Nadiem dan Hardiknas Kekinian - Analisis - www.indonesiana.id
x

Budi Susanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Sabtu, 2 Mei 2020 13:23 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nadiem dan Hardiknas Kekinian


    Dibaca : 1.292 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020.

    Selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei. Waktu yang diambil dari momentum kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Bapak Pendidikan di Indonesia. Pencetus lembaga pendidkkan hebat Taman Siswa. Tokoh bangsa yang konsisten memperjuangkan kemajuan pendidikan nasional.

    Kembali ke situasi sekarang. Kebetulan Hardiknas tahun 2020 diperingati saat masanya Mendikbud Nadiem Makarim. Sudah layakkah diucapkan 'selamat'? Biasanya ucapan 'selamat' disampaikan ke sesuatu hal yang telah dianggap berhasil atau sukses.

    Tapi Nadiem baru menjabat belum juga setahun --sejak dilantik Oktober 2019 oleh Presiden Jokowi? Apa sudah sukses, berhasil, memajukan pendidikan Indonesia?

    Soal seperti itu bakal penuh dengan perdebatan. Pasti akan ada adu argumentasi --entah dengan data atau tidak.

    Kalau begitu: mari sampaikan 'selamat' Hardiknas tahun 2020 ke Nadiem dari sudut pandang lain.

    Sah-sah saja begitu.

    Selamat karena Hardiknas tahun ini, Nadiem mampu menorehkan gebrakan.

    Gebrakan yang selama ini cuma jadi 'pemanis' argumentasi dan pendapat.

    Merdeka Belajar: itu gebrakan Nadiem.

    Merdeka Belajar itu yang jadi isi Hardiknas tahun 2020.

    Merdeka Belajar: selama belasan atau puluhan tahun hanya jadi wacana. Tentang skema pendidikan di Indonesia.

    Saat Nadiem datang, Merdeka Belajar adalah realisasi. Arah pendidikan Indonesia yang baru. Perubahan dari cara usang ke sesuai kemajuan zaman.

    Murid yang bernalar dan sadar potensi dirinya. Sekolah yang dinamis, tidak terkekang dengan aturan baku. Sekolah berhak menyelenggarkan kegatan belajar-mengajar sesuai kebutuhan untuk muridnya.

    Lalu Guru yang dilepaskan oleh Nadiem dari jerat kewajiban mengerjakan tugas administratif dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berpuluh lembar. Oleh Nadiem; Guru fokus saja mengajar. Mencerdaskan anak bangsa.

    RPP tidak lagi puluhan lembar. Cukup inti apa yang akan Guru lakukan dalam kegiatan belajar-mengajar ke muridnya --sangat sedikit lembarannya.

    Dan ini yang paling heboh, menidakaan lagi Ujian Nasional (UN)! Yang selama ini jadi beban kelulusan murid. Padahal sudah tak relevan. Yang selama ini UN cuma jadi materi debat saja di forum, di media dan pendapat para pegiat pendidikan. Banyak orang tepuk tangan atas keputusan Nadiem meniadakan lagi UN.

    Semua itu bagian dari Merdeka Belajar yang diusung Nadiem. Pembaruan skema untuk gaya pendidikan nasional. Meruntuhkan dogma masa lalu dan sistem pendidikan 'kuno'. Agar pendidikan Indonesia tidak begitu-begitu saja setiap tahun. Padahal harus juga menyesuaikan dengan semangat zaman.

    Nadiem bisa meletakkan fondasi perubahan skema pendidikan. Tinggal menerapkannya saja sehingga benar-benar terbarukan pendidikan Indonesia. PR Nadiem memang masih banyak. Hardiknas pada tahun selanjutnya juga bakal diperingati lagi.

    Ucapan 'selamat' pun pasti disampaikan lagi: bagaimana capaian yang ada. Pasti juga ada evaluasi. Namun saat ini, Merdeka Belajar bisa jadi penghantar untuk mengucapkan selamat Hardiknas tahun 2020

    Ikuti tulisan menarik Budi Susanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.