Rencana yang Sia-sia (Cerpen) - Analisis - www.indonesiana.id
x

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 11 Mei 2020 10:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rencana yang Sia-sia (Cerpen)


    Dibaca : 984 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Awalul Akbar Rizqi G, Siswa kelas V SD Ar Roja’ Kisaran

    Pada hari Selasa kemarin, saat selesai upacara pagi di sekolah, bapak kepala sekolah mengumumkan kalau anak-anak kelas lima akan outing class ke kebun binatang.  Dedi, Dona, Danu, Ratih dan Nanang yang tinggal satu desa sangat senang sekali. Mereka belum pernah pergi ke kebun binatang.

    Setelah mendapatkan surat dari sekolah untuk disampaikan kepada orang tua di rumah, yang memberitahukan bahwa mereka akan barangkat pada hari Minggu subuh. Siangnya mereka berkumpul di rumah Dona. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan di kebun binatang.

    “Di kebun binatang nanti aku mau berfoto dengan gajah. Dan fotonya akan kutempel di ruang tamu. Biar orang tahu kalau aku sudah bertemu gajah,” kata Danu kepada teman-temannya sambil bergaya yang akan ia tampilkan saat berfoto bersama gajah. Teman-temannya tertawa.

    “Kalau aku mau melihat unta. Kalau bisa di fotokan juga. Tapi aku tidak punya kamera. Nanti tolong kau fotokan aku ya  Danu?” kata Dedi sambil bertanya kepada Danu.

    “Boleh-boleh, tapi kau bayar nanti ya,” jawab Danu. Semua tertawa.

    “Aku mau foto sama semua binatanglah. Nanti aku minta dibawakan HP sama mamak aku. Jadi puas mau foto-fotonya,” Kata Ratih yang memang anak orang kaya yang juga disambut gelak tawa senang.

    “Ah, kalau aku mau bawa makanan yang banyak. Aku takut nanti ga ada orang jualan. Aku bisa kelaparan,” kata Dona yang memang bertubuh gemuk karena selalu membawa makanan kemanapun.

    “Aku minta nanti ya Don?” tanya Dedi.

    “Tenang aja, kalian semua aku bagilah. Tapi nanti jangan tinggalin aku ya.” Jawab Dona yang juga disambut  gelak tawa.

    Tinggal Nanang yang belum menyampaikan rencananya.

    Semua teman-temannya terdiam menunggu. Tapi Nanang tetap diam saja.

    “Kau kenapa Nang?” tanya Danu.

    “Apa kau tidak mau difoto?,” tanya Dedi juga.

    Nanang yang semula diam tiba-tiba menangis.

    “Loh kau kenapa? kok malah menangis?” tanya Dona semakin heran.

    “Aku mau difoto. Aku juga mau makanan yang banyak. Tapi aku nggak bisa ikut. Soalnya aku muntah kalau naik bus,” jawab Nanang sambil terus menangis.

    “Sudah jangan menangis. Nanti aku mintakan obat sama mamakku. Biar kau tidak muntah naik busnya,” Kata Danu kemudian dan disambut gelak tawa semuanya. Karena mereka pasti akan berangkat semua.

    Mereka menunggu hari itu. Bila bertemu selalu membicarakan rencana-rencana mereka.

    Pada saat hari yang ditunggu tiba, tapi mereka mendapat kabar dari sekolah bahwa pergi ke kebun binatang tidak jadi. Kerena ada sebuah virus yang menyebar di desa mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.