan yang yang dilakukan JARAK sangat sejalan dengan gerakan yang sudah diluncurkan Kementerian PPPA yang disebut BERJARAK (Bersama Jaga Keluarga Kita). Dengan 10 tip untuk melakukan gerakan BERJARAK, berusaha mengaktifkan beragam komunitas yang selama ini membantu dalam isu perlindungan perempuan dan anak. Apa saja 10 langkah yang bisa dilakukan, berikut intisarinya: tetap di rumah, memastikan hak perempuan dan anak terlindungi, alat pelindung diri (masker) tersedia, jaga diri, keluarga dan lingkungan, membuat tanda peringatan, jaga jarak fisik, mengawasi keluar masuk orang dan barang, menyebarkan informasi yang benar, aktivasi media online, rumah rujukan. Semua tips bisa dilakukan bersama komunitas dan membantu antisipasi Covid19 terjadi di wilayah desa.

    JARAK yang saat ini mendampingi 12 desa di wilayah NTB dan Jatim juga akan melakukan aksi nyata berupa: pembuatan media KIE, membantu alat pelindung diri bagi komunitas, membantu kebutuhan dasar dan mendukung himbauan pemerintah. Tidak hanya di 12 desa saja, gerakan BERJARAK akan melibatkan anggota JARAK yang berada di 10 provinsi untuk memperluas pemahaman di tingkat komunitas dan membantu pemutusan mata rantai penyebaran Covid19 lebih masif. 

    Diskusi yang sangat menarik dan padat juga membahas pertanyaan-pertanyaan peserta yang ingin lebih tahu lebih jauh tentang Covid-19 maupun konsep gerakan #BERJARAK itu sendiri. Bahkan peserta juga menanyakan berbagai mitos-mitos dan isu sensitif yang beredar di masyarakat dan media sosial terkait isu Covid-19

    Misalnya peserta dari Dinas PPPA Sumatera Utara, Supriadi menanyakan, “Apakah seorang ODP dapat menularkan virus?”. Pertanyaan lain misalnya dari Yayasan Santai Lombok, Atik, menanyakan tentang konsep BERJARAK KPPPA terkait Rumah Rujukan, “Bagaimana sinerginya dengan gugus tugas Covid-19 yang sudah terbentuk sampai tingkat desa?”.

    Dengan penjelasan yang lengkap dari pada narasumber tentang kontek medis oleh dr.Tresye, dan konsep sinergi BERJARAK oleh Indra Gunawan dan Achmad Marzuki, peserta makin paham tentang berbagai kebijakan dan himbauan dari pemerintah terkait #stayathome, #ayopakaimasker, #jagajarak, #cucitanganpakaisabun, dan anjuran lainnya untuk memutus rantai penularan Covid-19.

    Agar gerakan BERJARAK ini efektif dan cepat, KPPPA mengintensifkan komunikai dengan menggunakan beragam jaringan, diantaranya Kader Forum Anak di setiap kabupaten, Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PATBM) di setiap kabupaten, Kader PUSPA dan PUSPAGA (organisasi masyarakat sipil, keagamaan, dunia usaha, media, akademisi), Tim P2TP2A di setiap kabupaten dan Mitra Pembangunan.

    Semakin banyak orang yang paham tentu dapat menjadi langkah efektif dan cepat meneruskan edukasi pencegahan Covid-19 di masyarakat, karena virus tidak bisa berpindah, kecuali dipindahkan, itulah sebabnya penting mematuhi social distancing dan physical distancing dan menggunakan masker saat keluar rumah, tutur dr. Tresye sebagai penutup diskusi daring. Dengan pemilihan media yang tepat sesuai kebutuhan komunitas, informasi yang jelas dan benar bisa diteruskan sampai ke desa, hal ini akan menjadi perhatian dari JARAK dalam proses penyebaran KIE nantinya, imbuh Achmad Marzuki di penghujung diskusi.

    Isu lain yang menjadi perhatian peserta adalah bagaimana memastikan hak anak juga terpenuhi selama melakukan kegiatan di rumah. Arti friendly/ ramah yang selama ini menjadi menjadi tujuan bersama, juga perlu dilakukan dalam rumah dan dibarengi dengan pemahaman dari orang tua dan komunitas untuk bisa memahami Hak Anak seperti kebutuhan anak untuk bermain, memperoleh pendidikan, menerima informasi yang tepat tentang Covid-19 dan memberikan perlindungan bagi anak-anak.

    Gerakan BERJARAK yang praktis bisa dilakukan, saat ini. Sudah saatnya semua pihak menerapkan PHBS, mengikuti protokol kesehatan dan himbauan pemerintah (social distancing dan physical distancing), melakukan aksi nyata di tingkat komunitas untuk memastikan langkah memutus rantai penyebaran dilakukan dan menciptakan “rumah yang aman dan ramah bagi keluarga.”

    Jakarta, 14 April 2020

    JARAK- Seknas PAACLA Indonesia



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.